SAHADAH CINTA PAPA (Dimuat di Tavloid GAUL tahun 2011 lalu, lupa aku)


SAHADAH CINTA PAPA

Faradina Izdhihary)*

Ini gila!! Aku gak mungkin bisa terima tindakan papa. Jelas-jelas mama meninggal belum genap seribu hari, tega-teganya papa berpacaran sama Tante Hanny. Betapa sangat tidak setianya papa. Apakah memang begitu sikap para suami sepeninggal istrinya? Tega sekali papa.

Aku bingung. Suntuk! Rasanya mau marah. Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya agar papa mendengar protesku. Sayang aku tahu aku gak pantas dan tak bakal tega melakukan semua itu pada papa. Bukan hanya karena aku lahir  dari tetes spermanya, bukan pula karena papa yang bekerja siang malam membiayai hidupku selama ini. Sungguh, bukan! Tapi karena aku tahu sepenuh hati  bahwa papa menyayangiku, menyayangi Rovina  dan Novita adik-adikku, juga dulu selalu lembut dan penuh kasih pada mama. Bagaimana mungkin membalas kebaikan dan cinta kasih papa dengan makian apalagi kemarahan???

Tapi tindakan papa berpacaran dengan Tante Hanny benar-benar tak bisa ditolerir.

Dhug! Dhug! Berkali-kali kutinju tembok kamarku dengan kepalan tanganku. Sakit memang! Tapi setidaknya aku dapat memindahkan rasa sakit hatiku ke tanganku.

Sampai usiaku 16 tahun sekarang ini seingatku aku tak pernah menangis. Mama selalu mengajarkan padaku, “Anak laki-laki harus kuat! Jangan cengeng! Menangislah dalam hati bila sangat dukamu!” Itu sebabnya, saat mama meninggal dan dimakamkan pun aku tak menitikkan air mata. Hanya, malam-malam saat aku mendoakan mama, aku tak mampu menahan luruhnya air mata. Air mata yang berderai demi memohon ampunan buat mama, dan permohonan agar Tuhan memberikan surga terindah buat mama.

Tapi kali ini, aku sungguh tak bisa memenuhi pelajaran mama. Aku kecewa. Marah. Sakit hati sama sikap papa. Dan aku menangis karenanya.

****

Hari minggu ini seperti hari Minggu saat mama masih ada. Papa mengajak kami berbelanja ke supermarket untuk keperluan sehari-hari selama seminggu sekaligus wisata kuliner.  Bedanya, Minggu ini papa mengajak Tante Hanny.

Betapa sesak dadaku melihat Tante Hanny duduk di kursi depan, berdampingan dengan papa. Demikian mesra. Padahal, biasanya mama duduk di kursi tengah sambil memangku Novita. Ah, kenangan indah sepanjang perjalanan saat mama masih ada itu takkan mungkin hilang.

Sebelum berangkat, mama pasti memintaku untuk memimpin kami berdoa.

“Fandi, pimpin adik-adikmu berdoa. Kamu satu-satunya anak lelaki mama, anak sulung juga. Kamu calon pemimpin keluarga ini, pengganti papa,” suara mama seakan terngiang di telinga saat papa mulai menghidupkan mesin Avanza.

“Pa… kita berdoa dulu,” seruku pada papa yang asyik memasang safety belt sambil menatap Tante Henny. Tatapan itu mesra sekali. Sebel….!

“Oh ya… hampir lupa. Kamu pimpin ya Fan!”jawab papa.

Entah apa aku salah, aku seperti menangkap suara gemetar dalam suara papa. Apakah papa menjadi rindu pada mama? Atau papa merasa bersalah karena mengkhianati mama?  Meski kurang khusuk, kupimpin juga adik-adikku berdoa. Kulihat Novita dan Rovinna pun berdoa asal-asalan. Ah, andai ada mama pasti setelah kami selesaikan doa, mama akan memberi kami nasihat yang panjang.

Tiba-tiba aku merasa menyesal sekali saat ingat betapa kadang-kadang  dalam hati aku mengeluh karena mama cerewet sekali. Sedikit saja kami berbuat salah, pasti  nasihat mama yang panjang akan kami terima. Ma, aku kangen nasihatmu, bisikku lirih. Air mata yang sejak tadi mengintip di pelupuk mataku, tak dapat kubendung. Aku tersedu.

“Mas Fandi kenapa?” tanya Novita yang melihatku mengusap air mata.

