PEMBELAJARAN MENULIS SASTRA PRODUKTIF: PROBLEMA, PELUANG, DAN TANTANGAN Istiqomah, S.Pd


PEMBELAJARAN MENULIS SASTRA PRODUKTIF:

PROBLEMA, PELUANG, DAN TANTANGAN

Istiqomah, S.Pd[1]

            Pembelajaran Sastra Indonesia pada kelas XI dan XII Ilmu Bahasa di SMA sebagai pelajaran mandiri, tidak lagi menjadi bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, ternyata belum juga mampu menjadikan pelajaran Sastra Indonesia mendapat perhatian selayaknya mata pelajaran lainnya. Buktinya, jarang sekali atau bahkan mungkin memang tidak ada MGMP mata pelajaran Sastra Indonesia, baik di tingkat kabupaten, propinsi, bahkan mungkin di tingkat nasional. Sastra Indonesia selalu dianggap menjadi bagian pelajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya, dalam kegiatan MGMP bahasa Indonesia mata pelajaran ini selalu dianaktirikan, kurang mendapat perhatian, bahkan nyaris tidak pernah diperbincangkan. Padahal mata pelajaran Sastra Indoneia memiliki karakteristik yang membedakannya dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Pada masa pemberlakuan Kurikulum 1994, mata pelajaran Sastra Indonesia termasuk salah satu mata pelajaran yang di-Ebtanas-kan, sekarang UAN, mata pelajaran Sastra Indonesia masih “memiliki wibawa”. Akan tetapi, seiring dengan perubahan kebijakan pendidikan nasional yang tidak lagi menjadikan Sastra Indonesia sebagai mata pelajaran yang di-UAN-kan maka perhatian siswa pun mulai berkurang.

Pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian diubah menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta dihapuskannya mata pelajaran Sastra Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang di-UAN-kan sebenarnya memberi peluang kepada guru untuk melakukan berbagai inovasi pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran Sastra Indonesia menjadi lebih bermakna.

Kebermaknaan pembelajaran Sastra Indonesia antara lain dapat terwujud dengan tercapainya standar kompetensi yang telah diamanatkan dalam Kurikulum 2006. Dalam Kurikulum 2006 tersebut dijelaskan bahwa salah satu tujuan pengajaran Sastra Indonesia adalah agar peserta didik mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan dirinya dalam medium sastra. Tujuan ini memberi kesempatan pada siswa untuk dapat menciptakan berbagai genre  sastra baik puisi, drama, cerpen, bahkan novel. Tujuan ini sekaligus menjadi peluang bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan menulisnya di bidang sastra.

Pada era informasi dan teknologi dewasa ini, kemampuan menulis sastra merupakan kemampuan yang dapat dikembangkan menjadi ketrampilan vokasional. Berbagai media informasi seperti TV, koran, dan majalah membutuhkan banyak sekali produk sastra.

Meskipun demikian, dalam kenyataannya terlalu banyak problema yang dihadapi pengajaran Sastra Indonesia untuk dapat mewujudkan idealisme di atas. Tulisan ini bertujuan untuk membahas hal yang terkait dengan upaya meningkatkan kebermaknaan pembelajaraan Sastra Indonesia, terutama bagi siswa yakni melalui pembelajaran sastra produktif.

  1. A.                Mengapa Harus Pembelajaran Sastra Produktif?

Dalam tulisan ini yang dimaksud pembelajaran sastra produktif adalah pembelajaran sastra yang ditekankan pada pembelajaran yang bertujuan untuk membekali siswa dengan kemampuan menulis  berbagai genre sastra.

Sebenarnya pembelajaran sastra produktif bisa berwujud produk lisan maupun tulis. Akan tetapi, dalam tulisan ini lebih ditekankan pada produk sastra tulis. Mengapa? Kemampuan siswa dalam menulis karya sastra tertulis inilah yang akan dapat dijadikan salah satu ketrampilan hidup yang akan bermanfaat dalam kehidupannya bermasyarakat kelak.

