DUA LELAKI


DUA LELAKI

Oleh: Faradina Izdhihary

Tatap mata perempuan itu tampak kosong. Cahaya mata yang biasa berbinar itu redup. Duka apa yang ia simpan di kelopak mata coklatnya, tak ada yang tahu. Dalam sajaknya pagi ini ia tuliskan, “segaris luka menelan bulan semalam”.

Hari ini tak ada segaris senyum di bibir yang biasanya rekah itu. Keempat anaknya sesekali menatap wajah bundanya dengan penuh tanda tanya.

“Bunda sakit?” si bontot yang biasanya nakal bertanya padanya dengan hati-hati.

Perempuan itu menggeleng. Dipangkunya si bontot dan diciumnya berkali-kali pipi yang bulat itu sepenuh hatinya.

“Bunda tak sakit, Nak, hanya bunda lupa bagaimana cara tertawa, bahkan tersenyum pun bunda lupa,” begitu perempuan itu menjawab dalam hatinya.

Seharian rumah sederhana itu kehilangan warna. Mendung di langit menggelayut juga di langit-langit kamarnya.

Perempuan itu membawa pulang mendung usai jumpa fans dengan seorang penulis dari ibu kota. Perempuan itu tak hendak, bahkan tak lagi mampu mengeja nama pengarang tersebut. Apa yang ia lihat tadi siang di sebuah mall terbesar di kotanya, sangat melukai hatinya. Penulis yang selama ini diam-diam mengajaknya berbagi kasih sayang, lewat chatting bahkan saling membuka kamera itu ternyata tak seindah bayangannya.

Masih terlukis jelas dalam hatinya, bagaimana pagi tadi dengan hati berbunga-bunga ia berangkat di acara jumpa fans dan bedah buku. Ia membayangkan akan disalami kekasih mayanya itu dengan hangat. Bahkan mungkin, lelaki itu akan nekad memeluk dan menciumnya.

Panas wajag perempuan itu membayangkan indahnya perjumpaan yang telah lama sangat ia harapkan. Tiga bulan berteman di dunia maya berlanjut dengan pernyataan saling sayang dan saling mengasihi, hingga tahun kedua.  Keinginan untuk bertemu dan menatap mata teduh yang hanya mampu ia tatap di layar monitor notebooknya, sering membuat dada perempuan itu nyeri. Bahkan sering ia bertanya pada lelaki mayanya itu dalam sajak-sajaknya yang pedih.

 

Kau tahu,

kuntum-kuntum mawar yang kau tebar di dada

telah bermekaran dalam mimpiku.

jarak yang terulur

waktu yang tak pernah  undur

menggugurkan mimpi 

rindu menguntumkan kelopak-kelopak kamboja

pertemuan jadi nisan

 

Lelaki mayanya yang seorang cerpenis itu akan membalasnya dengan kalimat-kalimat romantis.

“Honey… please mengertilah. Bila benar cinta kita seperti kuntum melati, percayalah, waktu akan bersekutu dengan kita. Suatu saat, rindu akan mempertemukan kita pada muaranya. Dan aku pasti akan memelukmu selamanya.”

Perempuan itu selalu menangis bila lelaki mayanya memanggilnya dengan sebutan-sebutan romantis yang tak pernah ia dapat dari lelakinya. Honey, Dear, Sayang, Kasih, Cinta adalah panggilan-panggilan sayang yang ia terima dari lelakinya. Panggilan-panggilan yang membuat hatinya selalu gemetar.

Sayang, semua kemesraan yang terbangun demikian indah itu begitu saja digugurkan oleh lelaki mayanya. Dalam acara jumpa fans dan bedah buku itu, lelaki mayanya bersikap biasa-biasa saja, menyapanya demikian datar, dengan senyum yang dipaksakan, pura-pura ramah. Senyum dan sikap yang sama ia berikan pada penggemar-penggemarnya yang rata-rata adalah ibu rumah tangga dan gadis-gadis remaja.

Yang lebih menyakitkan, awalnya bahkan lelaki mayanya itu bersikap seolah tak mengenalnya. Meski perempuan itu telah duduk di kursi paling depan dan selalu menatap lurus penuh kasih pada lelaki mayanya. Tak ada respon. Padahal lelaki mayanya pernah menulis satu kalimat yang membuat perempuan itu melayang, meninggalkan dunianya.

“Kau tahu, bahkan bila kita berada dalam satu tempat, di antara ribuan orang aku akan menemukanmu, meski kita belum pernah bertemu. Matamu yang indah, senyummu yang selalu rekah, membuat hari-hariku menjadi makin indah. Lebih dari itu, Kau harus tahu debaran dada kita pasti akan saling memanggil, dan kerinduan kita akan mempertemukan kita, entah kapan, dimana. Tapi aku yakin, cinta kita benar adanya.”