“Gak papa. Mas Fandi cuma ngantuk,” jawabku mencoba menyembunyikan isakan tangisku.

“Kamu sakit, Fan?” tanya papa sambil melambatkan mobil.

Aku diam tak menjawab. Kulihat papa menahan emosi, buktinya papa mengetatkan gerahamnya. Biarin, biar papa tahu kalau aku marah. Papa harus tahu aku tak rela posisi mama direbut Tante Hanny atau siapa pun.

Sampai di supermarket langganan, aku, Rovinna, dan Novita  langsung menyerbu rak tempat kebutuhan kami masing-masing. Aku memilih shampo, pembersih muka (maklum beberapa jerawat sering muncul kalau banyak tugas dan ulangan), Novita dan Rovinna menyerbu rak majalah dan komik. Aku tersenyum, membayangkan saat mama masih ada. Betapa ramainya kedua adikku meminta pendapat mama, tentang majalah atau komik yang boleh mereka baca.

“Mas, ambil ini saja, aromanya lebih lembut dan ini antikumannya lebih bagus,”tiba-tiba kudengar suara Tante Henny.

Bergegas aku menghampiri papa dan Tante Hanny.

“Aku gak mau papa mengganti pembersih lantai rumah kita! Ini kesukaan mama,” seruku sambil meraih kembali pembersih lantai yang baru saja dikembalikan Tante Hanny ke tempatnya semula.

“Fandi, jaga sikapmu,” papa berbicara lirih namun dengan intonasi ditekan.

Mata papa menatapku tajam. Aku mendengus.

“Fandi gak mau siapa pun mengganti kesukaan mama, apalagi menggantikan tempatnya!”kataku sinis sambil menatap tajam pada Tante Hanny.

Tante Hanny menggigit bibirnya. Ia pasti tak menduga aku berani berkata sekasar itu.

Kami , aku, papa, dan Tante Hanny, pulang tanpa berbincang sepata kata pun.  Rasanya hilang seleraku mendengarkan celoteh Rovina dan Novita.

****

Keputusanku bulat. Aku memilih tinggal di rumah nenek. Selain lebih dekat dengan sekolah, aku bisa menemani nenek di hari tuanya.

Papa menerima begitu saja alasanku untuk tinggal di rumah nenek. Malahan, beliau mengantarkan kepindahanku. Justru nenek yang tinggal hanya berdua dengan  Mbok Sarmi yang uring-uringan.

“Kamu gak kasihan sama papamu, Fan?”tanya nenek.

“Nek, Fandi capek, tiap hari harus naik motor hampir 7 km. Bentar lagi Fandi ulangan kenaikan kelas. Fandi butuh ketenangan belajar buat penjurusan,” jawabku sungguh-sungguh.

Aku tak peduli apa nenek mengerti soal penjurusan apa tidak. Yang  penting sambil menjawab pertanyaan nenek, aku bisa menyindir papa.

“Memang di rumahmu kamu merasa tidak tenang? Ada yang ganggu? Maksudmu si Rovinna dan Novita? Mereka kan masih kecil, butuh perhatian. Mereka butuh kamu untuk menemani bermain,” pertanyaan dan nasihat nenek memberondong. Persis seperti mama. Ya, sifat-sifat mama mungkin diwarisi dari sifat nenek. Atau memang begitu sifat perempuan dewasa? Cerewet? Ah, bukan…. Itu bentuk perhatian mereka, ralatku pada diri sendiri.

“Fandi gak mau ada yang mengusik posisi mama! “ kataku sewot dan langsung menuju kamar yang sudah dipersiapkan nenek untukku.

“Fandi…..! Jaga sikapmu!”nenek sedikit berteriak menegurku.

Aku tak peuli dan gak mau peduli. Tak hanya  Papa yang harus tahu bahwa aku tak ingin ada satu orang pun merebut kedudukan mama dalam keluarga kami, tapi juga nenek.

***

“Fan, besok kamu ada acara?”tanya Nana saat istirahat di kantin sekolah.

“Gak.”jawabku singkat. Sekilas kuhitung sudah hampir dua bulan aku pindah ke rumah nenek dan sama sekali tak pernah pulang ke rumah papa. Sesungguhnya ingin sekali aku pulang dan bermain dengan Rovina dan Novita, menggebuk drum di ruang musik, dan berenang di kolam renang di halaman rumah kami. Tapi, kemarahanku pada papa, rasa muakku pada Tante Hanny mencegah langkahku untuk pulang.

