KANGEN MBAH IBU (Cerpen karangan putri cantikku, Faradina Izdhihary Az-Zahra)


Faradina Izdhihary Az-Zahra)*

Aku punya dua nenek. Nenek dari aby-ku kupanggil Mbah Umy. Nenek dari umyku kupanggil Mbah Ibu. Aku sayang pada keduanya. Keduanya sama-sama baik dan sayang padaku juga pada semua saudaraku yang lain.

Sedihnya, bulan Maret lalu Mbah Ibu sudah meninggal. Aku sedih sekali kehilangan nenek terbaikku. Orangnya cantik, lembut, dan sabar. Kadang-kadang kalau dimarahi Umy, aku suka ngadu padanya. Biasanya aku ambil HP Umy atau Aby.

“Mbah Ibu… Umy lho marah-marah terus,” gitu caraku mengadu.

“Memangnya Fara kenapa?”tanyanya.

“Ya… Fara gak nakal. Fara kan cuma mainan.”

“Habis main dirapikan nggak?”tanyanya.

“Enggak,”jawabku sambil tertawa malu.

“Nah… makanya habis main dirapiin lagi, ya. Kasihan Umy kan. Pulang sekolah capek. Bu Dhe sudah pulang. Gak ada yang bantu bersihin rumah,” nasihatnya.

Iya juga sich. Aku memang suka bermain apa saja. Mulai dari boneka, mobil-mobilan Ravie, kertas-kertas, dan buku-buku. Bahkan aku juga suka main dengan sarung, selimut, bantal, dan peralatan dapur. Seru banget. Barang-barang itu kujajar memenuhi ruang televisi. Kadang kubawa juga ke kamarku. Aku suka lupa waktu. Begitu saatnya bersiap mengaji, barang-barang itu kubiarkan berserakan.

Kalau sudah gitu, pastiu Umy akan marah-marah.

“Mbak Fa… Umy bilang apa?”

Aku suka lupa juga sih. Jadi pas ditanya Umy diam saja. Aku pura-pura menyisir rambut atau nyiapkan buku ngaji.

“Umy kan sudah bilang, habis main harus dirapiin. Biar rumahnya bersih. Gak berantakan,”kata Umy sambil merapikan mainanku.

“Aku gak ikutan eker-eker, My,” teriak Ravie. Eker-eker itu kata-kata Ravie. Artinya membuat barang-barang berantakan, berserakan.

“Ya… Ravie juga kok, My.”

“Enggak. Ravie Cuma ikut Mbak Fa main,”belanya.

Duh, Ravie selalu gitu. Kalau Umy marah, dia gak mau disalahin. Makanya aku suka ngancam dia.

“Ntar kubilangin ke Mbah Ibu. Ravie suka bohong.”

Bukannya takut, Ravie malah suka tersenyum. Dan malah menjawab.

“Gak takut. Mbah ibu gak suka marah kayak Umy. Mbah ibu sayang sama Ravie.”

Iya juga sich. Mbah Ibu emang sangat baik. Gak pernah marah. Kalau nyuruh aku ngaji saja, Mbah Ibu suka pakai cerita nabi-nabi. Kalau aku ngadu dimarahi Umy, Mbah Ibu bilang aku gak boleh nakal. Kasihan Umy. Umy kan capek pulang kerja.

Sebelum puasa kemarin, Aby mengajak kami sekeluarga berziarah ke makam Mbah Ibu.

“Ayok cepetan. Kita ke rumah Mbah Ibu,”kata Umy saat melihat Ravie lari-lari, gak segera mandi.

“Mbah Ibu sudah keluar ya?”tanyanya.

Umy terdiam. Aku dan Mas Noval tertawa.

“Keluar darimana?”tanya Mas Noval.

“Lha kan Mbah Ibu dipendam. Bobok dalam tanah?”

Umy memeluk Ravie. Lalu Umy bilang.

“Mbah Ibu sudah meninggal. Gak bakal balik lagi. Sekarang Mbah Ibu sudah masuk surga,”kata Umy lembut. Mata Umy berkaca-kaca.

“Lha iya, keluarnya bagaimana?”tanya Ravie lagi.

“Mbah Ibu sudah di langit, Vie. Naik surga,”kata Mas Noval.

“Lha iya., Naiknya gimana? Terbang ya?”tanyanya lagi.

“Mbah Ibu dijemput malaikat. Makanya Ravie, Mbak Fa, sama Mas Nov harus sajin berdoa. Biar Mbah Ibu gak sedih,”kata Umy.

“Doanya jadi lampu ya, My buat Mbah Ibu. Kasihan Mbah Ibu. Di tanah kan gak ada lampunya,” tambah Ravie lagi.

“Iya. Makanya sana cepat mandi sama Bu Dhe. Kita ke makam Mbah Ibu, nanti di sana kita bacain doa buat Mbah Ibu,”kata Umy.

Ravi mengangguk. Aku dan mas Noval juga mengangguk.

“Ravie sayang kan sama Mbah Ibu?”tanya Umy.

“Sayang,”katanya sambil mencium pipi Umy.

“Aku juga sayang,”sahutku.

“Aku gak sayang Mbah ibu,”sahut Mas Noval.

“Eh… dosa lho!”kataku mengingatkan Mas Noval.

“Aku gak sayang Mbah Ibu. Aku kangeeeeeeen sama Mbah Ibu. Gak ada lagi yang nasihati aku kalau aku nakal,”kata Mas Noval.

Iya juga. Aku juga kangen sekali sama Mbah Ibu. Ingin sekali dipeluk dan dicium Mbah Ibu kayak dulu.

“Sudah sana mandi siap-siap. Yang pasti kalau sayang sama Mbah Ibu gak boleh nakal. Harus rajin ngaji. Biar Mbah Ibu gak sedih, “kata Umy.

Ravie berlari ke kamar mandi. Aku segera menyisir rambut dan memakai jilbab. Dalam hati aku berjanji untuk tak nakal lagi. Aku akan selalu nurut kata Umy, rajin belajar dan mengaji. Aku gak ingin Mbah Ibu sedih di kuburan sana karena melihatku, Ravie, dan Mas Noval nakal. Aku juga gak mau Umy sakit karena kami nakal. Aku sayang sama Umy dan Mbah Ibu. Sayang sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s