KABAR DUKA YANG TERLAMBAT KUBACA


Gemetar kubaca pesan di inboks FB-ku tertanggal 8 Desember 2011. Hampir lewat sebulan baru kubaca pesan yang masuk ke spam itu. Pesan yang dikirim seseorang yang takkukenal.

 

“Ahmed passed away at 17 Ocober.” 

 

Ya Tuhan…. Aku gemetar. Jemariku seakan tak sanggup menekan keyboard laptopku untuk membalas pesan itu. Ahmed, lelaki yang pernah memahatkan namanya di dinding hatiku, sungguhkah dia telah berpulang? Kubuka wallnya dan kutemukan pesanku di dindingnya.

 

“Long time not hear about you. How are you Bro?”

Di bawah pesanku tertanggal 12 November itu, seseorang sebut saja namanya Hassan menuliskan komentarnya.

“He passed away, Sis.”

Ya Tuhan…. sungguhkah? Benarkah … Wajah lelaki Timur Tengah yang tampan itu kembali melintas-lintas di benakku, dalam hatiku. Juga serpihan rasa sakit yang masih sanggup meneteskan darah luka di hatiku itu kini terasa pedih lagi. Cinta terlarang yang datang dan singgah pada waktu yang tak tepat itu harus kami matikan dengan kejam. 

 

“Tak ada tempat untuk cinta terlarang. Tak ada kebahagiaan untuk membagi cinta,”ucapmu suatu malam lewat telepon.

“Ya,”jawabku lemah.

 

Sesungguhnya saat itu aku ingin menjerit dan protes padamu. Bila tak boleh ada cinta terlarang, mengapa Tuhan menciptakan perasaan indah itu singgah di hati kita? Mengapa kita mesti berjumpa? Atau ini semua salah kita yang lengah menjaga hati dan kesetiaan?  

 

“Rose….Rose,” panggilnya merdu. “Kau jangan menangis ya Rose. Dadaku sesak mendengarmu terisak.”

 

Aku tersedu. Tak lagi sanggup menahan tangis itu. Luka di hatiku makin menganga. Sebuah luka yang ajaib seperti juga perasaan cinta dan rindu kita yang ajaib. Kita hanya bertemu di dunia maya, tetapi perasaan kita begitu nyata. 

 ****

Aku tidak tahu sejak kapan perasaan cinta yang aneh itu tumbuh, berkecambah, lalu mengakar pada setiap lubang pori-poriku. Yang pasti, setiap detik hidupku kini hanya wajahnya, senyumnya, dan tatap matanya yang terbayang di mataku. Hanya uara tawanya yang renyah, suara ngebassnya yang menentramkan yang selalu terngiang di telingaku? Salahkah aku memiliki perasaan cinta sementara di sampingku telah kumiliki seorang lelaki yang syah kusebut sebagai suamiku?

Apakah aku istri yang tak berbahagia? Atau kurang pandai bersyukur? Sesungguhnya, jauh di lubuk hatiku, aku tahu, pertanyaan kedua-lah yang lebih tepat untukku. Syam, Syamsu Harris, suamiku adalah lelaki yang sempurna. Ia adalah sosok lelaki yang pasti diidamkan oleh banyak perempuan mana pun di dunia ini. Syam tampan, cerdas, punya posisi lumayan di perusahaan, setia, sayang pada anak dan istri. Ya tak ada yang kurang pada diri Syam, dan aku pun tak pernah menyimpan niatan untuk mencari orang kedua dalam rumah tanggaku. Aku mencintai Syam dengan sepenuh hati. Aku pun mencintai kedua putriku. Takkan pernah kutukar kebahagiaan hidup rumah tanggaku, cintaku, ranjangku, dapurku, dengan apa pun. Tuhan telah memberikan padaku kehidupan yang sempurna. 

Tapi, ketika perasaan suka pada Ahmed itu muncul, apakah aku salah? Ya… barangkali, aku sama seperti perempuan lainnya. Jauh di hati kecilku, aku merindukan dirayu, dibisiki kata-kata romantis yang cenderung gombal. Terkadang, aku suka duduk diam-diam di beranda rumah, aat senja. Di sana di antara angin yang menampar dan mengirimkan gigil hingga ke tulang, aku membayangkan Syam akan datang diam-diam, lalu memelukku erat dari belakang. Kemudian dengan sepenuh cinta akan membisikkan kata-kata lembut, Sayang….”

Ah, tetapi aku tahu, semua khayalku itu hanyalah mimpi. Syam takkan pernah melakukan itu. Ia bukan hanya tak bisa berlaku atau berkata-kata romantis; ia ALERGI dengan apa pun yang berbau romantisme. Bahkan ketika aku sedang terpuruk, sedih, atau resah, tak pernah sekali pun ia menghiburku. Baginya, hidup seperti angka-angka dalam rumus matematika. Harus bisa dijumlahkan, dikalikan, dibagi, atau diintegralkan atau apa saja. yang penting, hidup itu harus bisa dilogikakan. Segala yang berbau perasaan, apalagi kecengengan dan romantisme itu hanya akan melemahkan semangat hidup.

Sementara dia tahu betul betapa aku, istrinya ini, benar-benar seorang pengkhayal. Seorang perempuan yang sangat menyukai novel-novel Harlequin. Ah… terkadang, saat membaca novel-novel romantis itu, tubuhku sampai gemetar, gemetar membayangkan alangkah indahnya jika aku menjadi tokoh utama dalam novel itu dan Syam jadi seperti tokoh prianya. Tokoh pria yang smart, kaya, terpandang, jantan, dan romantis. Ah…

Ah Syam, maafkan ketidakbersyukuranku. Sesungguhnya, kusadari, kusyukuri betapa engkau adalah lelaki yang sangat kudamba. tak pernah sekali pun aku bertemu lelaki sebaik itu. Engkau begitu sempurna. Lebih dari segalanya, engkau mencintai dan menerima aku apa adanya. 

