Di Labuan Bajo Kutemukan Lagi Cintaku (Dimuat di malut Pos, lupa kapan hehehe, yang pasti awal 2012)


Di Labuan Bajo Kutemukan Lagi Cintaku

Faradina Izdhihary)*

Suara gending Jawa mengalun pelan siang itu. Ruang tamu rumah kami yang sempit penuh dengan kotak kue dan kue-keu. Suasana dapur hampir tak berbeda, sama ruwetnya. Di sana banyak kerabat sedang sibuk memasak berbagai masakan dan membuat berbagai macam jajanan. Bau olahan kambing menyeruak kemana-mana. Dapur dipenuhi asap dari kayu bakar dari tungku yang tak pernah padam sejak kemarin sore.

Keluarga besarku berkumpul untuk menyambut kedatangan Alfian dan keluarganya untuk melamarku nanti malam. Memang terkesan berlebihan untuk sebuah acara lamaran, tapi begitulah tradisi turun temurun keluarga kami.

“Apakah dia sudah menelpon?”tanya bapak tanpa menutupi gelisahnya.

Aku menggeleng.

“Atau SMS barangkali?”tanya Kang Juned, kakak tertuaku.

Aku menggeleng. Lalu menunduk. Kuremas ujung kaosku seperti meremas hatiku sendiri. Hendak kuhilangkan galau hati ini. Empat hari ini tak ada SMS atau telepon darinya kiriman SMS dan teleponku pun tak dibalasnya.

“Semua kerabat sudah diberitahu?,” tanya ibu pada Kang Juned seperti sengaja mengalihkan pembicaraan.

Kang Juned hanya mengangguk.

“Semoga tidak ada aral apa pun,” kata bapak sambil memandang ke atas.

Aku mengaminkan dalam hati. Tak ada lagi kesanggupanku menutup-nutupi ketidakjelasan khabar Alfian. Bila kemarin-kemarin aku bisa menyampaikan berbagai alasan mulai dari kemungkinan Alfian repot, jaringan telepon sulit karena memang Alfian tinggal di luar Jawa, kini aku benar-benar kehilangan ide.

Entah siapa yang menyebarkan masalah ini pada orang-orang di dapur. Para kerabat mulai santer berkasak-kusuk. Apalagi Pak Dhe Mukram. Wajah dinginnya semakin sinis memandangku dan kedua orang tuaku. Barangkali ia sedang mentertawakan nasib malang yang menimpaku. Ia hanya salah satu di antara banyak kerabat yang menolak perjodohanku dengan Alfian.

“Lelaki dari luar pulau tak bisa dipegang janjinya. Lagi pula kita tak tahu persis bobot, bibit, dan bebetnya,” tambah Bu Dhe Mamik, istri Pak Dhe Mukram, saat itu.

“Kamu piye tho Kang Mahmud? Anak perawan kok dibiarkan milih jodoh sendiri?” tambah Pak Dhe Mukram lagi.

Bapak yang sedari tadi diam, mengisap rokoknya kuat-kuat.

“Biarlah anak-anak menentukan pilihannnya sendiri, Kang. Zaman sudah berubah.”

Untungnya bapakku sangat demokratis. Semua anaknya diberi kebebasan menentukan jodohnya sendiri. Yang penting baik orangnya dan pendidikannya bagus, begitu kata bapak. Soal Alfian yang berasal dari luar Jawa pun bapak tak mempersoalkannya. Bahkan bapak menerima pinangan Alfian yang dilakukannya sendirian. Tanpa orang tua, tanpa kerabat.

“Bukan hanya karena orang tua dan keluargaku berada jauh di sana aku meminangmu sendirian. Aku ingin tunjukkan pada dunia bahwa dengan tanganku sendiri akan kubawa kau menjemput kebahagiaan.”

Perempuan mana yang tak tersanjung dengan janji seindah itu? Perempuan mana yang tak bangga dipinang lelaki yang benar-benar memujanya.

Tiba-tiba Pak Dhe Mukram sudah berdiri di samping ibu.

“Apa kubilang? Lelaki luar pulau tak bisa dipercaya! Paling-paling di sana keluarga besarnya telah menyiapkan perawan dari kerabat mereka sendiri,” kata Pak Dhe Mukram tak memedulikan perasaanku. .

Bapak hanya diam. Ibu memandangku penuh iba.

“Kalau harus nunggu tanpa kejelasan seperti ini aku lebih baik pulang. Lha wong nunggu orang kok gak jelas kabar beritanya,,” pamit Pak Dhe Mukram dengan tatapan tajam ke arahku.

Ludah yang kutelan mendadak menjadi duri. Terasa pedih menyengat saat sampai di tenggorokan. Aku tahu Pak Dhe Mukram sedang membalas sakit hatinya padaku karena aku lebih memilih Alfian daripada menerima pinangan Kang Kolik, anak lelakinya.

Jarum jam sudah menunjukkan jam 10.00 malam. Alfian tak kunjung datang. Teleponnya tak tersambung. SMS-ku tak terkirim.

