BULAN HAJI DAN KERINDUAN PADA RUMAH ALLAH


Setiap kali memasuki bulan haji, apalagi bila harus ikut serta mengantar sanak famili atau kerabat yang akan berangkat menunaikan haji, rasanya perasaan cemburu itu pasti tak sanggup terhindarkan bagi kaum muslimin.

Hal itu pun saya temukan pada salah satu puisi Mas Eko Prasetyo, yang juga editor Jawa Pos, dalam buku puisinya RUMAH KARU yang saat ini sedang naik cetak di sebuah penerbitan mayor baru, Pustaka Nurul Haqqy. Dalam salah satu puisinya yang berjudul, RINDU MAKKAH, perasaan rindu dan cemburu sangat kental terasa.

Berikut adalah puisi Rindu Makkah tersebut.

RINDU MAKKAH

Ada bait-bait yang tertinggal di tanah suci

saat firman-Mu diperdengarkan

bak gemericik air yang tenang

bagai samudera tanpa ombak

bagai samudera tanpa gelombang

hening melukis tahta di atas asry Yang Agung

lalu, kusapa asma-Mu, wahai Tuhanku Yang Mahaindah

bilamana dapat kupijakkan kaki ini di rumah-Mu

ingin kuhela nafas yang terasa dekat saat kusebut nama-Mu

menengadahkan dua tanganku yang lemah

pada malam-malam dimana malaikat sibuk bertasbih

ketika alam semesta merendah mengibar aroma surga

dan pintu-pintu langit meninjau suara hamba-Mu yang berdoa

izinkan aku mengetuk pintu-Mu dengan ketidakberdayaanku ya Allah

biarkan aku sedetik mampu mengecup

ramah dua syahadat saat jasad dan ruhku hanya mampu memimpikan

berkunjung ke rumah-Mu

bilamana waktu itu datang

adakah tanda cinta paling indah selain menyeri nama-Mu?

Graha Pena, 11 April 2008

Sebuah kerinduan yang begitu menyesakkan. Pilihan kata-katanya yang dengan tepat menggambarkan ketiadaberdayaan seorang hamba untuk menemui Tuhannya di tempat paling indah, Makkah, tergambar dalam larik “dua tanganku yang lemah”. Kelemahan yang dipersandingkan dengan metafor-metafor yang dengan sangat memikat menggambarkan suasana pertemuan seorang muslim dengan Robb-nya di rumah Allah, Makkah.

Kerinduan yang membawa sang penyair pada titik penggambaran paling indah dari sebuah memonetum pertemuan hamba-Sang Khalik. Lihatlah, alangkah indahnya suasana itu digambarkan oleh penyairnya,

saat firman-Mu diperdengarkan//bak gemericik air yang tenang// bagai samudera tanpa ombak// bagai samudera tanpa gelombang // hening melukis tahta di atas asry Yang Agung

Suasana yang menggambarkan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Suasana yang membuat seseorang memohon dari hati terdalam untuk bisa mengalami saat-saat indah itu meski hanya sedetik saja karena ketiadaberdayaan ruh dan jasad penyair untuk mewujudkan harapannya itu. Kita seakan-akan dihadapkan pada penyadaran bahwa pergi ke baitullah itu tidak hanya uurusan ruh dan jasad, tetapi disadarkan bahwa kekuasaan Sang Mahaindah-lah yang paling menentukan.

Lagi-lagi penyair menohok batin pembacanya dengan larik penutup puisi ini.

“bilamana waktu itu datang //adakah tanda cinta paling indah selain menyeri nama-Mu? ”

Membaca puisi ini benar-benar seperti membaca kerinduan setiap muslim yang belum haji. Dan saya, pembaca, yang kebetulan mendapat kehormatan untuk memberi endorsment buku ini, adalah salah satunya. Padahal, puisi-puisi lainnya pun tak kalah bagusnya, bahkan terkadang singkat, nakal, menggoda, dan… menohok.

Rasanya gak berlebihan kalau buku puisi ini saya beri nilai 8, dan dengan predikat “menarik untuk dibaca”.

Dengan bahasa yang alay, saya sampaikan ke Mas Eko, “Saya meleleh membaca puisi ini.”

 

 

One thought on “BULAN HAJI DAN KERINDUAN PADA RUMAH ALLAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s