MARI BERMIMPI


Sejak kecil, kulukis impian pada lelangit kamarku 

agar mudah bagiku mengejanya sebagai doa

Setiap bangun esok harinya, selalu kutemukan cahaya

yang dikirim Tuhan sebagai jalan mewujudkannya. 

Orang boleh mengatakan, “Jangan terlalu tinggi bermimpi! Kau akan jatuh dan sakit!” Tetapi tidak bagi saya. Saya selalu memercayai bahwa mimpi akan menuntun saya untuk banyak membaca doa, untuk terus bermohon dan mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Menentukan Segalanya. Ini tentu tidakl terlepas dari didikan alm. ibu saya dan bapak saya yang selalu mengatakan pada kami agar kami berusaha mencapai keinginan kami.

“Jangan ragu hanya karena kita miskin! Uang bukan penentu segalanya. Allah sudah berjanji pada siapa pun yang mau berikhtiyar dan berdoa, man jadda wa jadda.”

Sebuah nasihat yang kemudian membuat saya menjadikan keinginan-keinginan saya sebagai sebuah impian yang harus saya raih. Nothing impossible, itulah yang selalu saya tanamkan pada diri saya setiap kali menginginkan sesuatu. Dan hal yang paling ingin saya wujudkan adalah mewujudkan harapan ibu saya yakni bermanfaat bagi orang lain dan selalu suka menolong yang membutuhkan. (Allah, untuk semua kebaikan ibu yang tak pernah sanggup kulunasi membayarnya, meski hanya seujung kuku bunganya, kumohon, ampunilah dosa-dosanya, terimalah amal ibadahnya, dan dari setiap kebaikan yang kulakukan, catatkanlah sebagai bagian dari kebaikan di buku amalnya. Allaaah).

Kali ini saya mencoba menuliskan impian saya terkait dengan dunia kepenulisan dan peran saya sebagai seorang guru. Dahulu, sekitar tahun 2005-2006, awal-awal munculnya novel teenlit, terutama saat booming, Eiffel I’m in Love, saya begitu terobsesi dengan mimpi saya untuk mendampingi murid-murid daya yang berbakat menulis menjadi penulis. Saat itu, saya yakin, sangat yakin bahwa murid-muridku mampu menghasilkan karya yang jauh lebih bagus dibanding novel-novel teenlit yang beredar. Apalagi saat itu, masih diberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan mata pelajaran sastra Indonesia di kelas Bahasa tidak di-Unas-kan. Ini benar-benar kesempatan bagi saya untuk mewujudkan impian saya, barangkali juga impian murid-murid saya.

Mulailah saya merintis jalan untuk mewujudkan impian itu. Kebetulan saya memegang tugas sebagai pembina ekstra Jurnalistik, KIR, juga majalah sekolah. Nah, saya mulai melakukan penjajagan pada murid-murid saya. Siapa yang ingin belajar menulis novel. tercatat dari sekitar 30 siswa, ada 24 siswa kelas XI, dulu kelas 2 Bahasa yang tertarik menerima tantangan saya.

Begitulah akhirnya, saya membimbing mereka. Butuh ketelatenan dan kesabaran luar biasa. Bila pada awalnya, saya menduga hanya membutuhkan waktu 6 bulan untuk mendampingi mereka merampungkan novel remajanya, ternyata saya salah. Mereka membutuhkan waktu antara 9 bulan hingga satu tahun.

Ada hal yang sangat menarik dalam proses pendampingan ini. Yang paling berkesan adalah pengakuan mereka bahwa membiasakan diri menulis dua atau tiga lembar sehari ternyata membuat mereka semakin terampil dalam menulis. Semakin hari mereka mengaku semakin mudah menuliskan kata-kata dan merangkai cerita. Mereka juga mengaku lebih memahami bagaimana menulis dengan EYD yang benar, membuat kalimat yang efektif dengan memperhatikan logika kalimat, hingga mampu membenahi sendiri paragraf-paragraf yang mereka tulis.

Selama proses itu, saya selalu menerapkan “kesalingbergantungan” antarmurid. Kebergantungan yang saya maksudkan adalah kesadaran untuk saling memberi dan menerima bantuan dalam proses mengembangkan ide hingga pada memperbaiki tulisan. untuk itu, siswa harus membiasakan diri menukarkan karyanya pada teman lain, teman lain bertanggung jawab untuk memberikan tanggapan atau masukan. Proses saling membantu inilah yang memungkinkan siswa menemukan kekurangannya dan menerima bantuan (berupa kritik dan saran perbaikan karyanya).