Kemampuan menulis karya sastra, bahkan yang termasuk dalam kategori sastra popular sekalipun bisa menjadi pilihan karier di masa kini. Berbagai media baik cetak maupun elektronik menjanjikan kesempatan yang menarik. Banyak novel remaja, biasa disebut chicklit atau teenlit laku keras di pasaran bahkan berbagai sinetron dan film diadaptasi dari cerpen atau novel remaja. Tidak hanya itu, berbagai koran atau majalah, baik koran serius, majalah remaja, dan berbagai tabloid memberi ruang yang cukup bagi para penulis untuk ide-idenya baik berupa cerpen, resensi,  maupun essay.

Jika dicermati lebih teliti lagi, banyak novel Indonesia baik novel remaja, detektif, dan sebagainya  yang memiliki kualitas tidak kalah dengan novel-novel terjemahan yang juga beredar sangat banyak di pasaran, dan ini juga mejadi indikasi bahwa buku-buku sejenis laris di pasaran.

Perkembangan teknologi dan iformasi serta perubahan gaya hidup masyarakat dewasa ini telah menjadikan buku dan media cetak sebagai salah satu kebutuhan hidup. Masyarakat sudah mulai menganggap membeli dan membaca buku sebagai kebutuhan sebab mereka tidak mau ketinggalan informasi dan perkembangan berbagai bidang. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan hiburan yang mengandung nilai karena begitu banyaknya hiburan lain yang mendorong terjadinya dekadensi moral seperti tontonan atau bacaan berbau pornografi.

 

B.        Problema Pembelajaran Sastra Produktif

Posisi pembelajaran Sastra Indonesia yang sangat strategis untuk membekali siswa dengan ketrampilan hidup pada era global ternyata memiliki berbagai problema. Di antara berbagai problematika tersebut antara lain dapat dilihat dari hal-hal berikut ini.

1)      Sebagian besar guru Sastra Indonesia belum mempunyai budaya menulis sastra yang memadai.

Meskipun penulis belum menemukan penelitian yang membuktikan hal tersebut, tetapi berdasarkan pengalaman di lapangan, selama bergaul dengan sesama guru Sastra Indonesia hal tersebut memang layak untuk dipercaya. Jarang penulis menemui guru Sastra yang benar-benar mampu menulis karya sastra yang berkualitas. Bahkan, dalam kenyataannya, sangat jarang kita temukan guru sastra yang sastrawan atau penulis.

Hal tersebut berakibat juga pada kualitas pembelajaran yang dilakukannya.  Umumnya guru Sastra Indonesia menekankan pembelajaran pada kajian teoritis terhadap karya sastra sehingga lebih menekankan pada pemahaman tentang analisis unsur intrinsik karya sastra, dan sejarah sastra. Akibatnya, pembelajaran menjadi kurang bermakna dan  membosankan.

2)      Perhatian pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru Sastra Indonesia masih belum memadai.

Perhatian pemerintah baik tingkat Pusat dan Daerah terhadap upaya peningkatan kemampuan menulis sastra masih sangat kurang. Memang ada beberapa upaya untuk membudayakan menulis dan membaca karya sastra seperti lomba menulis cerpen dan mengulas karya sastra, akan tetapi sifat lomba ini tentu lebih hanya untuk memotivasi. Selebihnya, apakah pernah dari hasil lomba menulis tersebut dijadikan bahan untuk melakukan pembinaan kemampuan menulis untuk guru? Rasanya, titik akhir dari lomba tersebut adalah keluarnya pemenang, pembagian hadiah yang pada akhirnya menjadi salah satu indikasi adanya upaya dan langkah nyata pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru. Lebih dari? Rasanya belum. Bukankah akan lebih baik jika hasil karya guru-guru tesebut dimanfaatkan untuk memetakan letak ketidakmampuan guru (kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya) dalam menulis kemudian ditindaklanjuti dengan adanya upaya nyata peningkatan kemampuan menulis guru.

Ada juga beberapa pelatihan menulis yang diselenggarakan Depdiknas maupun Balai Bahasa. Akan tetapi, belum semua guru, bahkan mungkin masih lebih sedikit guru yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Kesempatan belum merata. Masih banyak guru yang berharap kapan kesempatan itu akan datang?

