Contoh Nyata Kunci Sukses Mendidik


Contoh Nyata Kunci Sukses Mendidik

(Nemu tulisan lamaku di Kompasiana, 5 january 2011. masih keren)

OPINI | 05 January 2011 | 13:53 Dibaca: 553    Komentar: 8    2

Dunia sekarang ini sangat kejam, tidak cukup aman bagi anak-anak dan generasi muda. Tak hanya kejahatan yang secara fisik merugikan seperti kekerasan, penculikan, pembunuhan, maupun pemerasan, namun kejahatan yang terselubung seperti berkembangnya gambar atau video porno.  Internet menjadi salah satu ancaman yang mengerikan bagi sebagian besar orang tua. Tak harus menyalahkan merebaknya warung-warung internet, mudahnya mengakses internet di berbagai lokasi publik yang menyediakan hot spot, namun HP dengan berbagai fasilitas memudahkan anak-anak mengakses situs-situs yang tak laya. Apakah itu hanya semacam video porno? Tentu tidak. Ada banyak kekerasan, sadisme, tindakan lain semacam korupsi, pencurian, penipuan, dan berbagai tindak kejahatan (bahkan dalam ranah hukum dan politik) yang seringkali secara vulgar memaparkan kenyataan pada anak-anak bahwa pelakunya justru berjaya, kaya, dan tidak mendapat hukuman atau sanksi sebagaimana yang dipelajari anak di sekolah dan buku-buku teori.

Maka, semakin jauhlah jarak antara teori, norma, dan dogma agama yang disucikan dengan praktik kehidupan.

Bagi orang tua, termasuk juga guru kondisi jaman sekarang ini sangat mengerikan. Bagaimana tidak? Di tengah-tengah beratnya beban hidup yang harus dijalani (baca: kebutuhan pokok meningkat, apalagi kebutuhan skunder dan tersier yang termasuk mewah), bahkan sekolah yang digaung-gaungkan gratis pun, ah…. ternyata hanya manis dibaca dan didengar. Rasanya, masam, bikin orang tua mringis saat menelan kenyataan. Dalam kondisi seperti inilah dewasa ini anak-anak dibesarkan.

Mereka anak-anak kita seringkali dihadapkan pada kenyataan harus menghadapi kerasnya hidup sendirian. Bayangkan: betapa banyak waktu kita sediakan untuk mendampingi mereka? Saat mereka di sekolah, kita hanya bisa berpasrah sepenuhnya, percaya pada guru dan pihak sekolah. Sepulang sekolah, saat mereka main, bergaul dengan teman, termasuk mengikuti berbagai les, kita hanya bisa pasrah dan percaya bahwa anak-anak kita benar-benar melakukan aktivitas itu benar-benar.

Sebagai orang tua, tak aneh bila  kekhawatiran itu berubah menjadi kengerian itu berdentam-dentam di dada kita.

Beberapa kali ketika berdiskusi atau sekedar ngobrol dengan teman-teman guru, saya mendengar kenyataan mengerikan tentang anak-anak kita. Barangkali bila kita tak melihat sendiri atau mendengar langsung, keprihatinan kita tak terlalu dalam. Saya akan coba paparkan beberapa fakta yang pernah saya temui dan saya dengar sendiri.

Seorang anak SD kelas VI, anaknya temannya saya yang tadinya dibekali HP saat sekolah agar mudah berkomunikasi dengan orang tuanya, sekarang tidak berani bawa HP. Apa pasal? Salah seorang adik kelasnya yang baru kelas IV diketahui menyimpan video porno di HP-nya. Setelah diusut si anakmengaku mengakses sendiri melalui HP-nya. Bayangkan….anakkelas IV SDyang seharusnya masih lugu dan polos sudah menyimak dan menikmati sajian seperti itu.

Ada pula seorang anak SMA yang melaporkan mantan pacarnya dengan tuduhan diperkosa. Setelah diusut, diketahui bahwa perbuatan amoral itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Mau tahu alasannya? Karena si gadis tak mau diputus oleh si cowok. Alasannya, si gadis mengaku mendapatkan kepuasan bercinta dari sang cowok ini melebihi kepuasan yang diperoleh dari pacar-pacarnya terdahulu. Ini artinya, si gadis yang masih duduk di kelas XI SMA ini sudah kecanduan. Betapa ngerinya saya, ketika suatu hari di sebuah pusat perbelanjaan saya melihat beberapa orang anak lelaki masih berseragam SD (usia mereka berkisar 9 atau 10 tahun) sedang tertawa-tawa sambil memegang tabloid yang bergambar perempuan dalam pakaian  minim yang vulgar (atau sebut sajalah setengah telanjang). Tanda-tanda apa ini?

