17 PENA UNTUK DUNIA (Sebuah Proyek Mimpi Sang Pemimpi)


Ketika pertengahan Juli 2012 lalu, kepala sekolah  tempat saya mengajar di SMA Negeri 1 Batu, Pak Suprantiyonmeunjuk saya untuk menjadi pembimbing siswa di ekstrakurikuler Parama (nama ekstra untuk menulis di sekolah kami) rasanya saya seperti tersadar bahwa saya mempunya banyak impian dalam menjalani profesi sebagai seorang guru. Tepatnya, impian seorang guru Bahasa Indonesia.

Membangkitkan Impian Masa lalu

Dulu, sekitar tahun 2006-2007 di sekolah lama saya pernah mencoba proyek mimpi, “membimbing anak didik saya yang suka menulis untuk menulis novel. Waktu itu sedang booming novel Ada Apa dengan Cinta. Sebuah novel yang menurut saya sangat tidak ada apa-apanya, tetapi ternyata sangat laris, best seller, bahkan filmnya pun meledak. Senuah pencapaian yang sangat luar biasa.

Beruntungnya saat itu berlaku Kurikulum Berbasis Kompetensi, yang salah satu perbedaannya dengan kurikulum sebelumnya maupu KTSP adalah mata pelajaran Sastra Indonesia tidak lagi menjadi salah satu matpel yang di-UN-kan. Maka saya mantapkan diri mengajak anak-anak membaca banyak contoh novel remaja yang beredar, menganalisis kelebihan dan kekurangannya, serta mencoba melihat selera pasar. Kemudian anak-anak saya tanya, “Bisakah kalian menulis seperti ini?”  “Maukah kalian ibu ajak untuk belajar menghasilkan novel yang lebih baik dari ini? Target kita selesai dalam setahun.”

Subhanallah, ternyata merka menyambutnya dengan baik. Setahun itu melalui proses yang panjang, dari 23 anak, 16 orang di antaranya berhasil menyelesaikan. Dan secara obyektif saya sanggup bertaruh bahwa 9 karya di antaranya lebih bagus disbanding novel-novel remaja yang saat itu beredar.

Tentu saja saya sangat bahagia. Maka dengan penuh kebahagiaan saya menghadap kepala sekolah untuk minta bantuan untuk menindaklanjuti karya anak-anak itu, Ternyata sambutannya “beku”. Uuuuh, tentu saja saya sedih. Saya lalu mencoba menghadap kepala dinas dan menceritakan perihal karya anak-anak yang menakjubkan ini (sengaja saya buat ambigu karena tidak hanya karyanya yang menakjubkan tetapi semangat belajar mereka, kesungguhan mereka juga menakjubkan). Sedihnya, ternyata kata kepala dinas saat itu, tidak ada alokasi dana untuk yang demikian itu.

Sungguh, andai bisa saya gambarkan, harapan-harapan dan doa-doa saya yang selama setahun ini selalu saya panjatkan ketika mendampingi anak didik saya dalam menulis, mendadak berguguran . Uh, air mata saya rasanya hambir berhamburan semua. Ya Allah… mungkin mimpi saya terlalu tinggi, putus saya. Ya saya sadar, saya seorang pemimpi.

Sejak saat itu, saya kuburkan impian saya. Saya tak mau melibatkan orang lain, terutama anak didik saya dalam mimpi saya. Terlalu sakit rasanya.

Juli 2011

Saya ditunjuk menjadi penasihat Akademik (pengganti istilah wali kelas) di kelas X.7. Seoerti biasanya saya memperkenalkan diri dan meminta siswa untuk memperkenalkan dirinya masing-masing.

Tiba gilirasn seorang gadis manis nan mungil.

“Nama saya Larasati, saya dari SMP Negeri 1 Batu tinggal di Junrejo, …”  Katalimatnya lancer dan tegas. Sorot matanya menandakan kecerdasan.

“Laras, kamu tidak ingat Ibu? “Tanya saya setelah yakin seratus persen bahwa saya mengenal baik gadis ini di masa lalu, kira-kira 6 atau 7 tahun sebelumnya.

Dia memandang saya heran. Lalu menggelengkan kepala.

“Kamu kan yang waktu SD jago nulis sinopsis? Pernah juara dua tingkat propinsi?” Tanya saja lagi.

“Iya Bu, “ katanya sambil menatap saya.”Tapi, saya … saya tidak ingat siapa Ibu.”

