PAK PRAN: MENANAMKAN KEJUJURAN DI TENGAH MARAKNYA KECURANGAN


Inilah sosok Kepala Sekolah yang tegas memperjuangkan penanaman kejujuran pada siswa SMA Negeri 1 Batu.

Inilah sosok Kepala Sekolah yang tegas memperjuangkan penanaman kejujuran pada siswa SMA Negeri 1 Batu.

Kebijakan Kepala Sekolahku (SMA Negeri 1 Batu, Bapak Drs. Suprantiyo, MM,  biasa dipanggil Pak Pran dalam pelaksanaan Ulangan kenaikan kelas (UKK) semester genap 2012/2013, layak mendapat apresiasi positif.  Awalnya, banyak guru bersuara sumbang karena harus membuat 5 soal yang berbeda dengan jumlah soal lebih banyak dari UKK sebelum-sebelumnya, tetapi waktu pengerjaan sama.

Kejujuran Anak Didik Dipertanyakan

Pak Pran barangkali merupakan satu di antara sedikit kepala sekolah yang lebih mengedepankan penanaman kejujuran pada siswa ketimbang mengutamakan pencapaian nilai tinggi. Hal ini bisa dirunut dari banyak kebijakan yang beliau terapkan selama ini. Misalnya, dalam pelaksanaan UKK, UAS, atau UTS, selama ini telah diterapkan dua variasi soal (A dan B). Tak hanya itu, sistem pengawasan pun diberlakukan sangat ketat. Bahkan, terkadang, secara acak, beliau mengambil sampel LJK beberapa ruang yang telah dikoreksi. Kemudian terhadap LJK siswa yang memperoleh nilai yang sama dilakukan perbandingan. Bila ternyata jumlah dan letak kesalahan sama, maka beliau akan kan mengingatkan kembali para guru untuk lebih bertanggung jawab dalam mengawasi siswa. (Itu sebabnya, sebagian besar di antara kami tidak  berani menjaga seenaknya. Bakalan malu kan kalau terbukti siswa-siswa yang kami awasi ternyata menyontek alias kerja sama). Meski, tentu saja masih ada saja siswa yang bisa melakukan kecurangan.

Puncaknya, adalah pada saat pelaksanaan UN beberapa waktu yang lalu. Menyikapi maraknya penjualan kunci jawaban UN dan kemungkinan anak-anak menyontek, Pak Pran beserta beberapa staf guru melakukan razia (penggeledahan) pada para sisa sebelum memasuki ruangan ujian. Terkesan berlebihan dan menekan  psikologi siswa. Faktanya, memang demikianlah, razia ini menemukan bukti-bukti adanya niatan tidak baik itu. (Maaf, untuk yang ini off the record. Insyaallah, semampu yang telah dilakukan, tindak ketidakjujuran di SMA N 1 Batu dalam pelaksanaan UN kemarin BISA DIMINIMALISASIKAN).

Masih terbayang di mata saya dan terngiang di telinga saya, bagaimana suara dan ekspresi beliau ketika menceritakan soal itu pada rapat pleno kelulusan. Suaranya serak, seakan tercekat… hingga akhirnya tangis beliau terdengar meski sesaat. Hiks. rasanya, saya dan saya yakin semua dewan guru yang hadir pun merasakan luka itu. Alangkah pedihnya hati kami sebagai guru yang selama ini berusaha sedemikian keras menanamkan kejujuran pada anak-anak, kemudian menemukan kenyataan masih ada saja anak-anak yang melakukan ketidakjujuran. Banyak pihak yang ternyata “merusak” proses penanaman kejujuran yang selama 3 tahun itu kami lakukan.

Sakit, kecewa, dan … entahlah.

Ya… begitulah, bukan rahasia kan bahwa kecurangan dan kejahatan selalu selangkah lebih dulu dibanding polisi dan para pengambil kebijakan.

Lima Variasi Soal,  Kebijakan yang Memberatkan? 