Untung saja papa sudah dua kali berkunjung ke rumah nenek. Mengantar Rovinna dan Novita yang kangen padaku, kata papa pada nenek. Hhhh, lihat, papa sama sekali tak pernah mengatakan ia juga merindukan aku.

“Kalau gitu besok ke rumahku ya!” pinta Nana mengagetkanku.

“Kamu ulang tahun?”tanyaku.

“Gak, ada acara keluarga. Daripada kamu bengong sendiri di rumah nenekmu, mending ikutan ke rumah. Makan-makan sambil ngobrol dan siapa tahu kamu mau bantu  kelompok musikku manggung,” urai Nana sambil tersenyum.

“Pesta apa an sih?”tanyaku penasaran.

“Gak ah,” pipi Nana bersemu merah.

“Oke, kalau gak mau jujur, aku gak datang,” ancamku.

Nana menoleh ke kiri dan ke kanan. Seperti tak ingin ada seorang pun yang melihat dan mendengar percakapan kami.

“Jangan rame-rame ya,” pintanya masih dengan wajah tersipu-sipu.

Aku mengangguk.

“Papaku mau meried,” bisiknya padaku.

OMG! Hampir tersedak aku.

“Apa?”seruku tak mampu menahan rasa kaget.

“Tuh kan, sudah dibilangi ini rahasia malah berteriak sekencang-kencangnya!”

“Maaf, aku cuma terkejut saja,” kataku merendahkan suara juga. “Kamu rela papamu menikah lagi?” tanyaku tak mengerti.

Nana mengangguk.

“Kamu gak takut papamu akan melupakan mamamu untuk selamanya?”tanyaku masih penasaran.

“Gak. Aku malah bahagia saat mengetahui papa menemukan pengganti mama.”

“Maksudmu?” aku masih tak mengerti pola pikir Nana.

“Aku kasihan melihat papa. Semenjak mama meninggal, papa jadi harus melakukan semuanya sendirian. Mulai dari memilih dasi, baju kerja, hingga menyiapkan kebutuhan kami. Lebih lagi kasihan Wira, adikku. Dia baru dua tahun. Dia butuh seorang mama yang mampu mendidiknya dengan baik. Mbok Rah hanya mampu menjaganya, membersihkan rumah, dan memasak. Tapi MBok Rah gak bisa memberi kami kasih sayang, menasihati, apalagi membantu kami memecahkan permasalahan.”

Aku terdiam kelu. Setiap kata-kata yang diucapkan Nanamenjadi semacam sembilu yang menusuk-nusuk dadaku. Terbayang wajah papa yang kelelahan.  Terbayang wajah papa yang menahan lelah saat Rovina dan Novita memintanya menemani bermain dan mengerjakan PR.

“Yang utama aku tak mau melihat papa terus bersedih dan kesepian,” sambung Nana seperti tak mengerti perasaanku.

“Kesepian? Kamu kan punya dua orang kakak dan seorang adik?” tanyaku tak mengerti.

“Ya. Tapi kami belum mampu dan tak akan bisa menjadi tempat curhat papa. Kasihan, semenjak mama meninggal, papa menjadi perokok berat,” sambung Nana lagi.

Tuhan…. Wajah papa yang letih, di ruang kerjanya semakin lusuh di mataku. Bila dulu mama mendampinginya semalaman mengerjakan tugas-tugas kantornya, sekarang papa melakukannya sendirian. Kuingat setiap pagi, Mbok Nah membersihkan asbak rokok yang penuh debu dan puntung  dari ruang kerja papa.

“Jadi, bisa kan kamu membantuku?” tanya Nana mendesakku.

“Sory, Na. Aku gak bisa. Aku harus pulang,” jawabku mantap.

“Lha kenapa? Katanya tadi gak ada acara,” Nana menatapku kecewa.

“Beneran, sory. Aku lupa. Papa ulang tahun,” kataku sambil menepuk bahunya.

Wajah Nana berubah cerah.

“Okelah. Tak apa kalau gitu. Salam buat papamu, Met ultah!”kata Nana lagi, “Aku pulang dulu,” lanjutnya lagi.

Aku mengangguk dan segera menghambur ke parkiran motor.

Terbayang di mataku, wajah papa akan membelalak saat melihatku memboncengkan Tante Hanny ke rumah dengan sekotak kue ulang tahun untuknya.

Ah, papa, selamat ulang tahun.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s