3)      Adanya wacana mengembalikan mata pelajaran Sastra Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang di-UAN-kan.

Pengembalian mata pelajaran Sastra Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang di-UAN-kan pada satu sisi telah menjadikan mata pelajaran ini mejadi mata pelajaran yang dapat dianggap ‘penting’ karena ikut menentukan kelulusan siswa. Namun di sisi lain hal ini mejadikan guru dan sekolah kembali mengajar dengan sistem tradisional, lebih menekankan pada teori dan sejarah sastra.

Diakui secara umum, bahwa UAN seringkali menyebabkan pembelajaran lebih terfokus pada hafalan dan latihan soal. Seperti halnya mata pelajaran bahasa Indonesia yang di-UAN-kan, maka rencana pemerintah untuk menjadikan mata pelajaran Sastra kembali di-UAN-kan juga berpengaruh terhadap pembelajaran Sastra. Sebelumnya, pada saat pemberlakuan KBK, kurikulum memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan pmbelajaran sesuai dengan situasi sekolah masing-masing, dalam hal ini kebutuhan belajar siswa, guru memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat-bakat siswa di bidang sastra. Dengan demikian guru dapat lebih menekankan pembelajaran sastra produktif sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.

4)                  Kemauan guru Sastra Indonesia untuk memberikan bimbingan penulisan sastra masih kurang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seringkali guru hanya menjelaskan teori tentang unsur-unsur cerpen, drama atau puisi ketika mengajarkan materi menulis sastra. Selanjutnya guru memberi tugas(PR) pada siswa untuk menulisnya di rumah. Tugas dikumpulkan dan dinilai oleh guru secara kurang teliti. Mengapa? Karena banyak guru yang tidak sempat membaca semua dan memberikan komentar terhadap karya siswa. Akibatnya, siswa kurang dapat mengetahui bagaimana kualitas tulisannya dan tidak mendapat umpan balik untuk melakukan perbaikan tulisannya di masa yang akan datang.

5)                  Fasilitas Pembelajaran sastra masih kurang memadai.

Sarana pembelajaran sastra yang dimaksud di sini lebih ditekankan pada media untuk publikasi karya siswa, selain tentu saja buku-buku sastra di perpustakaan yang jumlah dan judul yang tersedia seringkali tidak apat mengikuti perkembangan sastra yang ada. Media publikasi untuk karya siswa seperti mading atau majalah sekolah akan sangat bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan motivasi, produktifitas, dan kualitas karya sastra yang dihasilkannya. Barangali hampir setiap sekolah telah memiliki mading, akan tetapi tidak semua sekolah memiliki majalah sekolah karena berbagai alasan. Mading dan majalah sekolah yang biasanya terbit satu semester sekali tentu tidak akan mampu mewadahi karya siswa.

  1. B.                 Peluang Pembelajaran Sastra Indonesia

Jika berbagai problema yang diuraikan di atas dapat teruraikan, maka berbagai peluang akan dapat diraih dari pembelajaran sastra produktif.

Peluang tersebut antara lain:

1)      Pembelajaran sastra akan mampu membekali siswa dengan ketrampilan hidup mandiri berupa kemampuan menulis sastra yang ‘layak jual’.

2)      Hasil karya siswa dapat digunakan untuk menambah koleksi bahan bacaan di sekolah bahkan mungkin pemerintah atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi penerbitan atau publikasi karya-karya siswa yang layak.

3)      Meningkatkan kreatifitas dan kepercayaan diri pada diri siswa.

4)      Menjadi wahana bagi siswa utuk bersikap kritis, peduli, dan peka terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Untuk mewujudkan pengajaran Sastra Indonesia, khususnya menulis sastra, diperlukan  berbagai terobosan. Terobosan yang dimaksud antara lain:

1)      Peningkatan kemampuan menulis sastra bagi guru-guru Sastra Indonesia.

Kegiatan ini dapat berupa diklat, seminar, maupun workshop. Tentu saja harus diupayakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya membahas masalah perangkat pembelajaran seperti kegiatan sejenis yang selama ini banyak dilakukan dalam berbagai mata pelajaran.