Kembali ke masalah kebijakan UKK dengan 5 variasi soal yang berbeda. Awalnya, tentu saja kebijakan ini menimbulkan sikap pro dan kontra. Bayangkan, waktu pembuatan soal hanya 3  minggu dari DL-nya. Para guru harus menyerahkan kisi-kisi soal, kartu soal, soal, dan kuncinya. Gilanya, kelima varian soal tu harus beda. Lebih gila lagi (alias gendeng poll yang ini) jumlah soalnya disamakan dengan jumlah soal Ujian Nasional (UN), meski dengan waktu yang tetap sama. Misalnya, untuk Bahasa Indonesia, yang saat UTS maupun UAS jumlah soalnya adalah 40 butir pilihan ganda dalam waktu 90 menit, kini menjadi 50 butir untuk waktu yang tetap 90 menit. Wah, bayangin…. heheheh saya saja sampai harus nglembur 5 malam (tidur selalu di atas jam 2 dini hari). Maklumlah, soal B Ind kan selalu kayak tabloid, penuh dengan paragraf panjang. Al hasil, untuk 5 paket soal yang masing-masing 12 halaman (ada 2 soal yang malah 13 halaman) saya menyerahkan 72 halaman print out.  Matematika, biasanya 30 soal menjadi 35 soal dengan waktu hanya 90 menit. Padahal bila UN jumlah soal segitu itu untuk waktu 120 menit. Wedeee….mblenger poll. Hehehe dan faktanya, gak sedikit lho guru yang juga mengeluh. Maklum, kebijakan baru. Terkesan mepet juga pemberitahuan untuk membuat soal bejibun ini.

Sejujurnya, saya pun sempat ngroweng (apa namanya ya, nggrundel,ngomong di belakang para penggede sekolah lah hehehe). Bagaimana tidak? Saya pernah melakukan hal itu. Memberi 50 soal untuk waktu 90 menit saat UAS tahun lalu di kelas akselerasi. Ternyata, sampai bel berbunyi sebagian besar mengaku hanya sanggup menyelesaikan 43-45 butir soal. Saat itu yang ada dalam benak saya adalah 10 butir soal UKK nanti akan menjadi mubadzir karena tidak akan terselesaikan oleh siswa. Betapa sia-sianya.

Faktanya? 

Karena hari pertama saya tidak mengawas UKK, dan baru hari ini, saya baru merasakan betapa luar biasanya kebijakan Pak Pran dan teman-teman evaluasi. Ternyata kebijakan ini insyaallah BISA MENJAMIN KEJUJURAN siswa dalam mengerjakan UKK. Mengapa?

Pagi-pagi, sebelum masuk ruangan, seperti biasa tiap pelaksanaan ulangan (baik UTS, UAS, maupun UKK memang begitu konvesinya), Pak Pran dan Pak Amantho (Waka Kurikulum) menjelaskan bahwa pembagian 5 variasi soal tidak dilakukan mengular. Mengular yang dimaksud di sini adalah dari pojok depan kanan siswa akan menerima soal A, B, C, D, dan E secara teratur sehingga siswa sudah tahu kode soal apa yang akan mereka terima saat UKK. Hal ini membuat siswa yang memiliki niat untuk berbuat curang sudah tahu dengan siapa saja mereka bisa bekerja sama.

Pada UKK tahun ini, kelima variasi soal sudah diacak. Setiap siswa menerima satu paket soal lengkap dengan LJK yang sudah diberi kode. Siswa tidak bisa mengetahui dia menerima soal paket ke berapa dan sm dengan siapa di kelas itu. Bahkan, para pengawas pun tidak tahu.

Ternyata cara ini memberikan pengaruh yang sangat besar. Dengan pembagian soal ini suasana kelas saat  UKK sangat hening. Setiap siswa sibuk dengan soalnya masing-masing. Bila dibandingkan dengan pelaksanaan ulangan-ulangan sebelumnya, kesan adanya ketidakkejujuran sangat minim. Nyaris bisa katakan, tadi di kelas yang saya awasi sangat jujur. (Saya yakin kondisi serupa pun ditemui bapak ibu pengawas ruang yang lain).

Bagaimana tidak? Di samping siswa tidak tahu soal yang dia terima sama dengan temannya yang mana, jumlah soal pun membuat mereka harus pandai memanajemen waktu. Biasanya, ketika waktu yang disediakan belum habis,  mereka punya kesempatan untuk mengadu peruntungan dengan saling berbisik atau menggunakan kode-kode jari atau alat tulis pada siswa yang mendapat soal dengan kode yang sama.