Satu per satu kerabat berpamitan. Bisik-bisik mereka kini telah menjadi perbincangan yang tak dirahasiakan. Mereka seolah tak mengerti bahwa yang mereka lakukan sama dengan memeras jeruk nipis dan menyiramkan ke atas luka di dadaku. Sebelum seluruh kulit ari di wajahku terkelupas menahan malu, aku berlari ke kamar. Kutarik sanggul di kepalaku dan kulemparkan tepat mengenai fotoku dengan Alfian.

“Penipu!”umpatku pada foto Alfian yang tersenyum manis memandangku.

Entah berapa lama aku menangis. Air mata menenggelamkan semua harapanku.

***

Seminggu, dua minggu, dua bulan, hingga lebih dari setengah tahun tak juga kuterima khabar dari Alfian. Pak Dhe Mukram dan keluarga besarnya semakin menekanku. Mereka kembali menyodor-nyodorkan Kang Kolik, anak laki-lakinya untuk jadi suamiku.

“Kurang apa Kolik itu? Dia itu sarjana, pegawai negeri, dan punya sawah luas pula,” kata Bu Dhe Mamik, istri Pak Dhe Mukram.

“Bagaimana, Nduk?”tanya ibu lembut.

“Aku belum bisa berpikir ke sana Bu. Aku masih ingin bekerja,” jawabku diplomatis.

Rasanya ingin sekali kuteriakkan pada Pak Dhe Mukram, Bu Dhe Mamik, Kang Kolik, dan semua orang di desaku bahwa aku bukan perawan malang yang patut dikasihani. Lagi pula, aku bukan tipe perempuan yang mencari suami dengan melihat kekayaan dan status sosial seseorang.

“Apa kamu masih mengharap Alfian si penipu itu untuk mengawinimu? Sadar Wi…. Sadar!” kali ini Kang Juned mengucapkan kalimat yang membuatku terperangah.

Entah sudah berapa kali ia membawa teman laki-lakinya ke rumah ini lalu menyodor-nyodorkannya padaku. Atau lebih tepatnya ia menawar-nawarkan aku agar segera laku. Oh, alangkah menyedihkannya aku ini. Dan hari ini kembali ia mengajak seorang dokter gigi ke rumah.

“Kau lihat dululah. Jangan apriori. Aku tak mungkin menjodohkanmu dengan laki-laki sembarangan. Dia dokter gigi,” kata Kang Juned.

Aku cuma mendengus. Hatiku benar-benar terluka karena Kang Juned kini tak lagi peduli dengan perasaanku.

“Kang….?”Aku tak kuasa melanjutkan kalimatku. Air mata merebak memenuhi kelopak mataku. Aku segera berlari. Lagi-lagi kamar menjadi tempat persembunyian paling aman bagiku. Di kamar pula kini kutumpahkan kepiluanku pada foto Alfian yang masih kupasang di dinding.

“Fian… Puas kamu menghancurkanku?”tangisku sambil menatap wajah tampan dalam foto itu.

Ketika ibu telah berlalu, kuambil kain batik itu. Namun, pandangan mataku tertuju pada headline berita koran bekas pembungkus kain sutra itu. Penggalan beritanya tak kusangka akan mengubah jalan hidupku. Dadaku berdegup kencang membacanya.

Kupang – Sebanyak lima penumang Kapal Layar Motor (KLM) Karya Sayang, yang dilaporkan tenggelam di perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan selamat. Sedangkan satu penumpang lainnya masih hilang.

“Lima penumpang sudah ditemukan selamat, sedangkan satu lainnya masih dalam pencarian tim SAR,” kata Tedi, Staf SAR Kupang yang dihubungi  wartawan koran ini……………………

Ya Tuhan… Tanggal 29 September? Itu artinya empat hari sebelum hari lamaran yang dijanjikan Alfian.

****

Langit pagi di Labuan Bajo selalu membuatku tentram. Udara yang sejuk dan pemandangan alamnya yang alami membuatku betah berlama-lama berdiri menatap pantai Labuan Bajo. Debur ombak pantai telah menjadi kawan setiaku.

“Gimana? Ramai pengunjung hari ini?” suara Mas Hadi menyapaku pagi ini.

“Alhamdulillah. Siang nanti sudah ada pesanan 20 orang. Rombongan dari Jakarta.”

“Kalau gitu aku periksa tank scuba-nya dulu. Oh ya, kiriman masker kemarin sudah dicek belum?”tanya Mas Hadi sambil melepas jaket dan kemudian meletakkannya di atas meja.

“Sudah, Mas. Aku sendiri yang memeriksa kirimannya kemarin,” kataku sambil menyerahkan nota pengiriman barang padanya.

“Oke kalau gitu aku langsung ke lapangan saja. Kau sehat, kan?”