Saya tahu dia mencoba mengenali saya. Barangkali pula mencoba mengingat-ingat dimana pernah ketemu saya. Sementara bagi saya, gadis itu seperti sebuah pertanda yang dikirim Allah untuk mewujudkan impian saya.

“Hm… belum pernah ketemu ibu?”

“Sepertinya…,” katanya ;agi.

“Laras… coba diingat-ingat, siapa yang melatihmu membuat synopsis selain guru SD-mu? Siapa yang beberapa kali dating ke rumahmu? Rumahmu kan yang terletak persis di selatan SD Junrejo I itu?”

Ia mengangguk. Saya yakin ingatannya mulai terbuka.

“Kamu pernah ke sekolah ibu yang lama (saya sebutkan nama sekolah tempat saya mengajar sebelumnya) kan? Berlatih di laboratorium, direkam pakai video saat kamu mempresentasikan sinopsismu? Ingat?

“Iya, Bu. Saya … saya mulai ingat sedikit-sedikit,” katanya malu-malu.

Saya tertawa ringan. “Nah coba kalian lihat, ternyata cinta ibu bertepuk sebelah tangan. Dulu, saat Laras masih kelas IV dan ibu membimbingnya untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba sinopsis tingkat propinsi, setelah memenangkan lomba di kecamatan dan kota, saya jatuh cinta pada Laras.”

Anak-anak tertawa lirih.

“Apesnya, ternyata cinta ibu ditolak. Buktinya, dia sudah gak ingat sama ibu. Hehehe. Oke dech, nanti istirahat Laras temui ibu ya di ruang guru. Ibu masih kangen sama kamu,” kataku akhirnya melanjutkan perkenalan ke siswa berikutnya.

Begitulah akhirnya, Laras benar-benar menemui saya di ruang guru saat istirahat.

“Bagaimana Nduk, sudah ingat Ibu? “ tanya saya.

“Iya, Bu. Maafkan saya,” katanya sedikit tersipu.

“Nggak papa-. Oh iya, ibu cuma mau nanya. Bagaimana kelanjutan hobimu menulis? Masih suka membaca dan menulis, kan?”

Dia terdiam beberapa saat.

“Nggak lagi, Bu. Di SMP jarang ada kegiatan lomba menulis. Lagi pula saya gak tahu siapa yang bersedia membimbing saya menulis,” katanya seperti pasrah.

Ya Allah, persis seperti yang saya alami dulu ketika masih sekolah. Saya sangat hobi menulis, ingin belajar menulis, tetapi tidak tahu kemana harus berguru. Sementara pelajaran Bahasa Indonesia tidak memberi kesempatan yang cukup dan tugas yang menantang bagi saya untuk mengembangkan minat saya mrnulis/

“Nduk, tahukah kamu, ketika tadi ibu menemukanmu di kelas, ibu seperti diingatkan Allah dengan doa kecil ibu saat menemukanmu.” Saya menarik nafas panjang. Saya tatap Laras yang keheran-heranan mendengar kalimat saya.

“Saat ibu tahu betapa pandainya kamu menulis, betapa cerdasnya kamu, ibu sampai berucap dalam hati, “Ya Allah, andai saja saya memiliki murid secerdas ini, akan saya bombing dia untuk menjadi seorang penulis hebat semampu yang saya bisa. Itulah Nduk mengapa ketika ibu melihat kamu, ibu merasa bahwa Allah mengirim kamu untuk menguji ibu, apakah ibu main-main dengan impian ibu dulu.”

“Oh…” Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya. Saya tahu, ia tak menduganya.

“Nah, bagaimana? Maukah kamu membantu ibu menjawab tagihan Allah itu? Masihkah kamu mau belajar menulis lagi?”

“Iya Bu. Terima kasih,” katanya sambil mencium  tanganku.  Matanya berbinar. Kemudian ia berpamitan masuk kels karena bel masuk sudah berbunyi.

Sejak itu, Laras mulai kembali pada minat lamanya yang tersembunyi. Meski tentang hobi membacanya, tidak pernah terhenti. Ia juga mulai menulis cerpen lagi. Hingga beberapa bulan berikutnya, salah satu cerpennya saya ikutkan lomba yang diadalan Balai Bahasa Jawa Timur, judulnya “Pulang”.

