Ternyata AKU JUGA BISA MEMASAK


TERNYATA AKU BISA MEMASAK

Suamiku tak pernah menuntutku memasak atau bersih-bersih rumah. Bahkan, segala kebutuhan rumah tangga seperti beras, gula, minyak, sabun mandi, bahkan sendok sayur pun dia yang beli.

Kalimat itu sering kuucapkan bila ada yang mengritik kebiasaanku yang malas memasak.  Seorang temanku mengatakan aku terkena Cinderella syndrom. What’s wrong?

Sejak dulu kuyakini bahwa tugas seorang istri bukan memasak, mencuci, dan bersih-bersih rumah. Bagiku, seorang istri yang sempurna adalah istri yang dapat mendampingi suami, bisa mengimbangi pembicaraan suami, dan bisa menjadi kebanggaan suami. Pemikiran inilah yang membuatku tetap enjoy menjalani hari-hariku sebagai istri seperti dalam prolog. Aku lebih memilih semakin giat bekerja dan meningkatkan kualitas diri. Kutahu persis suami ku bangga dan bahagia dengan semua raihan yang kucapai. Pun demikian dengan anak-anak dan keluarga besarku.

Bagiku, memasak bukan menjadi agenda utama harian. Ada pembantu dan ada warung yang menyediakan segalanya. Tinggal tunjuk. Lagi pula masakan mereka jauh lebih enak, lebih lezat, dan bervariasi.

Hingga suatu pagi, di hari Minggu, sebulan sebelum puasa Ramdhan tahun ini, anak sulungku bercerita bahwa tadi di sekolah dia perutnya sakit.

“Kamu salah makan kali, Le? Tadi maem apa di kantin?”tanyaku sambil memijat punggungnya.

“”Boro-boro makan, Mi. Yang ada aku gak kebagian lauk dan sayur. Padahal antrinya lama banget. Jadi tadi aku cuma makan gorengan satu sama minum teh hangat,” katanya mengejutkanku.

“Ha… Kok bisa?” tanyaku terkejut.

“Ya, soalnya tadi kita istirahatnya agak telat. Habis ulangan Kimia.”

Ya Allah, kasihan sekali anakku, jeritku dalam hati.

“Mi… Umi masak dong kalau pagi! Biar aku bisa sarapan. Aku juga pengin bawa bekal saja,”katanya begitu menohok hatiku.

Ya Allah, anakku melakukan protes. Anakku menuntut haknya. Ibu macam apa aku ini.

“Sarapan? Oke, Umi akan masak. Tapi bekal? Memangnya ada temanmu yang bawa bekal? Kamu gak malu?”tanyaku tak habis pikir.  Anak pertamaku kan seorang cowok, kelas 3 SMA.

“Kenapa mesti malu, Mi. Enakan bawa bekal, selain lebih irit dan terjaga kebersihannya, Umi kan pasti akan memasakkanku makanan yang bervariasi dan bergizi,”katanya sambil menatapku penuh harap.

Nah, Loeeee!!! Aku terhenyak, benar-benar terhenyak. Aku tahu mulai awal bulan itu, atau sekitar 3 minggu itu, anakku sudah mulai mengikuti tambahan pelajaran sepulang sekolah di sekolahnya. Padahal pelajaran berakhir jam setengah 3 sore. Ia mengikuti tambahan pelajaran sampai jam lima. Selesai itu ia tak langsung pulang. Kadang menunggu bedug maghrib ia akan futsal bareng teman-temannya. Lalu seusai salat maghrib, ia akan meluncur ke sebuah lembaga bimbingan belajar hingga jam 8 malam.

Betapa melelahkan dan beratnya hari-hari anakku. Aku menangis dalam hati. Segera aku ambil air wudhu dan menjalankan salat dhuha. Usai salam, aku sujudkan dahiku lama. Aku menangis dan mohon ampunan pada Allah. Aku telah melalaikan hak-hak anakku untuk mendapat sajian masakan ibunya.

Wajah anak-anakku bergantian satu-satu. Bayangan bagaimana ketiga anakku yang bersekolah sedang antri di kantin untuk mendapatkan sarapan pagi seperti menuding-nuding keegoisanku. Mereka seperti membawa spanduk besar bertuliskan, “Umi… Memasaklah Untuk kami”.

