ADAM PANJALU, Segera Terbit


ADAM PANJALU, KUMCER KARYA GURU YANG AKAN SEGERA TERBITInsyaallah, sebentar lagi bakal terbit kumcer DAM PANJALU, karya guru-guru dari berbagai penjuru Indonesia. Tunggu kehadirannya.

Kumpulan cerpen para guru ini sangat layak untuk dikoleksi dan dibaca para siswa dan guru. Simak saja  tanggapan Prof. Dr. maman S. mahajana terhadap kumcer ini.

“Jika mencermati perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, sebagian dari sastrawan besar kita, tidak lain, adalah guru. Hampir semua sastrawan Indonesia sebelum merdeka, lahir dari profesi guru atau wartawan. Kesadaran menyampaikan pesan moral, bahkan juga pesan ideologis tentang manusia, masyarakat, dan bangsa, jauh lebih berdampak luas melalui tulisan. Maka, menulis cerpen, puisi, novel, atau esai, bagi para guru, sama halnya dengan berdiri di depan kelas kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Para guru yang menyumbangkan cerpennya dalam buku ini, pada hakikatnya sedang berkomunikasi dengan “murid-murid” dalam kelas masyarakat itu, meski di sana, sang “murid” lebih beragam dan mungkin saja lebih dahulu menjadi gurunya guru. Tidak apa-apa, sebab menyampaikan pesan lewat apa pun, adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu, cerpen-cerpen dalam buku ini, selain sebagai wujud kesadaran akan pentingnya berkomunikasi dengan masyarakat yang lebih luas, juga sekaligus dapat digunakan sebagai ajang komunikasi antar-guru, dan antar-murid-muridnya melalui pembelajaran di dalam kelas.
Percayalah, cerpen-cerpen dalam buku ini adalah representasi spirit guru yang tidak terkungkung oleh ruang kelas dan tembok sekolah. Mereka-guru-guru ini-hendak berbagi dan melaungkan pesan moralnya kepada masyarakat bangsa ini.
Itulah karakteristik guru-guru plus-plus. Guru-guru yang punya kualitas dan nilai tambah! Selamat!”

Tak hanya, Prof Dr. Maman  yang memberikan dukungan atas terbitnya, ADAM PANJALU, Yudhistira Massardi, penulis senior pun memberikan pernyataan yang positif terhadap kumcer ini.

“Jika para guru sudah mau dan bisa menulis, berarti bangsa Indonesia akan segera memasuki babak baru – yang seharusnya sudah dicapai segera setelah proklamasi Kemerdekaan 1945.
Jika para guru sudah bisa menulis – menulis apa saja – berarti para muridnya akan terdorong untuk lebih maju, sekurang-kurangnya memiliki gairah untuk membaca dan menulis.
Jika para guru dan murid sudah gemar menulis dan membaca, berarti sebentar lagi kita akan memiliki generasi baru intelektual – seperti para intelektual Indonesia yang lahir menjelang dan setelah Sumpah Pemuda 1928.
Jika para guru sudah banyak yang menjadi penulis, berarti Bahasa Indonesia juga akan semakin kuat terjaga. Karena, para guru yang menulis tentu akan menjaga kualitas bahasa dan idenya, dan memberikan contoh yang baik bagi para muridnya.

Jika budaya baca-tulis sudah menjadi bagian penting dari proses pendidikan dan pengajaran, maka demokrasi akan berkembang, kemerdekaan untuk berpikir kritis dan mengeluarkan pendapat akan kian marak. Dengan begitu, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan – termasuk tindak kekejaman para guru dan murid di sekolah-sekolah – akan mendapatkan perlawanan kuat dari masyarakat, demi tercapainya masyarakat yang adil dan beradab.
Saya percaya, kualitas kebudayaan sebuah bangsa ditentukan oleh berapa banyak buku yang dibaca dan ditulis oleh bangsa itu. Buku adalah monumen di puncak peradaban manusia.
Saya berbahagia bisa membaca beberapa karya dalam kumpulan cerita pendek ini, bisa memberikan sedikit catatan, dan bisa turut merasa bangga. Saya yakin, karya-karya berikutnya pasti akan ditulis dengan bahasa dan struktur yang lebih baik, fokus, dan dengan kemasan yang lebih atraktif. Selamat!”

Benny Arnas, peraih Penghargaan Karya Fiksi Terbaik 2012 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan kekagumannya pada kreativitas para guru kontributor naskah dalam Adam Panjalu, menulis sebagai berikut.

“Guru-guru memang seharusnya menulis, lebih-lebih bersastra karena akan mengasah kepekaan mereka pada hal-hal mikro dan memiliki cara pandang kreatif estetik dalam menghadapi rutinitas mendidik. Guru-guru contributor kumpulan cerpen ini telah menunjukkan usaha mereka untuk mencoba atau bahkan mengakrabi sastra. Patut dibaca, tentu saja!”

Wina Bojonegoro, cerpenis dan novelis asli jawa Timur juga memberikan pernyataannya,

“Ada kebahagiaan dan keharuan saat membaca karya para guru dalam kumcer Adam Panjalu.  Buku ini seakan menjadi bukti kesungguhan para guru untuk siap menjadi teladan bagi murid-muridnya untuk membiasakan menulis. Andai sepertiga guru-guru  di negeri ini mampu menulis seperti ini, niscaya murid-murid  negeri ini akan mampu menulis dan membaca jauh lebih baik dari kondisi sekarang ini.”

Ciutkan pos ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s