Saya sempat mendapat telepon dari salah satu peneliti di Badan bahasa jawa Timur, Pak Yani Paryono bahwa cerpen Laras terpilih menjadi salah satu cerpen yang dikirim dalam lomba di tingkat nasional. Sayang tidak menang dan dari Badan Bahasa Jawa Timur pun secara resmi memang tidak menyelenggarakan lomba, hanya menyeleksi naskah sebelum dikirimkan ke tingkat nasional.

Saya sampaikan hal itu pada Laras yang kemudian makin bersemangat mewujudkan impiannya. Ya, baru Laras yang saya bimbing di luar jam pelajaran atau tugas bahasa Indonesia.

Menjadi Pembina Ekstra Parama= Impian itu Seperti Benih Yang Mulai Tumbuh

Seperti saya tulis di awal, ketika saya ditunjuk menjadi Pembina ekstra, impian-impian lama saya seperti dibangkitkan kembali. Maka di awal pertemuan, saya sampaikan impian saya itu. Saya ceritakan bagaimana majalah sekolah di SMA saya yang lama. Saya tantang mereka untuk menghasilkan karya, menerbitkan majalah Parama dengan format dan konten baru: yang sesuai dengan jiwa remaja mereka, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai edukasi.

“Yang paling membuat ibu nyesek adalah ketika menilai cerpen-cerpen kalian sebagai tugas menjelang UKK kelas X kemarin. Banyak cerpen karya kalian yang bagus. Dan selama ini, karya-karya itu kemudian sia-sia saja menjadi tumpukan kertas. Takkah kalian ingin membuatnya menjadi sebuah karya indah yang layak kita banggakan pada teman-teman kita? Orang tua, dan masyarakat luas?” tanya saya.

Mereka terdiam seperti dibawa oleh pikiran-pikiran yang barangkali merupakan pemikiran yang sama sekali belum pernah terlintas.

“Kalau kalian mau, kita adakan audisi. Nanti yang terpilih akan ibu bimbing, ibu bantu membenahi.  Hasilnya kita terbitkan dan kita jual ke masyarakat luas?”

Begitulah hari itu mereka begitu bersemangat menyambut impian-impian saya yang ternyata juga merupakan impian mereka mengapa memilih ekstra menulis. Sekedar cerita singkat, pada saat promosi ekstrakurikuler saya sengaja meminta anak-anak menjual nama pena saya untuk mencari peserta. Di brosur mereka tulis begini, “Parama tahun ini akan dibina oleh seorang novelis yang baru saja menerbitkan novelnya SAFIR CINTA yaitu Ibu faradina Izdhihary. Tahukah kalian, siapa beliau? Beliau adalah Bu Istiqomah,  salah satu guru bahasa Indonesia di SMABA.” Heheheh Alhamdulillah, lumayan manjur. Yang ikut ekstra Parama lumayan banyaklah.

Audisi cerpen itu akhirnya berlangsung. Agak sulit karena ini merupakan hal yang baru bagi siswa. Awalnya hanya beberpa karya saja yang masuk hingga batas waktu yang ditentukan. Terpaksa DL diperpanjang hingga jumlah naskah yang bagus mencapai target. Singkat cerita, mereka sendirilah yang saya minta untuk memilih cerpen yang baik, tentu saya tetap membimbingnya. Setelah itu, saya membaca cerpen pilihan mereka. Meski sebagian besar saya setuju, tetapi ada juga dua naskah yang saya tolak. Langkah berikutnya adalah pembimbingan untuk membenahi cerpen tersebut hingga tahap mengeditnya. Pada tahapan mengedit ini, saya selain ikut serta mengedit, mereka saya ajari caranya mengedit dan langsung mempraktikkannya. Artinya, dari 16 cerpen (plus satu cerpen saya) itu saya hanya mengeditnya beberapa judul, sisanya mereka sendirilah yang mengeditnya. Tentu saja saya masih memeriksa setelah itu, meski ada tiga judul yang saya khilaf, lupa untuk memeriksanya kembali.

Kegiatan berikutnya adalah membuat cover dan lay out. Saya ajak mereka untuk mempelajari cover dan lay out novrl dan kumcer yang ada di perpustakaan. Kami kemudian mendiskusikan kelebihan dn kekurangannya. Dari situ kemudian mereka saya minta untuk mendiskusikan judul kumcer, konsep cover, dan lay outnya. Dalam tahapan ini tidak semua anggota Parama terlibat. Hanya beberapa siswa yang mempunyai kemampuan desain.