Aku menangis tersedu.

Kuhitung mundur hari-hariku dalam muhasabah usai dhuha hari itu. Kuingat dulu, saat anakku masih satu, aku selalu memasak. Waktu itu masih memakai kompor minyak. Sayangnya setiap kali pulang kerja suamiku suka membawa makanan dari kantornya. Misalnya kue-kue yang mengenyangkan jatah rapat atau nasi kotak. Akibatnya masakan yang kumasak sering menjadi terbuang sia-sia. Belum lagi kebiasaan suamiku sejak kecil yang tak pernah sarapan, kalau sarapan malah mules, membuatnya tak pernah menyentuh makanan yang kuhidangkan pagi-pagi. Parahnya lagi, kalau habis memasak, aku sering tak bersegera mandi. Suamiku akan menggodaku dengan kalimat tanya,

“Ini istri apa kompor?”

Lengkaplah sudah alasanku untuk tak memasak sendiri dan memilih catering. Apalagi suamiku memang mendukung keputusanku itu. Hingga akhirnya karena kesibukanku, kami harus mengambil seorang pembantu. Kami menghentikan kebiasaan beli makanan jadi di warung atau catering. pembantu kami yang masak. Setiap hari kubuatkan daftar belanjaan dan menu apa yang harus ia masak. Sesekali saja aku membantunya memasak bila sedang tak masuk kerja. Kalau hari Minggu, suamiku selalu mengajak jalan keluar dan beli makan di luar.

Apakah makanan yang disantap anak-anakku telah terpenuhi gizinya? Apakah makanan yang dibeli anak-anakku terjaga kebersihannya? Dan seribu pertanyaan lain seperti merajam hatiku. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat hatiku makin perih. Kuakhiri muhasabahku dengan doa panjang untuk kami sekeluarga dan orang tuaku.

Segera kulipat mukena dan kutemui suamiku.

“Bi, antar aku ke pasar trus kita mampir di supermarket,” kataku.

“Ke pasar? Tumben? Memang Umy mau belanja apa?”tanya suamiku seperti tak percaya.

“Apa saja. daging, ayam kampung, sayuran, buah…. segalanya,” kataku.

Suamiku meletakkan kain yang digunakannya untuk mengelap mobil. Ia memandangku kebingungan.

“Umy ada apa sih?”

“Gak ada apa-apa. Azhar minta sarapan dan bawa bekal mulai besok.”

“Umy serius?”

“Sangat! Insyaallah,” kataku sambil tersenyum.

Entah apa yang ada di pikiran suamiku pagi itu. Ia bergegas memanaskan mobil dan mengantarku ke pasar.

Jujur, di pasar aku seperti orang hilang. Entah berapa tahun aku tak masuk dan belanja sendiri ke pasar. Mungkin hampir empat tahun sejak aku mengandung anak ke-4 ku. Di pasar aku tak tahu pasti apa yang harus kubeli buat memasak esok pagi, terutama buat bekalnya. Aku belum tahu menu apa yang akan kumasukkan dalam kotak makannya besok. Kuputuskan saja membeli apa saja yang menarik berdasarkan suara hatiku. Ya daging, ya lele, ya ayam kampung yang dipotong di tempat, ya tahu, tempe, paprika, tomat, etc-lah.

Sebelum pulang ke rumah, kami mampir di sebuah supermarket. Kubeli 3 set kotak makan plus gelas air minum untuk tiga orang anakku.

Praktis begitu sampai di rumah, kulkasku jadi terisi penuh.

Sampai sore aku belum tahu besok pagi masak apa. Mau menelpon ibuku tak mungkin. Bapak lagi sakit. Mau menelpon ibu mertua malah lebih tidak mungkin. Malu dong! Jhiaaah, padahal hampir seluruh keluarga besar suamiku tahu aku gak becus masak. Tiba-tiba mau memasak buat bekal anak-anak? Waaaa apa tanggapan mereka? Aku belum siap membuat dunia gempar.

