BALADA CINTA RENGGA (Cerpen, dimuat di Tabloid Gaul, 2011)


Bel istirahat berdentang. Pelajaran kesenian selesai sudah. Sebelum keluar kelas, Pak Dedi menghampiri Rengga.

“Tolong kamu antar buku ini ke kelas XI IPA-3! Berikan pada Dewinta!”

Tuhan, ini berkat apa kiamat, batin Rengga terkejut bukan kepalang. Hampir saja ia menolak permintaan tolong Pak Dedi. tapi ia tak punya alasan, juga yakin itu tak sopan. Duh, sungguh sebagai siswa kelas X, Rengga merasa malu untuk ke kelas XI. Apalagi itu kelas XI IPA-3.

Dag dig dug, dada Rengga berdebar. Uuuuuh, entah bagaimana warna wajahnya. Bisa jadi seperti isi keranjang tukang buah, kadang kayak cabe, tomat, atau wortel. Ah…

Sampai juga Rengga di depan kelas XI IPA-3, Rengga berhenti sejenak. Ia menata hatinya. Namun, baru saja ia melangkahkan satu kakinya ke dalam kelas, seorang siswa cewek berteriak keras.

“Hoi….itu Rengga, cowok kelas Aksel yang naksir Netta!”

Semua mata memandang ke arah Rengga. Rengga sudah nggak yakin kalau wajahnya masih ada di tempat semula. Hampir saja ia meraba apakah hidung, mata, dan bibirnya masih ada. Rengga pengin segera lari. Tapi matanya tak mau diajak kompromi. Dua bola matanya malah bergerak liar dan cepat mencari sosok gadis berambut sebahu yang duduk di bangku belakang pojok kiri. Netta, gadis yang akhir-akhir ini sering hadir di mimpinya itu tersenyum memandang Rengga. Rengga merasa Netta memandangnya seperti memandang badut lucu.

Suara siulan dan tepuk tangan menggoda Rengga semakin keras terdengar. Rengga tersadar pada tujuannya semula. Ia mendekati cowok yang duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempatnya berdiri.

“Mas, ini ada titipan buku dari Pak Dedi,” suara Rengga terdengar gemetar.

“Iya dech ntar aku bagikan.”

Rengga keluar dan segera berlalu dari kelas itu. Masih sempat ia mencuri pandang wajah Netta. Jantungnya seperti ditarik dengan kail pancing ikan, perih, dan hampir tertinggal. Netta menatapnya tajam, tapi di sudut bibirnya samar terlihat senyum manis. Rengga segera berlalu. Takut ke ge-eran.

Rengga menuruni tangga menuju kelasnya. Kelas Netta memang berada di atas kelasnya, bukan gedung bertingkat sih, tetapi karena tekstur tanah di sekolah mereka naik turun, khas tanah daerah pegunungan.

Sesampai di kelas, Rengga menarik nafas panjang.

“Kau kenapa?” tanya Ditta, sahabat dekatnya.

“Aku habis dari kelas Mbak Netta.”

“Gila! Ngapain sih nekad banget gitu? Kangen banget ya?”

“Uh… denger dulu!…. Denger dulu….”

“Aku kan sudah bilang, jangan menemui Netta sekarang sebelum kita pastikan dia jomblo apa ada yang punya.”

“Dita, aku ke sana disuruh ngantar buku sama Pak Dedi!” jelas Rengga hampir berteriak.

Akhirnya hilang sudah kesabaran Rengga melihat kebawelan Ditta. Ditta terkejut bukan main. Tak menyangka Rengga bakal membentaknya sekeras itu. Padahal selama ini Rengga selalu baik padanya.

*****

Sabtu sore seperti biasa Rengga mengikuti latihan PMR. Nuri, siswa kelas XI Bahasa, salah seorang anggota PMR memintanya membantu membawakan dua gelas pop ice ke sanggar.

“Bantuin dong bawakan, buat temanku. Aku nunggu pesanan baksonya nih!”

“Ok dech!” jawab Rengga.

Rengga langsung membawakan dua gelas pop ice ke sanggar PMR. Dia langsung nyelonong karena memang pintu dan jendela sanggar terbuka. Ia melihat ada seorang gadis sedang duduk membelakangi pintu. Pasti dia teman Nuri, pikir Rengga.

“Mbak…. ini pop…,” belum selesai Rengga mengucapkan kalimatnya ia merasa jantungya hampir rontok.

“Hey…. kamu Rengga kan? Yang dulu mengangkatku waktu aku pingsan saat upacara?”senyum manis mengembang sempurna dari bibir gadis cantik itu.