Saat host memberi kesempatan pada para fans untuk meminta tanda tangan, perempuan itu bergegas menyapa lelaki mayanya.

“Hai…!” hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.

“Hai juga. Siapa ya?”

Lelaki maya itu membalas sapanya biasa saja. Tak ada jabat tangan,  pelukan, atau ciuman seperti yang tadi sangat diharapkannya.

“Vania…. Wah…. Akhirnya kita bisa juga bertemu. Kapan ke Jakarta lagi?” suara lelaki mayanya mendadak berubah hangat dan mesra ketika seorang perempuan berambut panjang dengan celana jeans ketat dan tank top merah jambu mendekatinya.

“Baik. Sengaja aku datang ke kota ini saat tahu Kau punya acara di sini,”jawab perempuan yang dipanggil Vania itu.

Berkeping-keping hati perempuan itu saat dilihatnya lelaki mayanya memeluk dan mencium Vania. Seharusnya pelukan dan ciuman itu untukku, bukan untuk Vania.

Belum reda rasa cemburu membakar dada Vania muncul perempuan cantik lainnya yang juga dipeluk dan dicium lelaki mayanya dengan hangat dan mesra. Seperti mengejek perempuan itu yang tampil sederhana.

Perempuan itu melirik baju yang dikenakannya. Baju yang ia jahitkan pada tetangganya. Tak ada yang istimewa pada penampilannya. Rambutnya yang sebahu bahkan hanya ia ikat dengan karet gelang. Tak ada sedikit pun make up yang ia kenakan. Ia tampil seperti apa adanya dirinya. Sebab, lelaki mayanya pernah memuja kecantikan alaminya.

“Aku menyukai kecantikanmu yang alami. Tak ada kepalsuan. Beda dengan perempuan-perempuan yang bermake up tebal, mereka itu sesungguhnya munafik. Tak mau mensyukuri anugerah Tuhan. Bersembunyi di balik topeng untuk menutupi kekurangannya,” tulis lelaki itu suatu kali padanya saat chatting sambil saling membuka webcam.

Nyatanya? Lelaki mayanya sama sekali tak mengenalnya apalagi memuja kesederhanaan penampilannya.

Tak tahan dengan semua itu, perempuan itu meninggalkan acara itu sebelum mendapatkan tanda tangan  lelaki mayanya di buku yang tadi baru saja ia beli.

Di parkiran, hampir saja perempuan itu membuang buku itu ke dalam tong sampah. Namun, pandangan curiga dari satpam yang berjaga mengurungkan niatnya.

“Bapak mau?” akhirnya ia berikan buku itu pada si satpam.

Satpam itu terbelalak tak percaya. Matanya berbinar menerima buku terbitan baru karya pengarang idolanya.

 

***

Hingga saat lelakinya tiba, perempuan itu masih belum menemu cara, bagaimana mengembangkan senyumnya.

Lelaki bermata teduh yang kuyup sehabis seharian bergumul dengan tugas-tugas kantor itu tak terlalu peduli dengan wajah perempuannya. Terlalu sering ia menatap lukisan duka di wajah ibu anak-anaknya. Hampir tiap hari perempuan itu tenggelam dalam sajak-sajaknya, wirid panjang berselang-seling dengan permohonan, dan tangis sesal atas dosa-dosa yang diperbuatnya. Perempuannya juga suka beururai air mata saat menulis sajak atau cerpen-cerpennya.

Lelaki itu mengerti, perempuannya berhati rapuh. Sedikit saja angin menyentuhnya, butir-butir air matanya pasti luruh. Herannya, lelaki itu begitu suka menjilati air mata asin perempuannya saat mencumbu perempuannya. Seksi dan menggoda, menampakkan ketakberdayaan, dan kepasrahan, gumam lelaki itu tiap kali mencium pipi istrinya yang basah air mata.

“Ada yang kau sedihkan hari  ini? Anak-anak nakal atau uang belanja kurang?” tanya lelaki itu  sambil membuka bajunya.

Perempuan itu tak mengalihkan pandangan matanya pada layar monitor yang seharian menyala di depan matanya. Dada perempuan itu naik turun seperti membawa beban, perlahan ia menggeleng.

“Kamu menulis cerita sedih lagi hari ini?” lelakinya bertanya kembali sambil menggantungkan bajunya.

Lelaki itu terbiasa melihat istrinya tersenyum tertawa, marah-marah, bahkan menangis di depan notebooknya. Ia mengerti, obsesi istrinya: menjadi seorang penulis, penulis high quality katanya, bukan penulis roman picisan.

“Tidurlah, jangan terlalu memaksa!” lelaki itu menyentuh pundak istrinya lembut.

Setelah mencium kening perempuannya, lelaki itu berbaringing, menghapus lelah dalam dengkurnya.