Akhirnya kuputuskan searching internet. Kubuka-buka blogs yang menawarkan sejumlah menu masakan. Sip, kutemukan ayam bumbu kecap dan sup daging. Kuputuskan memasak ini esok hari.

Begitulah, keesokan harinya, saat bangun jam setengah 4 pagi, kuubah kebiasaanku. Kalau biasanya bangun aku langsung mengambil wudhu lalu salat lail dan menunggu subuh kemudian mengaji dan lanjut FB-an, hari itu kuubah. Sebelum ke kamar mandi kujerang air di atas kompor. Lalu kutinggal ke kamar mandi dan bersegera salat lail. Tak kulakukan lagi dzikir dan baca al-Quran sambil duduk memakai mukena, tapi aku segera melangkah ke dapur, mencuci beras. Saat itu air sudah panas sehingga lebih cepat untuk memasak nasi di magic com. Setelah itu aku dirikan salat shubuh.

Kulakukan semuanya sendiri. Suami dan anak pertamaku pergi ke masjid.

Usai salat subuh dan mengaji sebentar, aku segera melanjutkan aktifitas memasakku.

Sepulang dari masjid, anak lelakiku seperti biasa mencium tanganku.

“Hm… baunya enak! Umy masak apa?”tanyanya ingin tahu.

“Sup daging dan ayam kecap,” kataku bangga.

“Wow….. kejutan.” kata suamiku menimpali.

Aku tersenyum.

Sambil menunggu nasi masak, kumasak sup daging dan ayam kecap. Semalam sambil nonton TV sayur dan bumbu-bumbu telah kuiris dan kubersihkan sehingga aku dapat memasak dengan cepat. Alhamdulillah, belum jam setengah 6 masakanku telah siap terhidang.

Ketiga anak-anakku telah selesai bersiap diri. Kuajak mereka sarapan pagi. Ya Allah mata mereka berbinar. Mereka sarapan dengan lahap. Susu coklat yang biasanya tak pernah habis mereka minum hari itu tandas.

Usai sarapan, Nauval, anak keduaku berkata.

“Enakan gini, Mi. Sarapan setiap hari. Jadi aku gak lapar di sekolah,” katanya sekali lagi menjadi protes yang menohok hatiku.

“Ya. Insyaallah mulai hari ini umy akan masak buat Kalian,” kataku sambil mengambil kotak makan dan gelas minuman. “Dan ini, bekal makan Kalian hari ini,” kataku sambil menyerahkan satu-persatu kotak makanan pada ketiga anakku.

“Asyiiiiik, kita bawa bekal,”sahut Fara, putriku satu-satunya.

Aku mengangguk.  Hampir menetes air mataku diliputi rasa haru.

“Besok buatin ayam bakar aja, Mi.” usul anak pertamaku.

Aku mengangguk.

Hari itu mereka berangkat dengan ceria.

Sejak hari itu, hingga kini mereka jadi rutin sarapan pagi dan membawa bekal ke sekolah. Kulihat tubuh anak-anakku tampak semakin sehat, apalagi Fara yang selama ini dapat dikatakan sulit makan. Nilai-nilai ulangan anakku juga meningkat, jadi lebih baik.  Aku semakin bersemangat memasak dan mencari menu masakan beragam. Dengan bangga sekarang aku bisa bercerita tadi pagi masak apa pada teman-teman sekantor. Pun, di hadapan keluarga besar mertua, suamiku pun memuji-muji masakanku. Duh, bahagianya tak terkatakan.

Hal lain yang kutemukan adalah bahwa aku mampu mengalahkan keegoanku malas memasak. Juga, Ternyata AKU JUGA BISA MEMASAK.

Ada kebahagaiaan, namun ada juga sesal. Mengapa tak kulakukan semuanya sejak dulu? Memang, memasak, mencuci, atau bersih-bersih rumah bukanlah tugas seorang istri. Kewajiban seorang istri adalah membahagiakan suami dan mentaati suaminya.

Jadi, bila memasak ternyata membuat suamiku bahagia, meski ia tak menyuruhku melakukannya, mengapa tak kulakukan ibadah indah ini?

 

Malang, 3 Oktober 2010

4 thoughts on “Ternyata AKU JUGA BISA MEMASAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s