Ada yang Lain di Hati, Salahkah?


Seorang teman curhat pada saya. Ia mengaku sedang sangat terobsesi pada seorang temannya. Obsesi yang membuat semangat hidupnya tiba-tiba menjadi lebih bergairah.

“Aku merasa seperti sepuluh tahun lebih muda.  Angan-angan dan rencana-rencana untuk meraih hal-hal baru dan kesuksesan tiba-tiba bermunculan.”

So, what? tanyaku dalam tak mengerti.

“Masalahnya, aku tak bisa menahan diri,” jawabnya seperti memahami pertanyaanku yang tak terucapkan. “Aku mengatakan seluruh kekagumanku, obsesiku, bahkan rinduku padanya,” ceritanya lagi.

Ha…? Aku ternganga. Tak bisa berkomentar untuk beberapa saat. Gila juga perempuan di depanku ini, sahabatku sejak masih kuliah ini, sedang berada dalam kegilaan besar. Padahal, apa yang kurang darinya. Ia telah dikaruniai seorang suami yang tampan, mapan secara sosial,  ekonomi, serta punya dua anak yang sehat dan pintar-pintar. Aku sendiri suka iri padanya. Uft, tentu saja aku takkan mengakui keirianku ini padanya. Aku kan tak segila dia.

“Is…,” panggilnya mengagetkanku.

“Ya, maaf aku tak habis pikir bagaimana kamu sanggup melakukannya? Kau bermasalah sama Fuad? “

Dia hanya menggeleng lemah, tarik nafas panjang lalu membuka kedua tangannya,  dan seakan tak mau banyak berpikir panjang, dia tersenyum.

“Is, Tuhan memang hanya menciptakan 1 hati untuk setiap hamba-Nya. Tetapi keagungan-Nya yang tak berbatas membuat hati sedemikian luar biasa. Dengan satu hati seorang perempuan bisa mencintai suaminya 100%, anak-anaknya, entah berapa pun jumlahnya, masing-masing ia cintai 100%. Jikalau seorang perempuan mengaku mengagumi bahkan mencintai laki-laki lain, meski mungkin tak sampai 100%, apakah kau masih meragukannya?”

“Ampun, Riiiiiiiim! Kenapa sih kamu gak bisa mbedain dunia khayalmu dengan dunia nyatamu,” sahutku setengah berteriak ketika dia menyampaikan argumennya.

Ya, semua tahu Rima seorang penyair. Imajinasinya kadang terlalu liar.  Kadang bahkan ia tak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataannya. Tapi begitulah dia. Dia bisa membuat seseorang setolol atau sehina apa pun menjadi sangat hebat dan menawan ketika ia mulai mengagumi sosok tersebut dan menuliskan kekagumannya dalam puisi-puisinya. Sejujurnya, puisi-puisinya itu lebay dan apa ya… seperti puisi-puisi anak muda. Namun, dengan kepiawaiannya memilih diksi dan metafor yang bagus, siapa pun yang membaca puisinya akan mengaguminya. Dan aku, diam-diam, adalah pengagumnya.

“Kau tahu Is, setiap pagi aku selalu merindukan sapaannya dari SMS atau BBM. Kadang-kadang aku saat menunggu itu aku merasa sedang menunggunya di depan pintu kamarnya. Melas banget, Is,” suaranya mendadak serak.

Ah…. sentimentil banget, komentarku tentu dalam hati.

“Dan dia selalu kirim SMS dan BBM?”

“Iya, meski seringnya hanya dua kata, Selamat pagi.”

Rasanya mau tertawa aku, Tapi tak mungkin kulakukan. Hanya untuk menunggu dua kata yang siapa pun dapat dengan ikhlas melakukannya, ia sampai sebegitunya? Oh lalala. Rima, sahabatku, perempuan cerdas yang selalu ceria ini, ibu muda yang sukses dalam karier dan sangat disungkani banyak orang, ternyata selemah ini.

“Rim, sadar dong. Kamu gak seperti itu.”

Rima menggeleng lemah. Aku tambah bingung. Aneh saja melihat sahabatku yang biasanya berdiri tegak di atas panggung atau podium dengan suaranya yang membuat siapa pun akan selalu setia menyimak tiap kata-katanya sejak salam pembuka sampai salam terakhir itu menjadi sosok yang berbeda. Walah, jangan-jangan dia sedang mengalami sindrom puber kedua.

“Tadi kamu bilang sudah mengakui semua padanya?” tanyaku meyakinkan diri.

Rima hanya mengangguk.

“Terus apa komentarnya?”

” Dia hanya memintaku agar aku pandai bersyukur.”

Oh… ya, kuyakin siapa pun lelaki yang demikian dipuja dan digandrungi Rima pasti lelaki berkepribadian menawan. Tak hanya tidak menanggapi kegilaan Rima, ia memberikan saran dengan cara yang luar biasa cerdas. Ya, aku setuju dengan lelaki pujaannya itu. Sebagai seorang istri, Rima telah mendapatkan segalanya dari Fuad, suaminya dan dari kedua anaknya. Kurasa siapa pun setuju tak ada yang kurang pada diri Rima.

“Apa yang sebenarnya kau cari, Rim?”

“Entahlah….. Terkadang aku merindukan sosok seorang laki-laki yang seusia ayahku. Aku merindukan sosok laki-laki yang mampu memberiku nasihat, memarahi aku bila aku berbuat salah. Dan… pengin saja dimanjakan. Fuad memang hebat. Dia membuatku mandiri, memberiku kebebasan untuk maju. Ya barangkali ia memandangku terlalu mandiri malah, hingga aku nyaris kehilangan kesempatan untuk bermanja dan bergantung padanya.”

