MELAWAN CYNDERELLA SYNDROM


Sejak menikah saya menjadi orang asosial. Lebih banyak tinggal di rumah dan merawat ke empat anak-anak saya. Maklum, sang investor (hehehehe, bapaknya) sudah menitipi amanah agar investasinya dijaga dan dididik baik-baik agar bisa berbuah dengan baik. Amiin. 

 

Akibatnya parah. Saya terkena cinderella syndrom. Tak pernah kemana-mana sendirian, kecuali ke sekolah. Bahkan ke pasar atau mall pun dalam setahun bisa dihitung dengan jari. Kalau gak diantar, gak bakalan pergi. Naik bus atau angkot pasti mabuk berat.

 

Ketika anak-anak sudah mulai mandiri, saya mulai bosan hanya berangkat dan pulang ke sekolah. Saya ingin lebih bermanfaat. Maka saya mulai menulis. 

 

Menulis membawa saya kemana-mana. Menulis membuat saya bertemu banyak orang yang dahulu membayangkan saja saya tak berani. Menulis juga memberi banyak penghasilan tambahan yang kadang tak terduga. teman, sahabat, bahkan saudara pun bertambah. 

 

Karena menjadi sering harus bertemu banyak orang itu saya harus mandiri. Awalnya selalu naik travel. Lalu mencoba tahapan berikutnya, naik bus patas dilanjut taksi. Tetapi hari ini, saya dobrak syndrom saya. Saya naik angkot dari Bungurasih ke Royal Plasa. Panas. Pusing. Mual. Panas dinginlah saya. Alhamdulillah gak sampai semaput. hehehhe. 

 

Di angkot saya dapat sesuatu yang sudah sangat lama tidak saya dengar atau temui. Ada seorang bapak-bapak yang bertengkar dengan kernet angkotnya karena diminta menambah ongkosnya. Ia ngotot kalau kemarin ia hanya membayar lima belas ribu untuk dirinya dan beberapa anak yang ia bawa. Pertengkaran agak seru. Saya bingung, takut, dan tegang. Lalu menjadi miris ketika ia mengatakan pada saya, “Ini mau ngantarkan anak-anak PSG ini cari kos-kosan, Bu. Sangunya pas-pasan.”

 

Hiks… sejujurnya pengin banget membuka dompet dan menambahkan selisih uang yang dipertengkarkan. Hanya Rp 5.000! Jumlah uang yang menurut saya, mungkin juga bagi pembaca tidak terlalu besar. Tetapi, ternyata bagi bapak itu tadi sangat berarti. Ternyata ia mengantarkan 5 orang gadis. Saya tak sanggup bertanya, apakah dia orang tua atau malah guru dari kelima anak gadis yang memang seusia anak-anak SMK itu. 

 

Pengalaman hari ini seperti mengembalikan ingatan dan pengalaman masa lalu saya ketika masih harus naik angkot. Betapa lamanya saya tidak berada di antara mereka, saudara-saudara sebangsa. Tiba-tiba saya ngeri, saya takut, snydrom saya akan membuat kepekaan dan kerelaan untuk berbagi itu mengikis. 

 

Ya sudahlah, akhirnya pulang kopdar dengan Mas Eko Prasetyo tadi saya nekad naik angkot. harus dapat pengalaman luar biasa lagi. Wuaaaw panas. Karena sibuk menikmati kegerahan itu, saya yang memang udik gak tahu dimana saya harus turun kalau ke Bungurasih. Saat angkot berhenti untuk menurunkan banyak penumpang, dengan santun saya bilang ke sopirnya. 

 

“Pak, saya nanti turun Bungurasih.”

“Lho, ya turun sini, Bu.”

Ha…..? Malu. Kaget. 

“Terus terminalnya mana?”

“Itu Bu, lewat jembatan penyeberangan.”

Heheheheh. Malu. 

 

Ternyata menyembuhkan Cinderella Syndrom ini tak cukup dengan terkejut dan malu. Masih butuh modal lagi. Ternyata jarak dari jembatan penyeberangan ke terminalnya itu…jauh bangeeeeeeeeeeet! Mana udaranya panas bangeeet! Bau air di gotnya, hiks bikin mual. Bener-bener Surabaya. Semoga Malang tak jadi seperti itu. 

 

Cukupkah perjuangan mengalahkan syndrom saya?

 

Gak cukup. Ternyata untuk mendapatkan 1 kursi bus patas pun saya harus berebut dengan puluhan penumpang. Baru pada bus ke delapan saya dapat tempat duduk. Berebut naik, eh di atas gak dapat tempat duduk. Luar biasa. 

 

Btw, saya mau keluar dari zona aman ini. Saya yakin, menulis membantu saya untuk keluar dari syndrom ini. Adakah ibu-ibu yang punya syndrom seperti saya? Atau Bapak-bapak yang istrinya punya syndrom seperti saya? 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s