2)      Pembentukan MGMP Sastra Indonesia di tingkat SMA terlepas dari MGMP Bahasa Indonesia baik di tingkat kota maupun propinsi.

MGMP Sastra Indonesia akan mampu menjadi wadah bagi para guru untuk saling bertukar pengalaman, informasi, dan memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui di lapangan. Dengan cara ini, pembahasan berbagai masalah dan ide-ide kreatif dalam pembelajaran sastra akan dapat dibicarakan lebih mendalam. Sebenarnya, wadah komunikasi guru Sastra Indonesia juga dapat dilakukan dengan membentuk organisasi atau forum lainnya asal dengan fungsi yang sama.

3)      Tidak menjadikan mata pelajaran Sastra Indonesia sebagai mata pelajaran yang di-UAN-kan.

Dengan demikian, pembelajaran akan dapat dihindarkan dari pembelajaran yang bersifat teoritis atau hafalan.

4)      Melakukan berbagai inovasi pembelajaran Sastra Indonesia yang lebih menekankan pada pembelajaran kreatif, terbimbing, kooperatif, dan berkesinambungan.

Inovasi pembelajaran akan menjadikan pembelajaran sastra menjadi lebih menyenangkan bagi siswa, dapat memotivasi budaya menulis pada siswa, sekaligus meningkatkan kuantitas dan kualitas karya yang dihasilkan siswa.

5)      Pemerintah, dalam hal ini melalui Dinas Pendidikan dan sekolah mendorong tumbuhnya budaya sastra melalui berbagai kegiatan sastra.

Sekarang ini rasanya semakin sulit untuk menemukan adanya lomba membaca puisi, festival drama, lomba menulis cerpen, puisi, atau resensi. Padahal kegiatan-kegiatan tesebut akan sangat membantu siswa dan guru untuk meningkatkan kreatifitasnya. Bulan bahasa tidak lagi menjadi agenda rutin Dinas Pendidikan maupun sekolah untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra. Jika hal ini dibiarkan, tidak hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia yang akan semakin tergerus dengan arus globalisasi yang menuntut penguasaan bahasa interasional, kewibawaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara pelan-pelan akan tergerus juga.

  1. C.                Tantangan ke Depan

Untuk mewujudkan idealisme pembelajaran Sastra Indonesia seperti ditulis di atas,  guru Sastra Indonesia sebagai ujung tombak pembelajaran Sastra membangkitkan semangat dan kesadarannya untuk melakukan berbagai inovasi. Guru Sastra Indonesia juga seharusnya berupaya terus untuk membekali dirinya dengan kemampuan menulis sastra. Bukankah sudah seharusnya jika guru harus mempunyai kemampuan menulis yang memadai sebelum dia mengajarkan menulis.

Tidak hanya itu, keberanian guru dalam melakukan berbagai pengembangan dalam pembelajaran akan mampu memberikan peluang bagi pembelajaran Sastra Indonesia. Tidak hanya peluang untuk meningkatkan ketrampilan siswa, tetapi juga ketrampilan guru. Ketrampilan yang jika ditekuni juga akan mampu menambahkan tingkat kesejahteraan guru sendiri.  Tanpa menunggu langkah dari pihak lain, segera berbuat itu lebih baik.

Berdasarkan pengalaman penulis dalam dua tahun terakhir, tahun ajaran 2005/2006 dan tahun 2006/2007, ternyata dengan pembelajaran kreatif, terbimbing, kooperatif, dan berkesinambungan,  siswa mampu menulis sastra dengan baik, bahkan beberapa di antara mereka  mampu menghasilkan novel.  Pembelajaran dinamakan kreatif karena memang siswa dituntut untuk menggunakan kreatifitasnya mulai dari menemukan ide, mengembangkan cerita, membuat kritik, resensi, dan sebagainya. Guru juga dituntut untuk lebih kreatif merencanakan kegiatan pembelajaran yang kondusif dalam arti menyenangkan dan efektif.