Oho…. Rengga merasa … ah ia tak dapat menggambarkan perasaannya. Antara bahagia, kaget, malu, dan bingung harus berkata atau bersikap bagaimana. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Andai ada teman satu kelasnya yang tahu adegan Rengga saat itu, wah bakalan rame kelasnya. Rengga yang pandai, ketua kelas X akselerasi, ber IQ 168, mantan pengibar bendera pada upacara agustusan di tingkat kota tahun ini, bagaimana mungkin mendadak berubah jadi mahluk sebego itu ya?

“Makasih lho telah menolongku.Kamu baik. Aku Netta, “ gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Rengga.

“Aku… ehm Rengga, Mbak,” jawab Rengga sambil menerima uluran tangan itu dengan hati berbunga-bunga.

“Panggil aja Netta,” pinta Netta lagi-lagi sambil memamerkan senyum manisnya. “Senang berkenalan dengan cowok sebaik kamu,” puji Netta.

“Itu kan memang tugas PMR, Mbak… eh Nett,” jawab Rengga diplomatis.

Netta tertawa kecil.

“Net… aku senang bisa kenalan sama Kamu,” keluar juga akhirnya pengakuan itu dari bibir Rengga.

Netta tersenyum geli melihat tingkah Rengga. Ah cowok ini lugu dan lucu sekali. Netta tahu kalau Rengga menyukainya. Ia sering melihat Rengga melintas di depan kelas dan mencuri pandang padanya. Tapi Netta pura-pura acuh saja. Akhirnya tak tahan juga perasaan Netta. Bayangkan hampir tiga minggu Rengga selalu membuntutinya kemana-mana, belum lagi teman-teman satu kelasnya yang usil menggodanya. Ambil saja, Nett, lumayan dapat brownis, begitu sering Netta diledek.

Tanpa setahu Rengga, Netta pun diam-diam mencari informasi tentang Rengga. Netta kagum saat mengetahui bahwa selain lolos masuk kelas akselerasi, Rengga juga memiliki segudang prestasi dan potensi. Tahu sendiri kan kalau syarat untuk masuk kelas akselerasi, rata-rata nilai UN SMP minimal 8.75 dan harus ber IQ minimal 135. Yang lebih membuat Netta semakin tertarik untuk mengenal Rengga adalah ternyata Rengga adalah cowok yang pertama kali menggendongnya saat pingsan pada upacara hari Senin dua bulan yang lalu.

Netta  minta bantuan Nuri untuk mempertemukannya dengan Rengga.  Sekarang Rengga telah berada di depannya. Cowok jenius itu ternyata mati kutu di hadapannya.

HP Netta berbunyi. Ada sms.

“Dari Nuri. Katanya dia gak jadi ke sini karena ia dijemput Heru.”

Oooo, Rengga hanya bisa mengucapkan rangkaian vokal itu tanpa suara. Ia tahu Heru, ketua PMR yang anak kelas XI Bahasa itu memang pacarnya Nuri.

“Ya udah, kita minum saja. Kuantar pulang nanti ya!” janji Rengga.

Netta mengangguk dan bergegas menghabiskan pop icenya. Segar.

Rengga menjadi lebih berani menatap mata Netta. Sikap Netta yang hangat membuat Rengga bersemangat. Seperti ada marching band dengan lagu-lagu cinta di dada Rengga.

Hari itu itu Rengga mengantar pulang Netta sampai ke rumahnya. Naik motor baru, hadiah ulang tahun ke 17 dari ayahnya. Netta adalah orang pertama yang ia boncengkan dengan motor barunya. Bunga-bunga mendadak tumbuh begitu sempurna di hatinya, apalagi sepanjang jalan, Netta memeluk pinggangnya. Duh, mesra! Rengga benar-benar merasa telah menjadi remaja. Menjadi Arjuna yang berhasil mendapatkan gadis pujaaannya.

****

Ditta sumpeg ngelihat perubahan sikap Rengga. Terus terang ia sedih melihat wajah Rengga yang sudah tiga hari ini murung. Gara-gara Netta lagi. Padahal baru Senin kemarin, berarti 15 hari yang lalu, Rengga menceritakan pertemuannya dengan Netta. Ah, Dita iri hati pada Netta yang berhasil membuat wajah Rengga begitu ceria. Tak pernah Dita melihat wajah Rengga sebahagia itu selama bersahabat dengan Rengga sejak di SD. Mungkinkah Rengga benar-benar mencinta Neta, begitu pun sebaliknya? Apakah itu berarti ia harus rela membunuh semua perasaan sayangnya pada Rengga? Ah, mungkin itu lebih baik bagi Rengga. Bukankah rasa sayangnya selalu menginginkan agar Rengga bahagia? Dilema berdentam-dentam di dada Dita.