Perempuan itu tetap tergugu, menatap layar monitor yang menyala. Di sana ia temukan foto seseorang pemilik sepasang mata teduh yang mengacaukan hari-harinya. Lelaki yang hanya ia kenal lewat dunia maya, lelaki yang mengajarinya menulis. Setiap hari rasa kagumnya berubah menjadi rasa suka. Lelaki itu mampu menumbuhkan rasa percaya diri perempuan itu, bahwa ia mampu menulis.

Baginya kini, dunia terbelah dua, dunia nyata dan dunia maya. Di dunia nyata ia mencintai suami dan anak-anaknya, tak bisa hidup tanpa mereka. Di dunia maya, ia memuja lelaki yang wajahnya kini ia tatap di layar monitornya. Entah, berapa puluh kali, perempuan itu membuka wall Facebook  lelaki yang ia puja. Sekedar memastikan lelaki itu baik-baik saja, membaca status yang di-update, atau mengintip apa yang ditulis hari ini di notenya.

Hingga malam masih juga ia tatap wajah di layar monitor yang menyala itu. Berkali-kali ia mendesah, menahan luruh air mata. Ia tak tahu mengapa wajah lelaki yang belum pernah ia jumpai di dunia nyata itu begitu berkuasa atas hatinya. Hatinya makin hancur saat ia menatap lelakinya mendengkur sebab tumpukan kerja yang mengungkungnya seharian. Di wajah lelaki yang memenuhi segala mimpi dan pintanya itu, ia temukan keteduhan. Entah berapa lama, mungkin setahun atau dua tahun lelaki yang ia cintai pertama kali di dunia itu tenggelam dalam kerja keras seharian. Kadang malah ia harus pulang malam-malam.

“BPK datang minggu depan, KPK akan memeriksa pekan depan,” kalimat yang akhir-akhir ini  sering diceritakan suaminya.

Sejak lelakinya mendapat posisi mapan, hidup semakin mapan. Kebutuhan semakin terjamin. Hm… seperti film atau roman picisan, sering perempuan itu menggumam. Kesibukan membuat lelakinya tinggal seonggok tubuk kelelahan bila sampai padanya malam-malam.

Perempuan itu menghitung mundur hari-harinya. Tentang lelaki yang ia sayangi sepenuh hatinya. Setiap hari, ia sediakan selalu waktu untuk memijat bahu dan punggung lelakinya. Ia suka melakukannya. Seperti ia begitu tergoda setiap menghirup keringat lelakinya sehabis kerja. Baginya keringat yang bau itu sangat seksi sebab menjadi bukti betapa lelakinya mencinta dirinya dan anak-anaknya.

Diciumnya pipi lelaki yang memeluk tubuh dan hatinya bertahun itu dengan air mata hampir runtuh.

“Maafkan, aku Mas,” bisiknya sambil menengadah ke langit-langit kamar.

Di atas sana ia melihat Tuhan murung. Hatinya gemetar. Hampir tiga hari tak dipijatnya bahu lelaki yang bertahun merelakan tubuh dan jiwanya untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya.

Dari layar monitor yang masih menyala, perempuan itu melihat pesan, seseorang mengomentari catatan lelaki yang dipujanya. Dibukanya notes cerita bersambung itu, di kotak komentar  ia baca seorang perempuan memuji tulisan lelaki itu.

“Sungguh hebat dan membuat tertarik untuk terus membacanya.”

Perempuan itu memegang dadanya yang mendadak perih. Mengapa selalu tak rela bila tahu perempuan lain itu memuja lelaki yang dikaguminya.

Sebelum waktu subuh habis, perempuan itu luruh dalam sujud. Menangis ia, mengadukan hatinya. Sebelum usai ia melipat mukena, dengan senyum lelakinya mencium pipinya. Lelakinya mengajak menemui Tuhan di atas ranjang mereka.

Perempuan itu meneteskan air mata di pelukan lelakinya.

***

Matahari semburat merah di balik jendela. Perempuan itu tak bergeming ketika lelakinya mencium pipinya dan berpamitan pergi kerja. Ia malah menarik selimutnya. Ia tak tahu bagaimana menatap matahari yang masih setia pada pagi, tidak seperti dirinya. Perempuan itu hampir-hampir memohon mati untuk menghapus dosanya. Ia bergidik. Ia tak ingin kehilangan lelakinya. Namun, ia juga masih rindu pada lelaki lain yang dipujanya.

Tanpa cuci muka, tanpa mandi, perempuan itu menyalakan notebooknya.

Ia tulis di status terbarunya,

“Bila hari ini pintu langit dibukakan untukku, satu yang ingin kuminta darimu, Tuhan. Kembalikan hatiku seperti dulu. Utuh. Tak terbagi.”

Top of Form

Bottom of Form

(Batu, 28 Januari 2010)

2 thoughts on “DUA LELAKI

  1. Ping-balik: DUA LELAKI | faradinaizdhihary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s