Ah… sungguh, saya menyesal telah ngresulo dan ngroweng pada saat menyelesaikan lima paket soal. Meski sejujurnya, bukan urusan lima variasinya yang berbeda yang membuat saya ngroweng. Akan tetapi, jumlah soal yang lebih banyak untuk alokasi waktu yang sama. Nyatanya, hal itu malah benar-benar membuat siswa kami harus berada terus dalam garis kejujuran. Meleng sedikit atau untuk mencoba mencari tahu siapa teman yang punya soal yang sama tentu akan menyita cukup banyak waktu, dan itu belum tentu berhasil.

Alhamdulillah. Tentu ini sebuah hasil awal yang bagus untuk terus menanamkan kejujuran pada siswa kami. Dan demikian itulah menurut saya salah satu kewajiban para pendidik untuk menanamkan karakter bangsa yang unggul.

Harapan 

Mungkin agak berlebihan cara saya mengapresiasi kebijakan kepala sekolahku ini. Akan tetapi, saya yakin bahwa bila hati nurani kita masih menjunjung tinggi kejuuran, maka apresiasi yang positif layak kita berikan pada Pak Pran, Pak Amantho dan para staf kurikulum dan evaluasi.

Di tengah karut marutnya berita pelakanaan UN, di tengah maraknya ketidakjujuran, sebagai pendidik kita tetap wajib mengupayakan terus cara menanamkan kejujuran dan niai-nilai positif lainnya yang sesuai dengan karakter bangsa dan norma agama. Apa artinya, nilai yang tinggi bila diraih dengan ketidakjujuran.

“Saya lebih bangga pada anak-anak yang memperoleh nilai pas-pasan dengan cara jujur daripada anak-anak yang mendapatkan nilai 100 tetapi dengan ketidakjujuran,” begitu kata Pak Pran saat sidang pleno kelulusan anak-anak kelas XII beberapa minggu yang lalu.

Terlepas dari pro kontra pelaksanaan UN tahun 2013 yang lalu, sebagai pendidik kita tentu sepakat bahwa siapa pun yang terlibat pada kecurangan UN, terutama pembuatan dan penjualan kunci jawaban UN adalah pengkhianat negara. Mereka tidak hanya membuat dana milyaran rupiah itu menjadi sia-sia karena ternyata hasil yang diperoleh sebagian anak didik kita diperoleh dengan membeli kunci jawaban, tetapi mereka TELAH DENGAN SANGAT BIADAB (maaf, saya tidak bisa menemukan kata lain yang lebih tepat) merusak mental anak bangsa. Ya tindakan membuat, menjual, menyebarkan kunci jawaban UN pada dasarnya adalah sama dengan mendidik anak-anak kita menjadi penipu sejak mereka masih sekolah.

Bukankah itu sama artinya dengan mengajarkan , “Kita boleh melakukan apa saja meskipun haram, untuk mencapai kesuksesan,” pada anak didik? Ah… hanya bisa mengelus dada.

Sekali lagi, apresiasi positif saya berikan setinggi-tingginya kepada Pak Pran, Kepala SMA N 1 Batu. Bagi saya ini merupakan bukti bahwa selain terus mengritisi berbagai kecurangan UN, ada hal lain yang sebenarnya harus segera kita lakukan yaitu BERTINDAK NYATA, bukan hanya dengan kata-kata.

Semoga menginspirasi.

7 thoughts on “PAK PRAN: MENANAMKAN KEJUJURAN DI TENGAH MARAKNYA KECURANGAN

  1. Ping-balik: PAK PRAN: MENANAMKAN KEJUJURAN DI TENGAH MARAKNYA KECURANGAN | faradinaizdhihary

  2. salut kepada pak PRan. kejujuran memang menjadi barang yang mahal di era sekarang, dan menjadi tugas kita bersama, khususnya guru, untuk menanamkan karakter jujur pada anak.

  3. Sangat gak terima, jerih payah para guru tidak ada artinya karena dirussak beberapa orang
    Tetapi kalau ada ketidak berhasilan , semua langsung menyalahkan guru
    Indonesia segeralah ber keadilan

  4. Kejujuran harus dimulai sejak diamanahi oleh Negara, itu ciri seseorang pemimpin yang Ikhlas serta tidak merasa takut akan kegagalan dan dipecat dari jabatannya. Selamat kepada Pak Pran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s