PUBLIKASI SEBAGAI TAHAPAN MENULIS


PUBLIKASI SEBAGAI TAHAPAN MENULIS

Bapak dan Ibu Guru. Sejatinya dalam proses menulis itu ada tahapan yang disebut PUBLIKASI. Apa urgensinya? Sebuah tulisan itu kan untuk dibaca. Nah, kalau tidak dipublikasikan, bagaimana akan berfungsi? Selain itu, bagaimana kita tahu tulisan kita SUKSES sebagai sebuah tulisan sesuai dengan tujuan tulisan kita atau tidak, kalau tidak ditulis.

Salah satu hal yang tak bia kita nafikkan dalam rangkaian publikasi adalah ‘MEMPROMOSIKAN” tulisan kita. baik dalam arti finansial maupun lebih luas. Lewat FB misalnya kita dapat mempromosikan tulisan kita di blog agar dibaca orang. Dalam artian sempit, seorang penulis harus mampu mempromosikan karyanya.

Nah, saya persempit tulisan saya. banyak di antara kita adalah penulis pemula (include saya). Nah, salah satu cara jitu untuk mempromosikan diri kita sebagai penulis, juga mempromosikan tulisan kita (yang akan memperpanjang [ortofolio kita) adalah dengan menulis antologi (menulis buku secara bersama-sama). Ada satu titik akhir yang seringkali dilupakan oleh para kontributor naskah dalam penulisan antologi. Apa itu?

Banyak, banyak banget malah mungkin ada di antara kita yang ketika naskah kita lolos alam sebuah audisi antologi, kita bergembira ria dan menunggu dengan dada berdebar-debar dan bahagia saat buku terbit. Giliran terbit, jangankan ikut mempromosikan apalagi menjualnya, MEMBELI barang satu buku pun tidak mau.

Apakah ini merugikan penerbit? Secara langsung tidak. Toh masih lebih banyak kontributor yang aktif menjual, apalagi kalau bukunya adalah produk komunitas kayak HOPE ANDDREAM, MEMOAR GURU. (Alhamdulillah laris manis, yang belum beli… hehehe bakalan nyesel). Ternyata, bisik-bisik nih…. para PJ antologi itu juga punya daftar merah penulis yang kerjanya cuma setor naskah dan tidk bertanggung jawab pada produknya.

Nah kan? Bukankah seharusnya kita bangga kalau karya kita laris? nama kita sebagai penulis pun bakal lebih moncer. Inilah sel writerpreneurship yang harusnya kita tumbuhkan.

Sedikit cerita nih, semoga menginspirasi. Kumcer anak didik saya “17 Pena untuk Dunia” alhamdulillah laris manis meski ortu/siswa tidak diwajibkan membeli. Anak-anak yang naskahnya masuk antologi ini dengan bangga ikut promo dan menjualnya. mereka dapat fee lumayan untuk nambah uang sakunya. Yang keren, saat Dies natalis kemarin, panitia mencari dana dari para alumni dengan cara menjual kumcer tersebut pada alumni. Hasilnya, 50% harga buku pada ekstra menulis, pemilik kumcer. Dan baru saja kemarin, dua pengurus ekstra pramuka menghadap saya.
“Bu, kami mau mengadakan kegiatan. Kami masih mau cari dana. Bolehkah kami menjualkan 17 pena untuk Dunia?”
Hohoho… tentu saja langsung saya jawab, “Tentu saja boleh. sangat boleh.”

So…. Bapak/Ibu, sebagai pengelola Nurul Haqqy yang insyaallah bakal menerbitkan banyak buku teman-teman di klub ini, harapan saya bantuin ya promonya. Tapi, dengan catatan, kalau emang isi bukunya jelek, gak berkualitas, gak usah. kalau Hope and Dream, Memoar guru, saya jamin, BAGUS banget. Insyaallah keuntungan yang kami dapatkan akan kami gunakan untuk menambah buku-buku teman2 yang akan terbit.

Untuk event Guru, terutama event IGI, ada diskon khusu yang lumayan besarnya. Jadi penerbitan buku teman-teman adalah untuk teman-teman juga pada akhirnya. kalau berbicara soal komersial, duit… kayaknya saya mending cari side job lain dech. Kok saya mau? Saya suka siiiih. hehehe

Batal Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · 7 jam yang lalu

One thought on “PUBLIKASI SEBAGAI TAHAPAN MENULIS

  1. Ping-balik: PUBLIKASI SEBAGAI TAHAPAN MENULIS | faradinaizdhihary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s