Bapak, Maafkan Aku


Entah bagaimana mengucapkan kata itu pada Bapak. Kini setiap kali mengeja kata itu selalu berderaian air mataku. Air mata penyesalan dari seorang anak yang belum pernah bisa berbakti dan membahagiakan bapaknya. Air mata sesal berkepanjangan dari seorang anak yang puluhan tahun telah meletakkan nama bapak dan segala kemuliaan bapaknya jauh, jauh sekali di belakang figur ibu yang sangat dicintainya.

Ya Allah, betapa aku menyesal, sangat menyesal telah berlaku sangat tidak adil pada bapak selama ini. Bila kuputar ulang kenangan masa lalu, maka kubaca semua catatan langkahku selalu ada nama ibu, sedang nama bapak, entah dimana dahulu kutuliskan. Ketika aku bahagia, ibulah yang kukabari paling dahulu. ketika aku mempunyai hajat atau keinginan, ibulah tempatku meminta restu paling dahulu. Ketika aku bersedih atau sakit, ibulah tempatku mengadu paling dahulu. ketika aku memiliki sesuatu yang hendak kubagi, ibulah yang kuberi paling dahulu.

Tak ada nama bapak di urut-urutan orang paling penting itu. Jarang sekali aku meletakkan nama bapak di sana. Kini, setelah ibu berpulang, aku seperti ditampar-tampar oleh kesadaran yang hampir terlambat kudapatkan. Melihat tubuh ringkihnya, melihatnya yang sering jatuh sakit karena usianya, aku menyesal. Sangat menyesal.

Ya Allah… kenapa aku terlalu naif mengartikan sabda Nabi-Mu yang meminta manusia untuk berbakti pada ibu, ibu, ibu baru bapak? Mengapa itu kuartikan dengan meletakkan rasa cinta dan kemuliaan yang jauh lebih besar pada ibu? Sedang dengan mata kepala dan mata batinku kutahu,

Ibuku tak akan menjelma menjadi sosok ibu yang demikian hebat dan mulia bila tak ada bapak yang demikian hebat menjadi imamnya?

Dahulu, alangkah naifnya aku membaca sikap ayah yang keras padaku. Kupikir bapak tak menyayangi kami seperti ibu menyayangi kami. Kupikir bapak tak menyayangi ibu seperti ibu demikian mencintai, berbakti, setia, dan mengabdikan hati, raga, dan waktunya sebagai istri sholihah untuknya. Kupikir, ibulah yang paling layak menerima semua penghormatan sebagai orang tua sebab ibu yang paling sering menasihati kami, selalu mendampingi kami belajar, menjawab pertanyaan kami soal pelajaran dan agama, bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan, mendoakan kami ketika kami ujian. 

Kupikir bapak tak sayang pada ibu sebesar ibu menyayangi bapak. Padahal, setahuku ibu terlalu sering sakit dan keluar masuk rumah sakit, tetapi bapak tetap setia. Setia tak mencari istri muda meski ibu berkali-kali meminta bapak melakukannya; setia menjaga kami anak-anaknya; ikhlas dan sabar menjual harta dan bendanya, entah berapa banyak untuk mengobatkan istrinya.

Tapi aku salah. Sangat salah. Bapak adalah figur hebat yang menjelmakan ibu menjadi perempuan hebat.

Ibuku perempuan yang lembut hati. Ibuku perempuan lemah yang sering menangis dan sangat mudah meneteskan air mata, persis sepertiku.

Dan bapak telah mampu menempa ibu menjadi sosok hebat yang tabah dan kuat. Aku yakin seyakin-yakinnya.

Perihal cinta bapak sebenarnya aku telah lama mengetahuinya sejak mempunyai anak satu. Aku mulai mengerti bapak mencintai ibu dengan caranya sendiri. Ah… aku menyesal telah menduganya demikian kejam. Bapak memang tidak seromantis dan selembut suamiku atau suami-suami orang lain. Tetapi bapak telah menghabiskan hampir seluruh usianya untuk membahagiakan istrinya: dengan cara menafkahi kami sekeluarga, dengan cara mencari rizki halal yang berkah untuk menghidupi dan membiayai pendidikan ke delapan anaknya. Bapak, kata ibu, lebih memilih tak tidur berhari-hari demi mencari nafkah di siang hari dan menghabiskan malam hari untuk berdzikir demi kebahagiaan dan kemuliaan anak cucunya.

Bapak melakukan apa saja demi anak dan istrinya. Bahkan, bapak menolak dengan tegas suatu amanah yang barangkali dalam mata manusia sangat mulia hanya karena ia tak mau mengabaikan anak-anaknya.