Ada juga bahkan banyak anak-anak SMP dan SMA yang kecanduan internet, terutama bermain game. Banyak orang tua yang mengeluh anak-anaknya malas sekolah karena mereka mengaku mampu mendapatkan uang dari internet. Entah bagaimana caranya? Berjualan atau menawarkan jasa? Ataudenganmain game semacam Poker. (Hehehe jujur soal permainan poker yang benar-benar bisa mendapatkan uang ini baru saya ketahui tiga hari yang lalu dari teman chat di YM.) Nah, bayangkan, saya yang sangat intens memanfaatkan internet saja tak paham, apalagi para orang tua yang sama sekali tidak pernah menyentuh internet.

Masing-masing kita tentu memiliki pengalaman yang berbeda terkait masalah kenakalan anak atau perilaku menyimpang mereka. Dunia saat ini sungguh benar-benar tidak lagi menjamin keselamatan anak dari berbagai pengaruh perilaku amoral, asusila, bahkan tindak kriminal. Internet menyajikan berbagai informasi baik yang positifdan negatif. Orang tua dan guru bisa saja melakukan razia HP siswa untuk merazia foto/video porno. Namun, dalam hitungan detik, mereka akan kembali dengan mudah mengaksesnya. Polisi bisa saja merazia warnet, tempat persewaan VCD/games untuk menekan peredaran video porno, namun penyedia jasalayanan ini akan bermunculan lagi seperti jamur di musim hujan. Pemerintah bisa saja membreidel majalah yang menampilkan gambar-gambar vulgar, namun jumlah yang breidel tak seimbang dengan jumlah media sejenis yang terus bermunculan bahkan lebih berani dan menantang.

Lingkungan menjadi sebuah sekolah alam yang luar biasa bebas, tanpa manajemen kurikulum, tanpa manajemen tenaga pendidik, dengan kesempatan langsung mempraktikkan hasil belajar sebebas-bebasnya. Bila dicermati lebih dalam, maka lingkungan benar-benar menjadi sekolah yang luar biasa.Tak hanya hal-hal yang positif, tetapi hal-hal yang negatif pun begitu mudah dipajankan dan diserap oleh anak-anak kita. Di sisi lain, sebagai orang tua, kita tak memiliki waktu dan kesempatan untuk selalu mendampingi mereka.

Haruskah Kita Kebiri Kebebasan Anak?

Apakah berarti kita harus memenjarakan anak-anak kita agar tak terjerumus pada pergaulan bebas? Apakah itu berarti kita harus bersikap dan bertindak keras dengan melarang anak-anak kita menggunakan internet? Mungkinkah?

Betapa berat menjadi orang tua dewasa ini…..Apa berarti kita kemudian harus pasrah, diam, dan tidak bersegera mengulur tangan untuk membantu anak-anak kita?

Tentu semua itu tak adil bagi mereka. Mereka membutuhkan internet untuk mendapatkan banyak bahan belajar, berinteraksi dengan teman-temannya, dan lain-lainnya yang positif. Mereka juga butuh berinteraksi dengan lingkungannya agar bisa belajar hidup bersosialisasi dalam kehidupan nyata. Dari lingkungan mereka dapat belajar segala hal.

Itu artinya, kita tak mungkin mengebiri kebebasan anak dengan menerapkan berbagai aturan ketat semisalanak tidak boleh pulang sekolah terlambat, tidak boleh bergaul dengan si A atau si B, tidak boleh bermain ke sana atau ke sini, tidak boleh membuka situs A atau B, dan sebagainya. Semakin dikekang mereka, semakin dipagari dengan berbagai larangan, semakin besar keinginan mereka untuk melakukannya, untuk melanggarnya.  Mengapa? Keinginan anak-anak seperti aliran air. Semakin dibendung, dia akan semakin kuat mengerahkan kekuatannya untuk menjebol bendungan itu. Kecuali, konstruksi bendungan itu benar-benar tepat dan kuat.

Membangun Dinding Anak

Jaman sudah berubah. Dahulu, semasa kita masih kecil orang tua mendidik kita dengan norma-norma agama dan norma sosial budaya yang kuat.  Hanya dengan mengatakan, “Jangan membantah nasihat orang tua. Allah akan murka dan kalian bisa kualat,”, kita langsung menurut. Contoh lain, soal etika, orang-orang tua kita mengajarkan agar kita tidak duduk di pintu atau di tengah jalan karena hal itu akan menghambat jodoh yang akan datang. Meski bertanya-tanya dan kurang percaya, saat itu kita diam dan mematuhinya. Ada banyak alasan mungkin saja kita mempercayainya begitu saja atau kita menaati nasihat orang tua. Kita tak beranimelanggarnya bukan karena takut jodoh kita menjadi terhambat, namun kita takut akan kualat. Meski banyak juga di antara kita yang mungkin dulu berani melawan orang tua, tapi bentuk dan tingkat perlawananannya  sangat berbeda,demikian pun kenakalan-kenakalannya.

Perubahan jaman, bentuk dan tingkat kenakalan anak yang berbeda ini pun harus disikapi dengan cara berbeda. Istilahnya, saat ini mengajarkan anak-anak tentang dosa dan pahala, surga dan neraka, sesuai adat dan budaya atau bertentangan, nyaris tidak laku. Bagi sebagian anak semua ajaran itu menjadi semacam dogma, teori yang hanya layak dipelajari. Mereka menyimak saat diajari di sekolah, mempelajari, menghafalnya, namun hanya sedikit yang menerapkannya.