Hingga akhirnya waktu setahun itu berakhir. dari 24 siswa itu ternyata yang mampu menyelesaikan novelnya ada 11 anak. Dari 11 novel yang selesai itu, Sesungguhnya ada 4 novel yang “layak” untuk terbit karena kualitasnya tidak jauh berbeda bahkan ada satu yang lebih baik dibandingkan novel-novel teenlit di pasaran saat itu.

What’s next? Tentu saya berusah agar jerih payah saya selama setahun dan kreatifitas murid-murid saya terwujud. Alangkah bahagianya bila karya mereka bisa terbit. Sayangnya, pada saat itu informasi dan pengetahuan saya tentang perbukuan, termasuk bagaimana menembus penerbit dan menerbitkan buku, sangat minim. Maka saya mencoba menghadap kepala sekolah. Sayang tidak ada respon yang memuaskan. Oke, baiklah, saya tak boleh putus asa. Saya nekad menghadap kepala dinas. Sayangnya, juga setali tiga uang, alias sama saja.

Putus sudah harapan saya. Impian saya berantakan. Saya sampai minta maaf berkali-kali pada murid-murid saya. Rasanya, nyesek bangeeeet. Tapi saat itu saya yakin bahwa Allah  pasti akan membukakan pintu bagi saya untuk mewujudkan impian itu, membimbing dan mendampingi murid saya yang mempunyai talenta menulis untuk mampu memublikasikan karyanya secara luas.

Dan kini, ketika nasib membawa saya menjadi guru di SMA Negeri 1 Batu, setelah sejak Juli 2012 saya dipercaya untuk membina ekstrakurikuler jurnalistik dan majalah sekolah, saya membuka kembali kotak pandora impian saya. Di Parama, nama ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah saya ini, saya bertemu dengan anak-anak yang sangat tertarik dan bersemangat menekuni dunia kepenulisan. Saya percaya, saat ini, i tempat inilah, aya akan bisa mewujudkan impian saya.

Saya ungkapkan obsesi saya dengan kalimat oratoris, “Masa hanya gurunya yang punya buku? Apa kalian tidak ingin? Tidak tergoda untuk bisa punya buku sendiri?”

Pancingan saya bersambut. Hari itu juga kami (saya dan pengurus Parama) rapat kilat. Hasilnya, kami memutuskan akan menerbitkan buku kumpulan cerpen (kumcer) selain tetap mempertahankan konvensi sekolah yaitu menerbitkan majalah sekolah dua kali dalam setahun. Keputusan sudah diambil. Empat hari berikutnya, kami telah mengantongi selembar surat pengumuman audisi cepen yang telah di-acc wakil kepala sekolah dan kepala sekolah. Bismillah, rasanya, saya seperti baru saja memasukkan kunci ke lubang gembok. Berdebar-debar saya menunggu hasilnya. Apakah saya bisa membuka gembok itu, lalu menemukan jalan untuk masuk dan meraih impian?

Satu setengah bulan berlalu. Banyak naskah cerpen yang masuk, tetapi sedikit sekali yang memenuhi kriteria “layak” untuk dipermak dan diterbitkan kemudian. Subhanallah, anak-anak Parama benar-benar layak dibanggakan. Mereka masih bersedia untuk memperpanjang waktu seleksi, meski berakibat mundurnya jadwal penerbitan. Satu bulan berikutnya, sudah diperoleh 15 judul cerpen yang bisa dipermak. Satu hal yang perlu dicatat, anak-anak Parama tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga menyeleksi naskah masuk (tentu di bawah bimbingan saya sebagai pembinanya).

Mulailah langkah berikutnya, memberikan masukan pada penulisnya untuk memperbaiki karyanya. Ketika langkah ini selesai, saya mulai mengajarkan kepada mereka bagaimana mengedit sebuah naskah. Meski belum maksimal hasilnya dan saya masih harus menyempurnakannya, tetapi satu hal yang perlu dicatat ini adalah anak-anak Parama memperoleh pengalaman nyata. Tidak hanya dalam menyeleksi naskah, tetapi juga mengedit. Saya yakin, pengalaman belajar secara nyata ini akan sangat bermanfaat bagi mereka untuk secara mandiri mengasah kemampuannya.

