JEMBATAN MIMPI (Kuingin Bersama Para Guru Menjadi Penulis Buku untuk Murid-murid Kami)


Selalu sedih, selalu nelongso dan hanya bisa mikir “piya-piye” ngowoh. bahkan kadang-kadang ngersula, protes, teriak-teriak tiap kali membaca/mendengarkan berita tentang buku teks/LKS/ buku pengayaan untuk anak didik yang bermasalah. Baik karena ada unsur kekerasan, pornografi, SARA atau lainnya yang jelas-jelas tidak cocok untuk anak didik, bahkan mungkin anak kita.

So, apa yang telah kita (para guru perbuat? Serius nih. Gak cukup cuma protes, ikut-ikutan komentar keras terhadap berita itu. Kalau kita emang guru, harusnya kita ambil peran. Bila perlu keras! Kita NULIS! Buat yang benar! Itu tanggung jawab kita sebagai guru.

Untunglah Allah menakdirkan saya bertemu dan berkawan dengan Pak Mohammad Ihsan, Sekjen IGI, bersama para dedengkot IGI yang juga orang-orang hebat, beserta seluruh anggota IGI yang luar biasa dinamis dan visionir. Sejak berkenalan dengan beliau-beliau itu, dunia saya seperti dijungkirbalikkan. Betapa sangat kecil dan kerdilnya saya, pandangan-pandangan saya, juga kiprah saya.

Who am I? Sebuah perenungan panjang membuat saya mulai berpikir tentang orientasi diri saya untuk menjadi bagian masyarakat yang lebih luas. Hingga seseorang membisikkan sebuah mantra, “Taburkanlah ilmu kepada siapa pun, kapan pun, di mana pun dengan ikhlas. Kelak Allah akan mengirim madunya dari arah, waktu yang tidak kamu sangka-sangkakan.”

Di IGI saya menemukan satu ceruk indah yang membuat saya betah yaitu Klub Guru Menulis IGI. Di sana saya bertemu dengan teman-teman guru yang suka menulis, yang hebat menulis, sampai yang baru belajar menulis. Nah, saat berkenalan, berbincang-bincang, dan membaca karya para guru yang “baru menulis” itulah kesadaran saya untuk berbagi pengalaman menulis, pengetahuan tentang menulis saya seakan menjadi sebuah energi besar, menjadi pintu bagi saya untuk berbagi. Dan ternyata saya sangat bahagia, bahagia sekali bahkan.

Ternyata banyak anggota IGI, guru, yang ide-idenya hebat. hanya saja mereka belum memahami sepenuhnya, bagaimana seharusnya menulis dengan baik. tak hanya secara kebahasaan (tataran fonologi sampai wacana), tetapi bagaimana menyajikannya menjadi sebuah buku yang bagus pun kurang. Butuh seseorang yang mau memotivasi, membakar dan membuka “pintu” bagi teman-teman guru untuk mengurai kesulitan mereka dalam menulis.

Meski sejujurnya saya juga baru penulis ecek-ecek, tetapi secara teori insyaallah saya ngerti. Maka, mulailah saya membantu teman-teman guru untuk menulis. Pengalaman menjalankan side job saya selama ini, membina kelompok-kelompok kecil para guru ( antara 4-5 orang) dalam menulis PTK ternyata sangat membantu. Alhamdulillah semakin hari, semakin banyak teman yang tergoda untuk menulis. Tumpukan naskah teman2 membanjir di email saya. Alhamdulillah, saya bahagia. Gak bisa digambarkan.

Lalu mulailah ide mengalir untuk membukukan karya para guru. Mas Eko Praseto dengan kumcer SANG JUARA, yang insyaallah bakal terbit dengan judul ‘ADAM PANJALU, awalnya sempat dilirik sebuah penerbit nasional, meski akhirnya tidak jadi karena suatu alsan. Sedih? (Pasti bangeeeet). OK. Saya gak mau gambling mengecewakan teman-teman. Takut kalau-kalau nantinya naskah Memoar Guru, yang akhirnya berubah judul menjadi HOPE AND DREAM, MEMOAR GURU akan mengalami nasib yang sama, bahkan mungkin harus antri setahun lebih untuk terbit (bila pun akhirnya lolos di penerbit mayor), sementara teman-teman guru butuh motivasi untuk nulis, BISMILLAH, nekad saya buat penerbitan sendiri, Pustaka Nurul Haqqy. Akhirnya buku ini bisa terbit dengan tampilan manis berkat  sentuhan Mas Rahman, editing Mas Eko dan saya (saya paling banyak teledor ngeditnya).

Yang luar biasa adalah buku ini disambut positif oleh pak M. Nuh, Mendiknas.  Beliau berkenan memberikan kata sambutan dalam buku ini. Sejujurnya, saya katakan, seharusnya buku ini layak mejeng di rak buku sekelas Gramedia, Gunung Agung, dan lainnya. Tapi opo yo mampu sebuah penerbitan kueciiiiil cil, yang dananya akhirnya saya rogoh dalam-dalam dari TPP itu mengcover nyetak banyak? Makanya cetak terbatas, edar hanya via event IGI, dan tidak konsinyasi di toko (bisa bangkrut saya nunggu balik duitnya lama… Dan juga dijual secara online. Para kontributor juga hebat mampu menjual pada teman dan sahabatnya. Mereka  marketer hebat. Alhamdulillah…. laku keras!