Dalam kondisi seperti ini orang tua dan guru harus berani berevolusi dalam mendidik dan bersikap pada anak. Berikut ini ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan bahan masukan untuk membangun dinding anak.Namundalam tulisan ini saya hanya akan membahas dua alternatif yaitu fullday shool/boarding school dan rumah sebagai sekolah.

Fullday school/ boarding school

Sekolah yang menyediakan kegiatan pembelajaran dari pagi hingga sore atau sekolah bergaya pesantren/asrama seringkali menjadi pilihan orang tua. Dengan memasukkan anak-anak di sekolah yang memberikan banyak kegiatan terbimbing, tidak hanya belajar, namun juga bermain dan berkreasi, mendalami ilmu agama, berkreatifitas di bidang seni, orang tua merasa lebih aman karena dapat meminimlakan waktu senggang anak-anak untuk beraktifitas/berinteraksi dengan hal-hal negatif. Sayangnya, alternatif ini tak bisa dipilih oleh semua orang tua.Hanya kalangan menengah ke bawah yang bisa memilih alternatifini. Sebab sekolah dengan sistem fullday atau boarding ini umumnya mahal. Maklum, penyediaan fasilitas dan SDM guru/pengelolanya juga besar. Pun demikian, tidaklah boleh dicerca karena dianggap menjadikan sekolah mahal.

Kenapa? Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah investasi. Bila kita menginginkan hasilyang bagus, seharusnyalah investasi yang kita keluarkan juga besar. Untuk itu berhati-hatilah memilih sekolah sistem ini. Jangan sampai salah pilih hanya karena namanya, entah itu memasang label fullday school atau boarding school. Bahkan,kita pun harus sangat hati-hati memilih sekolah untuk anak-anak kita. Jangan hanya karena label SBI (standar nasional) atau fullday dan boarding school kita langsung percaya. Cara yang paling aman adalah dengan mencari informasi dari sumber terpercaya terutama orang tua yang telah menyekolahkan anak-anak kita di sana.

Sekolah model ini yang baik tidak hanya membebani anak dengan berbagai muatan akademis, namun juga rekreatif dan produktif. Orang tua tidak lagi dibebani rasa cemas terhadap waktu luang anak sebab di sekolah mereka bermain dalam pantauan guru. Mereka bisa bermain game, berselancar ke internet, bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya dalam suasana dan lingkungan yang kondusif dan edukatif.

Ciptakan Rumah sebagai Lingkungan Pembelajaran

Belajar tidak harus di sekolah. Rumah kita adalah sebuah sekolah yang luar biasa. Ciptakan segala yang kita lakukan sebagai sebuah proses pembelajaran dimana setiap orang menjadi guru bagi yang lainnya. Bapak dan ibu menjadi model contoh terbaik. Misal, bila kita mengajarkan pada anak untuk selalu menjalankan salat lima waktu, maka mulailah dengan menjalankan secara tertib dan disiplin. Begitu adzan berkumandang, bersegera ambil air wudlu.Ajak anak-anak melakukannya. Jangan hanya memerintah. Beri contoh nyata.

Kita menekankan pada anak pentingnya membiasakan budaya membaca, kita pun harus memberi contoh nyata. Sediakan bahan bacaan yang baik dan sesuai dengan tingkat pertumbuhan mereka. Sesekali ajak mereka mendiskusikan apa yang telah mereka baca. Bila perlu, jadikan buku sebagai pilihan hadiah bila mereka meraih prestasi atau telah melakukan hal yang positif.

Terkait dengan internet, bila ada dana, penyediaan sarana ini di rumah juga akan berdampak positif.Mengapa?  Internet pada masa sekarang telah menjadi media dan sumber pembelajaran yang sangat penting bagi anak. Membiarkan anak mengakses internet di luar tentu lebih berisiko dibandingkan dengan menyediakannya di rumah. Dengan demikian, kita bisa mendampingi dan melakukan proteksi, bahkan kita pun bisa melacak situs-situs apa yang dibuka atau diakses anak.

Di sinilah kita temukan konsep “Baiti, madrasati”, rumahku sekolahku. Dalam ilmu psikologi, rumah bahkan dikenal sebagai sekolah pertama bagi anak. Di rumah jugalah kita dapat menanamkan konsep-konsep kebaikan lengkap dengan contoh praktik nyata dan langsung. Itu berarti dibutuhkan keteladan terutama dari kita sendiri.

Namun, konsep ini takkan membuahkan hasil bila kita sebagai orang tua tak mau memulai dari diri kita sendiri. Ubah dan jadikan diri kita figur yang layak dicontoh. Tidak sekedar berteori dan memerintah.Ini juga hal yang selayaknya dilakukan oleh para guru dan pemimpin negeri ini. Contoh nyata. Tak hanya berteriak-teriak!

Jangan lupa untuk selalu mendoakan agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Selamat berjihad!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s