Oh iya, ada satu hal yang terlupa. Awalnya, saya berencana untuk memberi judul kumcer tersebut “Pada Ketukan Kelima” yang saya angkat dari salah satu judul cerpen yang terpilih. Tetapi, saya jelas bukan guru diktator. Anak-anak Parama kurang sreg dengan judul itu. Mereka mengusulkan sebuah judul yang tak kalah keren, “Tujuh Belas Pena untuk Dunia”. Wow, keren, bukan? Alasannya, karena kumcer ini berisi 17 cerpen yang diharapkan menjadi titik tolak bagi anak-anak Parama (khususnya) dan anak-anak nSMA Negeri 1 Batu secara umum untuk berani memublikasikan karyanya pada msyarakat umum (dunia).

Tahapan berikutnya adalah membuat cover dan melay out. Subhanallah. Kembali saya harus bertasbih karena terpesona oleh semangat dan tekad mereka. Ketika saya mengatakan hendak menggunakan jasa lay outer dan desainer cover profesional, mereka menantang saya dengan kalimat, “Bu, kita lho Bu bisa melay out dan membuat cover sendiri.”

Tentu saja saya menyambut gembira hal ini. maka, mulailah para punggawa Parama yaitu Hanifa Rahmadini dan Larasita Apsari berdiskusi serius dengan Nizar R (yang pinter buat cover) dan M. Za’farudin (yang jago melay out). Desain pertama, masih sangat kaku dan kurang orisinal; juga kurang eyecatching. Selain itu, cover yang dibuat belum sesuai dengan judul kumcer. Dengan terbuka saya sampaikan beberapa kelemahan desain dan lay out mereka, hingga temannya yang lain pun berani menyampaikan tanggapannya. Maka terkumpullah masukan-masukan untuk menyempurnakan desain dan lay out kumcer itu.

Hingga akhirnya, hari ini, lay out dan desain cover kumcer tersebut sudah usai. Tinggal memasukkan endorment dari beberapa tokoh yaitu Mbak Reni Erina (managing editor Story magazine), Wina Bojonegoro (cerpenis dan penulis novel The Souls Moonlight Sonata), Dewanti Rumpoko (Dosen Psikologi Universitas Merdeka malang yang juga istri Walikota Batu), Husnun Djuraid (Jurnalis dan wartawan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya malang), serta Adnan Bukhori (cerpenis, penulis kumcer Paper Plane of Love).

Dan setelah itu, giliran saya untuk meneruskannya hingga terbit. Saya percaya bahwa “Tujuh Belas Pena untuk Dunia” hanya seperti bukaan kecil dari pintu untuk membuka jalan meraih impian. Impian saya mendampingi murid-murid saya yang ingin menjadi penulis atau minimal memublikasikan tulisannya, terwujud.

Barangkali memang inilah saat yang tepat. Saat setelah hari ini, 7 Oktober 2012, saya menerima email dari redaksi majalah anak-anak yang meminta saya mengirimkan nomor rekening. Ya, nomor rekening untuk pengiriman honorarium cerpen karya anak saya, Faradina Izdhihary Az-Zahra, di sebuah majalah anak terbitan nasional yang berjudul “Thank You, Mom”. Sebuah cerpen yang saya curi dan saya kirimkan diam-diam ke majalah.

Ya, bila hari ini, Allah memberikan kebahagiaan karena cerpen anak saya berhasil menembus media, esok giliran murid-murid saya sukses menerbitkan kumcernya, disusul  sukses menembus media juga, bahkan ada yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya. Dan semoga, segera setelah ini, menyusul buku kumpulan memoar guru, hasil audisi dari guru-guru seluruh Indonesia, berjudul Hope and Dream (Kumpulan Memoar Guru) juga terwujud. Saya yakin, para kontributor buku ini pun punya mimpi yang sama dengan saya, sama dengan putri saya, dan murid-murid saya: memublikasikan karya mereka secara luas.

Ini baru awal, Sis, Bro! Ibarat orang berjalan, karya bersama kita barulah pijakan kaki pertama sebelum kita benar-benar bisa melangkah ke dunia.

Mari bermimpi!

3 thoughts on “MARI BERMIMPI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s