Pembelajaran dikatakan terbimbing karena selama proses penulisan (terutama untuk novel, yang berjalan hampir satu tahun ajaran) siswa mendapatkan bimbingan untuk berkonsultasi atau sharing dengan guru tidak hanya pada saat jam pelajaran, tetapi juga pada waktu-waktu lainnya.  Pembelajaran Sastra Indonesia dilakukan secara kooperatif karena selama proses menulis siswa saling membantu baik untuk mengembangkan ide maupun merevisi tulisan yang dibuatnya. Prinsip yang mendasarinya adalah kualitas tulisan baru akan diketahui jika telah dibaca dan ditanggapi pembaca. Karya yang baik minimal harus menarik bagi pembacanya. Pembelajaran sastra berkesinambungan artinya, pembelajaran sastra dilakukan sebagai sebuah kesatuan antarmateri yang akan saling mempengaruhi penguasaan materi yang lainnya. Misalnya, pembelajaran menulis cerpen diawali dengan pembelajaran membaca dan memahami karya cerpen pengarang terkenal, diikuti dengan pembelajaran (1) analisis unsur intrinsic dan ekstrinsiknya, (2) menanggapi karya sastra tersebut melalui kegiatan diskusi, (3) menulis kritik dan atau esai berkaitan dengan isi cerpen, dan (4) menulis cerpen. Dengan pembelajaran berkesinambungan ini, kemampuan siswa dalam berbagai ketrampilan bersastra baik membaca, berbicara, maupun menulis akan meningkat. Hasil pemahaman membaca dan diskusi akan   memberikan kontribusi terhadap kemampuan siswa dalam menghasilkan karya sastra.

E.        Penutup

Hal lain yang kiranya juga perlu direnungkan adalah mungkinkah ke depan materi penulisan skenario baik untuk film maupun sinetron dapat dimasukkan sebagai bagian dari materi pembelajaran sastra? Bukankah jika dicermati, perbedaan antara naskah drama dengan scenario film atau sinetron tidak terlalu banyak perbedaan. Barangkali perbedaan yang paling mencolok adalah pada skenario  film dan sinetron ditemukan istilah-istilah sinematografi yang berkaitan dengan kamera, sedangkan unsur-unsur lainnya hampir sama. Jika hal ini dapat dilakukan, mungkin harapan sebagian besar orang tua untuk mendapatkan tontonan televisi yang bermutu dan mendidik akan terkabul. Mengingat para penulis skenario sinetron atau film telah dididik untuk menghasilkan karya yang bernilai tinggi, salah satu ciri karya sastra bermutu adalah mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang abadi. Tidak hanya itu, para siswa pun akan mendapatkan ketrampilan vokasional, yang sekali lagi akan dapat menjadi salah satu alternatif pilihan karier di masa depan, di era globalisasi yang menuntut kemampuan setiap individu untuk mampu bersaing.

Apa yang penulis sampaikan di atas memang lebih banyak berangkat dari pengalaman serta harapan yang seringkali terdengar dari para siswa ketika memilih program Bahasa. Harapan yang sebegitu indah dan menjanjikan itu hanya akan menjadi harapan dan mimpi jika sebagai guru Sastra Indonesia kita tidak menyambutnya. Apa yang tertuang di atas sesungguhnya juga merupakan bukti betapa berpeluangnya pembelajaran Sastra Indonesia untuk menjadi salah satu pelajaran favorit yang mampu menjawab tantangan jaman. Pembelajaran Sastra Indonesia memang tak seharusnya hanya menekankan pada penanaman nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, mengasah jiwa seni, dan menghargai budaya bangsa.  Dengan demikian pembelajaran Sastra Indonesia akan menjadi pelajaran yang bermakna dalam arti luas yaitu mencitakan pribadi siswa yang luhur dan mejunjung nilai kemanusiaan serta memiliki ketrampilan bersastra yang akan berguna dalam memasuki dunia kerja.

Pada akhirnya semuanya kembali lagi pada kemauan dan kemampuan guru Sastra Indonesia untuk menjawab tantangan ini. Mungkinkah ke depan harapan itu akan mendapat jawaban untuk mewujudkannya?

 

dIsajikan pada Seminar HPBI Nasional oleh balai bahasa Surabaya, tahun 2007 kali ya? Lupa. 


[1]               Adalah Guru Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia di SMA Negeri 2 Batu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s