Aku mengangguk. Mas Hadi tersenyum menatapku kemudian meninggalkanku sendirian di halaman resort keluarga yang sekaligus menjadi kantor

Aku bersyukur di tengah keterbatasan fisikku kini, aku masih bisa bekerja dan menghidupi diriku sendiri. Kadang-kadang rasa ngilu masih terasa di bagian betis kiriku. Namun, rasa sakit di dadaku jauh lebih sakit dibanding nyeri kakiku. Kehilangan seorang yang paling berarti dalam hidup kita adalah luka paling sempurna yang membuat hati menangis tak pernah henti. Waktu ternyata tak sanggup menghapus pahatan namamu di hatiku.

Ingin sekali rasanya aku menemuimu dan bersimpuh memohon ampun padamu. Bagaimana harus menceritakan padamu bahwa selama tiga hari menjelang acara lamaran itu, sepulang berbelanja barang-barang yang hendak kuserahkan padamu, kapal yang kutumpangi tenggelam. Aku terdampar di pulau tak berpenghuni entah berapa lama.

Saat itu tak sedetik pun aku melupakannya. Tapi apa daya. Jangankan menelponmu, memanggil orang lain pun aku tak mampu. Aku hanya mampu berdoa menunggu keajaiban. Saat itu, kematian tak lebih menakutkanku dibanding ketakutanku kehilanganmu. .

Mereka baru menemukanku 3 hari kemudian. Setelah koma seminggu, berbulan-bulan kemudian aku hanya bisa berbaring lemah di atas ranjang sambil mengutuki kecelakaan yang membuatku gagal memilikimu.

Sungguh bukan cacat fisik yang membuatku kini limbung. Bayangan luka hati dan rasa malu yang kucorengkan di wajahmu dan nama baik keluargamu atas ketidak-hadiranku di hari yang telah kujanjikan telah menjadi neraka yang paling menyakitkan bagiku. Ingin sekali aku menemuimu, memohon maaf di kakimu, dan menerima hukuman apa pun darimu.

Alfian yang kau kenal dulu telah jauh berbeda. Ia bukan lagi pemuda gagah yang akan dengan sigap dan kukuh merengkuhmu. Tidak! Ia juga bukan lagi jago diving yang mampu membuat jantungmu berpacu tiap kali kutenggelamkan tubuhku ke dalam laut. Menjauh dan menghilang darimu, dan membiarkanmu menemukan cinta lain yang lebih sempurna adalah wujud cintaku padamu.

“Fian…,”sebuah suara mengagetkanku.

Sebentuk wajah yang berjuta kali kusebut setiap malam, tiba-tiba  berdiri di hadapanku. Kuusap mataku.

“Kau tidak sedang bermimpi! Ini aku.”

Wajah yang ratusan malam kurindukan itu menangis di hadapanku. Ingin sekali aku berlari dan memelukmu.

“Kenapa tak kau kabari aku?”tanyamu.

“Tak ada yang perlu dikabarkan. Semuanya telah berubah.”

“Maksudmu?”

“Aku tak seperti dulu lagi, Wi. Aku tak pantas lagi mendampingimu.”

“Seperti itukah kau menilai dirimu? Kau pikir perempuan macam apa aku ini?”

Kau menangis tersedu di hadapanku. Aku tahu kita sama-sama terluka.

Rasanya seperti memutar kenangan dua tahun lalu ketika pertama kali aku mengenalmu. Kamu gadis cerdas yang selalu berpenampilan sederhana. Kecintaanmu pada laut membuatmu sering kemping, menyelam, dan menjelajahi pantai-pantai yang masih alami. Sayangnya, hidup di alam bebas membuatmu tergelincir dalam pergaulan bebas. Kamu menyerahkan segalanya pada Adrian, kekasihmu. Kamu hamil. Adrian tak bertanggung jawab.

Hari itu kutemukan kamu terkapar dengan darah menetes dari selangkangan.

“Kupanggilkan dokter, ya?”

“Jangan!” kau hampir menjerit saat menarik tanganku.

“Tapi kau sakit! Kau butuh dokter!”

Dengan mobil tuaku kupaksa kau ke dokter.

“Dokter, tolong istri saya,” kataku begitu sampai di ruang periksa.

Matamu melotot tanda protes. Kuletakkan jari telunjukku di bibirmu. Syukurlah kau selamat, meski bayimu tidak.

“Kau ingat semuanya?”tanyamu membuyarkan lamunanku.

“Ya… siapa tahu kamu kesini hanya hendak melihat komodo,” godaku.

Kamu tertawa kecil sambil memukul bahuku.

 

 

****

“Kurasa aku mulai jatuh cinta,”kataku pada Alfian.

“Jadi selama ini belum pernah?”tanya Alfian.

Alfian pura-pura marah. Dengan langkah kaki yang belum tegak benar ia melangkah ke pantai. Kukejar dia.

“Aku jatuh cinta pada pantaimu!”bisikku.

Pantai laut Labuan Bajo yang biru menyambut kami dengan hangat.

Catatan:

Nduk (Jw): panggilan untuk anak perempuan

Pak Dhe (Jw) : panggilan kepada kakak laki-laki dari ibu/bapak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s