TUHAN, AKU MALU


Malu itu sebagian dari iman. 

Saya sangat mengimani hadist Nabi Muhammad SAW tersebut. Bukankah salah satu pertanda apakah suatu perbuatan itu termasuk dalam perbuatan yang berdosa atau tidak, dapat dirasakan dari “ada tidaknya perasaan malu ketika kita melakukannya”. 

Sayangnya, sebagai manusia, kita seringkali memiliki rasa malu yang cukup besar terhadap sesama manusia. Kita malu berbohong, bila ketahuan orang lain. Kita malu korupsi bila ketahuan. Artinya, kita jarang sekali, bahkan nyaris tidak malu ketika melakukan perbuatan dosa, saat kita yakin perbuatan kita tidak dilihat orang lain. 

Sedang pada Tuhan? Rasa malu itu seperti menjadi perasaan nomor sekian yang nyaris tidak pernah kita gunakan ketika kita bersemuka dengan Tuhan. Perasaan yang kita bawa saat menghadap Tuhan adalah perasaan takut, sedih, perih, minta dikasihani, dan banyak lagi perasaan yang merupakan perwujudan dari sebuah pengakuan betapa lemah (dhaifnya) manusia. 

Sementara itu, rasa malu sangat jarang kita bawa menghadapnya. Padahal, rasa malu ini, dalam pandangan saya, merupakan salah satu kunci pembuka diterimanya taubatan nasuha. Mengapa? Bila seseorang mengaku bertaubat kepada Tuhan, taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha), seharusnya ia tidak lagi mengulang dosa lama yang pernah ia lakukan. Apakah hal ini sudah kita lakukan? 

Ternyata tidak. Kita lebih banyak mengulang-ulang dosa kita yang lama dan tidak pernah malu kemudian menghiba pada Tuhan untuk memohon ampunan. Padahal, kepada sesama manusia, apalagi kepada atasan, kita seringkali kehilangan muka, sangat malu kalau harus berulang kali minta maaf untuk kesalahan yang sama. 

Seandainya, seandainya saja, setiap kita memiliki rasa malu yang seperti ini, alangkah akan indahnya pertaubatan kita. Insyaallah Tuhan pasti akan menerima taubat kita. 

Pemikiran itulah yang dulu menginspirasi saya untuk menulis puisi “tUHAN, AKU MALU” yang kemudian menjadi judul buku kumpulan puisi Islamy-ku dengan judul yang sama. 

Inilah puisi hasil renunganku itu. 

TUHAN, AKU MALU

di depan pintu yang selalu terbuka
kulihat tangan-Mu selalu mesra
menggamit setiap jiwa
yang hendak meluruhkan noda

entah ribuan ke berapa
kucuri pandang, dalam tunduk malu
kelu
jutaan kali, kudengar suara-Mu memanggilku
aku masih ragu

basah air wudlu
belum sempurna hanyutkan daki di tubuh
kerak di dahi
belum tebal melukis jejak sujud

hanya, segaris alir sungai
tak pernah henti
mencatat luka waktu di pipi

masih terus kutulis sajak di langit-langit malam
tentang sebuah pertemuan
bertumpuk pengharapan
di akhir setiap salam

Tuhan, aku malu
mengaku rindu pada-Mu

 

 Semohga setelah ini kita mampu menumbuhkan, memupuk, dan merimbunkembangkan perasaan malu kita kepada Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s