Ya perempuan,. Siapa pun adanya seorang perempuan pasti suka dimanja. Tetapi berharap dimanja dari lelaki lain, bukan kekasih atau suaminya, tentu harapan yang gila.

“Gimana ya Rim? Aku bingung. Gak bisa kasih saran. Bukannya biasanya aku yang minta saran ke kamu, kenapa hari ini justru kamu yang minta saran padaku?”

“Ya… sekali-kali ganti posisi dong. kali ini aku beneran serius,” katanya sambil menyeruput segelas capuccino yang sudah mulai mendingin.

Kurasa Rima benar. Harusnya kali ini aku ganti membantunya. Selama ini dia menjadi orang pertama tempatku mengadu terutama saat aku sedang bermasalah dengan suamiku. Advisenya selalu lebih keren ketimbang advise ustad atau ustadzah. Walah… jadi sadar aku, bukankah Rima juga seorang ustadzah? Dia sering mengisi acara pengajian di pertemuan ibu-ibu di lingkungannya bahkan di kantornya? Dia juga beberapa kali menulis artikel keagamaan.

“Rim… kamu sadar telah melakukan kesalahan?” tanyaku lembut.

“Salah? Dosa maksudmu?”

Aku hanya mengangguk.

“Kalau orang lain yang curhat, aku pasti akan langsung dengan tegas mengatakan, Itu dosa! Apalagi sebelum aku mengalaminya. Tapi, ketika aku sendiri yang mengalaminya, gimana ya Is? menurutku, perasaan sayangku padanya, kekagumanku itu terlalu besar, terlalu indah. Rasanya setiap pagi aku menjadi lebih bahagia. Dan aku tidak pernah merasa berkhianat pada Fuad. Cintaku padanya tetap utuh, tak tersentuh.”

“Kok bisa gitu?”

“Aku mengaguminya dari sudut pandang yang berbeda dari caraku mencintai Fuad. Aku mengaguminya pada hal apa yang tidak dimiliki Fuad.”

“Embuh wes. Nyerah aku Rim.” Akhirnya aku ngaku kalah. Nggak bisa lagi mengalahkan debat dengannya. Aku yang jago bicara pun pasti bakalan kalah kalau harus berhadapan dengan Rima. “Terus rencanamu apa?”

“Aku hanya ingin dia menerima rasa sayang dan kagumku. Mengizinkanku suatu saat menatap teduh matanya itu, menikmati hangat senyumnya yang selalu dengan murah ia bagi dari kedua bibir indahnya itu. Aduh Is…. dia… dia terlalu perfect. Sayang aku telat mengenalnya. Andai saja…”

“Riiiiiiiim, sadaaaaaar!” teriakku dalam hati tentu. Aku tahu kini, sahabatku bener-bener sedang kena sindrom puber kedua, nandang wuyung. Sudahlah, terserah dia. Aku rasa dia sudah sangat dewasa di usianya yang ke-32 tahun. Dia tahu apa yang baik bagi dirinya juga keluarganya.

“Kamu akan menghancurkan keluargamu dan keluarganya, Rim.”

“Nggak. Aku hanya ingin merasakan ciumannya, sekali saja. Itu sudah cukup.”

Sinting, pikirku. Untunglah, ringtone HP ku berbunyi. Suamiku menelpon.

“Ya, Mas. Aku pulang sekarang,” kataku sengaja bersuara keras menjawab telpon suamiku agar Rima mendengarnya.

“Maaf, Rim. Papanya anak-anak memintaku pulang sekarang,” pamitku pada Rima.

“Tapi Is… kamu belum memberiku solusi,” protesnya dengan pandangan memelas.

“Lain kali saja ya, Rim,” balasku langsung meninggalkan resto tempat kami bertemu dua jam ini.

Pertemuan yang hanya membuatku teringat luka lama. Luka ketika aku pernah nyaris mengalami hal serupa. Ah, perempuan. Begitu halus perasaannya. Sedikit saja melihat lelaki dengan segala kelebihan yang pernah diimpikan di masa remajanya, ia pasti akan tergoda.

Kuncinya hanya satu, adakah ia sanggup bertahan? Atau ia akan mampu menendalikan arus kegilaan itu? Eh salah ya… kalau arus kegilaan itu dikontrol kemudian malah meluber di suatu ceruk hati, menjadi kolam kegilaan bukankah kita malah bisa berenang dalam kegilaan itu? Atau justru tenggelam?

Tiba-tiba pikiran nakalku tertuju pada sesosok laki-laki hebat yang dikagumi Rima. Laki-laki berusia lebih dari 50 tahun, tidak terlalu gagah memang, berkumis agak tebal, dengan senyum manis (kata Rima sih, menurutku…. kayaknya iya juga?), punya karier yang sangat bagus, terkenal, dengan status sosial ekonomi yang hebat. Perempuan mana yang tak akan tergila-gila padanya?  Fathanah yang mampu menundukkan 42 perempuan cantik saja masih kalah hebat dengan laki-laki itu.

Walah… bagaimana ini? Kok mendadak aku ikutan gila. Uft….. kenapa juga ya tiba-tiba aku ingin mengenal sosok lelaki itu lebih dekat, dekat, dan dekat. Kalau perlu akan kusingkirkan Rima untuk mendapatkan hatinya. Ah, semoga, perempuan-perempuan cantik yang pernah ditundukkan Fathanah tak mengenal lelaki itu.

Karena itu, biarlah kurahasiakan saja siapa sejatinya lelaki itu. Suatu saat bila telah kukalahkan Rima dan dapat kusisipkan dia di hatiku, akan kuceritakan padamu. Siapa sejatinya dia.

“Ma…., sampai mana?” suara suamiku dari HP menyadarkan kegilaanku.

Tuhan, aku tak mau tenggelam dalam kegilaan seperti ini. Andai saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s