Alhamdulillah, setelah melewati diskusi dan kerja keras hamper dua minggu lay out dan cover kumcer selesai. Langsung saya urusi ISBN nya. Kebetulan saya memiliki sebuah penerbitan yang masih baru. (Oh iya, selama proses persiapan penerbitan kumcer ini berlangsung, kami memperoleh dukungan sepenuhnya dari kepala sekolah dan waka kesiswaan). Bahkan beberapa guru dan sebagian siswa yang mengetahui proyek ini ikut tidak sabar menunggu kumcer itu terbit.

Tepat tanggal 14 Desember, kumcer itu jadi dan dikirim langsung ke sekolah. Baru tanggal 16 Desember 2012 kemudin dijual (tidak wajib) kepada orang tua siswa saat pembagian rapot. Alhamdulillah, jumlah yang terjual lumayan. Persis seperti perkiraan saya. Hanya 25% dari jumlah orang tua siswa. Sebuah jumlah yang cukup besar dan barangkali bisa dipakai sebagai gambaran awal bagaimana minat membaca para siswa. Mengapa? Saya yakin bahwa selain bentuk apresiasi atas karya siswa, para orang tua itu pasti membeli kumcer utuk anaknya. Rasanya tidak mungkin mereka membeli bila anaknya tidak suka membaca.

Oh iya, setelah proyek kumcer ini, selama hari-hari terakhir liburan beberapa siswa mendesain cover dan lay out majalah Parama. Karena kegiatan ini juga hal baru, tahun-tahun sebelumnya tahapan ini diserahkan ke percetakan, saya meyadari kalau akhirnya penerbitan majalah tertunda dua minggu dari jadwal yang saya tetapkan. Insyaallah majalh baru dikirim dari percetakan tanggal 16 januari 2013. (Doakan agar tidak ada hambatan).

The Next, Writerpreneurship

Masih ada sekitar 250 eksemplar kumcer 17 Pena untuk Dunia karya anak didik saya saat ini. Langkah berikutnya yang saya sampaikan pada siswa adalah belajar “menjual” produk mereka.

“Jangan malu. Ini karya kalian. Ini adalah salah satu wujud nyata kalian belajar entrepreneur. Ibu tidak mengharuskan kalian harus berhasil menjual apalagi menargetkan untuk menjualnya. Tidak! Tapi gunakan kesempatan ini untuk belajar nyata. Ini karya kalian! Kalian harus bangga dan percaya bahwa karya kalian memang layak untuk dibaca masyarakat luas.”

Saat saya menyampaikan hal itu mereka tampak sangat antusias. Secara sekilas saya berikan gambaran bagaimana proses distribusi buku ke took buku, keuntungan dan kelebihannya. Saya sampaikan pada mereka bahwa seorang penulis yang berhasil adalah seorang penulis yang mampu “menjual karyanya”.

Begitulah akhirnya. Tadi pagi beberapa siswa menyampaikan laporan hasil kerjanya. Beberapa siswa mengaku telah berhasil menjual kumcernya kepada mantan guru SMP-nya, kepada temannya dari sekolah lain, juga kepada kerabatnya. Mereka juga mulai berani berpromosi secara online di FB maupun blognya. (hahahaha yang ini saya terpaksa ngakak. Ternyata mereka kopi paste cara saya mempromosikan buku-buku karya saya.)

Saya bangga dan terharu mengetahui semua itu. Doa saya tak henti-henti rasanya melihat semangat mereka untuk belajar. Dan siang tadi adalah pertemuan pertama semester genap ini. The next project sudah menanti, kata saya. Dan lagi, binary mata penuh harap dan kesiapan menerima tantangan itu saya temukan pada wajah-wajah bening anak didik saya.

Oh iya, Laras juga aktif di parama. Saat ini dia sedang terus bersungguh-sungguh menyelesaikan novel fantasinya. Semoga dia bisa mewujudkan impiannya.

Makasih ya anak-anak. kalian hebat! Ibu yakin kalau kalian mau belajar terus, menulis terus, suatu saat kalian akan jadi penulis hebat, sangat hebat! Makasih juga untuk Pak kepsek dan pak Waka yang sudah memberikan kepercayaan dan dukungan saya untuk mewujudkan impian anak-anak yang alhamdulillah sama dengan impian saya.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “17 PENA UNTUK DUNIA (Sebuah Proyek Mimpi Sang Pemimpi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s