Ya Allah… sayangilah bapak, jagalah bapak, kuatkan selalu fisik dan psikisnya. Ampunilah semua dosa-dosanya. tetapkanlah ia dalam iman, islam, dan ihsan.

Kuingat, bapak tak pernah menziarahi makam ibu hingga hampir 4 bulan ibu berpulanng. lalu, idul fitri datang. Kami semua, anak cucu dan menantu beserta bapak, menziarahi makam ibu. Hari itu, dengan mata kepala dan hatiku, kulihat sendiri, bapak yang biasanya tegar dan kuat menjadi sangat rapuh. Ketika memimpin kami membaca tahlil, surat Yassin, dan doa, kulihat jemari tangannya bergetar hebat. Matanya menerawang kosong. Bacaan doa, dzikir dan surat yassin yang beliau hafal sangat lancar itu tiba-tiba dibacanya dengan banyak kesalahan, tersendat-sendat. Aku hampir tak kuat menahan air mata. Begitu doa usai, aku langsung berlari ke mobil. Di dalam mobil aku menangis tersedu-sedu. Tak lama kemudian, kakakku menyusulku dalam mobil, memelukku sambil menangis tersedu-sedu.

Ya Allah…. alangkah besar kehilangan itu terpancar pada diri bapak. hanya beliau tak pernah mengucapkannya. Kami hanya hidup bersama ibu dalam kebahagiaan, menerima cinta kasihnya; sedang bapak? ia menjalani hidup hampir setengah abad bersama ibu, berjibaku susah dan senang membesarkan kami berdelapan. Tak terbayang alangkah beratnbya terpisah dengan seseorang yang telah menjadi bagian dari hidupnya setelah sekian lama.

Dan bapak demikian kukuh menjaga keimananannya. tak meneteskan air mata untuk kepergian ibu. Hanya sebuah kalimat yang selalu membuatku tersedu, “Bapak belum pernah sanggup membahagiakan ibumu.”

Ya Allah…. pasti sakit sekali rasanya.

Kini, ketika kami mempersiapkan pernikahan adim ketujuh kami, perasaan bersalahku pada bapak semakin bertubi-tubi. Seperti godam yang dipukulkan ribuan kali, sesalku mendera. Kami, keenam kakak-kakanya merancangnya sekemampuan kami, dengan pola pikir praktis. Kami hanya memberitahu bapak, nanti acaranya begini, begini. Bapak nggak usah mikir banyak. Terus terang kami tak mau bapak yang sudah renta dan sakit-sakitan akan terbebani. Kami seperti melupakan bahwa bapak adalah bapak, orang tua yang seharusnya menjadi penentu bagaimana ia akan menikahkan anaknya. Ya Allah….

Kesadaran itu datang ketika bapak kemarin sakit. Beliau tak mau makan, empat hari. Drop. Tak kuat bangun.

Saat itulah kusadari, mungkin bapak stress menghadapi pernikahan adikku. Ya, kubayangkan dahulu ketika menikahkan kami ber enam, ada ibu temannya berbagi. Kini, karena kami menganggapnya “tak layak” untuk menanggung beban itu, kami mengambil “kehormatannya” sebagai orang tua dengan semena-mena. Kami mengatur semuanya tentang pernikahan adik kami tanpa mendengar lebih dahulu keinginannya. Hanya karena kami menganggapmya telah renta. Hiks… alangkah sakit membayangkan betapa pedihnya bapak menyadari dirinya dianggap tak lagi berguna.

Ya Allah….. kami salah telah mengira melakukan yang terbaik untuknya.

Begitulah, Minggu aku pulang ke kampung halaman. Semua saudara dan anak cucu berkumpul. Di situlah bapak kami tanya, dari ran gkaian acara itu, adakah yang bapak tak suka atau ingin tambahkan. Ternyata benar, bapak ingin menambahkan beberapa hal dan menu.

Hari itu juga entah karena kami semua berkumpul, entah karena beliau telah menyampaikan keinginanya, kesehatan bapak seperti sebuah keajaiban langsung kembali. Beliau bisa bangun, duduk, bahkan berdiri meski dengan bantuan tongkat. Beliau berbincang dan bercerita banyak seperti biasanya. Wajahnya ceria kembali.

Ya Allah…. alangkah aniaya kami sebagai anak-anaknya.

Bapak, sungguh maafkanlah aku.

Bila kamu yang membaca tulisan ini, masih memiliki bapak, juga ibu, perlakukanlah mereka sebaik-baik yang kalian bisa. Mereka adalah harta paling mahal di dunia ini. Kehilangan mereka sungguh kehilangan terbesar. Sebelum sesal itu datang, bersegeralah memuliakan sebisamu! jangan tunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s