Hehehehe. Asliii, saya edan ketika memutuskan untuk mendirikan Pustaka Nurul Haqqy. Kayak kurang kerjaan. Kayak kesugihen duit.

Seandainya, seandainya saja, para penerbit besar itu, sempat baca HOPE AND DREAM, MEMOAR GURU, mereka bakal tergoda, bahkan akan berebut untuk menerbitkan buku ini. Mimpi saya tetap bagaimana membuat buku ini bisa terbit nasional, dibaca banyak guru, siswa, bekas siswa, dan mereka yang peduli dengan pendidikan. buku ini sangat inspiratif, sangat menyentuh. Saya yakin, hampir 80% pembaca, pasti sesak dadanya, menitikkan air mata meski baru membaca bab kedua.

Alhamdulillah, hari ini ada sebuah penerbit mayor yang nelpon saya setelah menghubungi saya via FB. Beliau tertarik untuk menerbitkan buku ini dalam skala nasional. Ya Allah, saya gemetar.  Lalu saya sampaikan bahwa ada banyak naskah teman2 di IGI yang layak untuk terbit dan akan sangat bermanfaat untuk pengayaan. Insyaallah karya teman-teman IGI itu selain aman bagi siswa (gak mengandung pornografi, SARA, kekerasan) juga sesuai dengan kebutuhan siswa. Mengapa? Karena merekalah yang sehari-hari bersentuhan dengan siswa. Mereka juga yang tahu dengan pasti, buku-buku pengayaan model mana yang “laku” dan “disentuh” oleh siswa, serta buku-buku yang mana yang nyaris tak tersentuh sehingga njamuren di perpustakaan sekolah. Alhamdulillah responnya bagus. Beliau akan dengan senang hati menerima naskah para guru. (ya Allah tambah semangat saya).

Ya Allah… padahal, sebelumnya, sekitar seminggu lalu saya sempat BBM-an sama Pak Ihsan, Sang Sekjen IGI, minta tolong beliau untuk membangun ‘JEMBATAN MIMPI. 

Waktu itu lewat BBM lalu email say sampaikan pada beliau, “Pak, bukankah Bapak sering kerja sama, dapat bantuan dari penerbit berupa buku-buku pengayaan?. Lha mbokyao kita jalin kerja sama dengan penerbit itu. Kita tawarkan naskah teman-teman. Insyaallah dengan pendampingan, ide-ide para guru itu bisa jadi buku yang bagus dan layak terbit.”

Lalu saya diminta membuat proposal jembatan mimpi itu. Ya saya buat draftnya. sayakirimkan pada beliau. Saya diminta menyiapkan 2 naskah yang siap untuk jadi “mahar” kepada penerbit yang kata Pak Ihsan sebenarnya sudah menyatakan, “kalau ada teman guru yang mau nerbitkan buku, kami siap.”

We lha dalaaah. Ternyata sudah ada peluang tho? Pintu sudah ada yang membuka tho?

Wuiiih saya sampai gemetaran membayangkan alangkah indahnya kesempatan itu bila kami, para guru, berani mengambil peran. Bakal banyak guru yang bisa memublikasikan karyanya, bisa banyak teman guru yang bisa lolos dalam Penilaian Kinerja Guru (karena punya karya yang dipublikasikan), bisa dapat tambahan fee. Ya Allah, saya sungguh gemetar.

Nah, sore hari tadi, baru satu penerbit yang menelpon saya. Saya yakin… sangat yakin, kalau para penerbit besar itu, satu saja editornya mau membaca HOPE AND DREAM, MEMOAR GURU pasti tergoda dech. Bisa jadi bakal meminang sekuel kedua dan ketiganya. (walah yang kedua baru diedit 5 judul), yang ketiga baru woro-woro audisinya.

Ah mbuh, saya kok jadi kebanyakan mimpi. yang pasti,dalam seminar Gerakan Guru Menulis IGI, yang juga mengusung bedah buku HOPE AND DREAM, MEMOAR GURU, IGI bisa sambil audisi naskah buku.

Dan…. gak usah takut, Pustaka Nurul Haqqy, masih siap jadi bumper kok. Hehehehe (intip rekeningku. Semoga tahun ini TPP ku lancar).

Ayo bantu saya menegakkan jembatan mimpi itu, dan mari kita wujudkan mimpi kita. percayalah, “Setiap kenangan hanya akan jadi nisan, kecuali dituliskan.”

Ssst, saya juga sudah gerilya kirim surat cinta ke beberapa penerbit agar mau melirik karya teman-teman.

2 thoughts on “JEMBATAN MIMPI (Kuingin Bersama Para Guru Menjadi Penulis Buku untuk Murid-murid Kami)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s