“Dit… Kau sudah dapat berita tentang Netta?” suara Rengga mengagetkan Dita.

“Belom. Nantilah istirahat aku tanya Mbak Inne. Dia kan rumahnya dekat dengan Netta. Siapa tahu dia sudah dapat infonya.”

Rengga kembali murung dan menekukkan wajahnya. Pedih sekali hati Ditta melihat kemurungan itu. Ia sendiri sudah mencoba mencari informasi mengapa Netta sudah hampir dua minggu tak masuk sekolah. Tapi hingga pencarian hari ke sebelas usahanya sia-sia. Ia tinggal berharap pada Inne, teman satu kelas Mas Rio, kakaknya, yang kebetulan rumahnya dekat rumah Netta.

****

“Gimana? Mbak Inne sudah dapat kabar tentang Netta?” tanya Dita tak sabar begitu istirahat dan ketemu Inne di kantin sekolah.

Mereka terpaksa duduk di pojok kantin. Suasana kantin rame banget. Setelah mendapatkan makanan pesanan mereka, Ine menggeret tangan Dita sambil membawa makaannya.

“Kita makan di bawah pohon sana aja. Gak enak di sini bicaranya. Aku takut ada yang mendengarnya, bisik Inne.

Ditta nurut-nurut saja.

“Jadi gimana, Mbak?”

“Gimana ya ngomongnya? Sebenarnya gak enak juga menceritakan aib orang…..”

“Maksud Mbak?” Ditta tak mengerti.

“Dari pembantuku aku tahu kalo dua hari yang lalu Netta dinikahkan, diam-diam. Tanpa resepsi besar-besaran.”

“Hah!!!! Hari gini???? Kawin muda?”

“MBA, Dit! Netta kabarnya sudah hamil tiga bulan.”

Oh my God!, Ditta menyebut nama tuhan di hatinya. Informasi yang diberikan Inne sungguh di luar sangkanya.

Hingga bel masuk berdentang, Ditta tak menyentuh makannnya. Hilang seleranya. Ia tak tahu harus bercerita apa pada Rengga. Ia tak bisa membayangkan duka akan terlukis di wajah Rengga.
****   

“Dit, gimana? Ada kabar tentang Netta?”tanya Rengga begitu Ditta duduk di bangkunya yang kebetulan tepat di sampingnya.

“Iya. Nanti saja pulang sekolah kita mampir di warung gado-gado Mak Ti. Aku lagi pengin gado-gado, nih!”

“Dit… sekarang dong ceritanya. Bikin penasaran saja.”

“Gak ah. Aku bilang nanti ya nanti.”

Kalau sudah begitu, Rengga tak mampu memaksa.

Dua jam pelajaran terasa begitu lama. Berita tentang Netta menjadi seperti tayangan adzan maghrib yang selalu dirindu tiap orang di bulan puasa.

Begitu bel pulang sekolah, Rengga dan Dita meluncur dengan motornya masing-masing. Dita sengaja memilih warung gado-gado Mak Ni karena ia tahu Rengga sangat suka makanan ini. Letak warungnya juga sangat dekat dengan rumah Rengga, cuma beda lima rumah. Jadi, kalau nanti Rengga pingsan (kok jadi berlebihan ya?), mudah mengantarnya pulang, begitu pikir Dita sebelum memutuskan memilih warung gado-gado Mak Ti.

Usai menghabiskan gado-gadonya, Dita menceritakan semua cerita Inne tentang Netta. Hampir pingsan Rengga mendengar cerita Dita.

“Sudahlah. Lebih baik kamu belajar tekun demi cita-citamu masuk ITB. Jangan sedih gitu dong! Kan ada aku, Dita, sahabatmu!” Dita menepuk-nepuk punggung Rengga beberapa kali.

Andai engkau tahu, ada aku yang begitu menyayangimu kau pasti takkan terluka, Rengga. Tapi aku tak ingin memaksakan perasaan cintaku padamu. Aku lebih memilih kau tetap menganggapku sebagai sahabat terbaikmu daripada kau tinggalkan aku setelah kau tahu aku mencintaimu, putus Dita dalam hatinya.

Rengga masih saja tak tahu bagaimana harus menghapus kesedihannya. Wajahnya masih muram saat Dita pamit pulang duluan. Mendung yang tadi menutup langit sekarang telah mengantar gerimis pertama di kota mereka. Seperti mengiringi tangis hati Rengga yang merintik di dadanya.

2 thoughts on “BALADA CINTA RENGGA (Cerpen, dimuat di Tabloid Gaul, 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s