****

Hujan turun deras sekali malam ini. Suamiku belum juga pulang. tadi sore dia telepon. katanya, ada meeting dengan rekanan di kantornya. Penting sekali. 

“Aku pulang agak malam, Dik,” katamu. 

“Ya Syam, ati-ati,” jawabku dengan suara parau. 

“Kamu sakit?”

“Enggak, cuma agak pilek,” kataku berbohong. 

Ya, aku tak mungkin mengaku pada Syam bahwa seharian tadi aku menangis karena kematian Ahmed. bagaimana mungkin sanggup kukatakan hal itu padanya. Meski, setengah tahun yang lalu, ia sudah mengetahuinya. 

Tanpa sengaja, ia membaca SMS Ahmed di HP-ku. 

“Rose, how are you?” 

Rose, ya… Rose. Ahmed selalu memanggilku Rose. Katanya, aku adalah sosok perempuan cantik, menarik, dan cerdas. Kecerdasanku terpancar jelas ketika kami chatting, berkirim email, atau saat bertelepon. Ya, kata Ahmed aku itu mwar. Indah tapi berbahaya. Bila ia tak waspada, ia bisa saja terbang dari negaranya, meninggalkan dua orang istrinya, dan nekad menemuiku. 

Ahai, perempuan mana yang tak mabuk dipuja demikian tingginya? Ah… suara Ahmed yang ngebass saat mengucapkan kata-kata itu dalam Bahasa Arab dan Inggris takkan sanggup kulupa. 

“SMS dari siapa?” tanya suamiku saat itu. 

Pertanyaan yang wajar karena SMS itu mencurigakan. Pertama, namaku bukan Rose. Pasti seseorang yang memandangku sangat istimewalah yang akan menyebutku Rose. Kedua, semua temanku selama ini hanya SMS atau telpon dengan bahasa Indonesia. Tentu hal yang aneh bila kemudian aku SMS dan telepon berbahasa Indonesia. 

Tak sanggup aku membohongi lelaki terbaik di dunia itu. Lalu meluncurlah pengakuan demi pengakuan dari bibirku. Pengakuan itu membanjir bersama air mataku. 

Aku tak akan sanggup melupakan saat itu.. Ketika aku mengakhiri ceritaku, Syam memelukku dan mengusap air mataku. 

“Kamu percaya dengannya?”

Aku menggeleng. Aku tahu, orang-orang yang kukenal di dunia maya, di FB, Twitter, Twoo, Friendster atau apa pun, tak selalu sebaik tulisan-tulisan mereka. bahkan aku berani bertaruh, kalau 50% lebih di antara mereka berperilaku dan berkepribadian berlawanan 180 derajat dibanding yang mereka gambarkan di dunia maya. 

“Ajari aku untuk melupakannya, Syam,” pintaku sambil tersedu. 

Syam tak menjawab. Ia hanya memelukku, lalu mencium keningku. Malam itu, aku tidur dalam pelukannya. Sejak itu, aku menahan segala keinginanku untuk chatting atau berkirim email ke Ahmed. Syukurlah, meski kadang terasa menyesakkan dada, akhirnya aku mulai sanggup melupakannya. Hingga kuterima berita sore tadi ….

Ah, mengenang kebaikannya itu rasanya aku tak sanggup menatap wajahku di cermin. Lelakiku demikian baik dan sempurna. Sedangkan aku telah mengkhianati dan melukai hatinya. Masih layakkah aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Air mataku mengalir lebih deras lagi. 

Kurasakan ada elusan tangan kekar dan penuh kasih di pipiku. Aku baru sadar, Syam menggendongku. 

“Tidurlah,” bisiknya sambil tetap menggendongku. 

Ia membawaku dari ruang makan ke kamar. Ya… aku ingat, kesedihanku saat menyadari pengkhianatanku pada kesetiaan dan kebaikan Syam padaku membuatku menangis tanpa henti. Tangis yang lebih perih dibanding tangisku sore tadi. Aku menyesal menangisi kematian Ahmed terlalu lama, tanpa pernah menyadari alangkah besarnya kesalahan yang kulakukan pada Syam. 

“Tidur saja lagi. Kamu pasti lelah,” kata Syam sambil membaringkanku di tempat tidur. 

Hatiku rasanya hancur berkeping-keping. Tak sanggup aku menerima kebaikannya itu. Aku segera bangun dan memeluknya erat. 

“Syam, maafkan aku. Aku mencintaimu.”

Syam tersenyum dan mengelus rambutku. tanpa kata-kata, seperti biasanya. 

“Syam… maafkan aku. Jangan tinggalkan aku ya.”

“Sanggupkah kamu membayangkan aku memiliki sedikit saja niatan untuk melakukan itu?” tanyanya sambil memeluk erat tubuhku. Aku tersedu. Air mataku meleleh lagi. 

Syam mengecup bibirku. Lemut. hangat. Dan aku tersesat dalam cintanya yang hangat.

 

One thought on “KABAR DUKA YANG TERLAMBAT KUBACA

  1. Ping-balik: KABAR DUKA YANG TERLAMBAT KUBACA « faradinaizdhihary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s