MAGICCOM BARU DAN CINTAMU ITU


MAGICCOM BARU DAN CINTAMU ITU

 

Kami telah menikah hampir 18 tahun. Selama itu, nyaris kami tak pernah terlibat pertengkaran yang berarti. Paling-paling hanya masalah sepele saja. Itu pun lebih banyak soal urusan anak-anak yang bandel. Setelah lahir anak ketiga, rasanya kami tak pernah lagi berbincang soal cinta. Maksudku, salah satu di antara kami tak pernah ada lagi yang mengucapkan “I Love You”. Apakah berarti cinta kami telah terkikis? Atau berubah menjadi perasaan persahabatan atau persaudaraan seperti cerita orang-orang?

 

Hari ini puasa hari ke-enam. Artinya, hampir genap satu setengah bulan aku memasak dalam arti sesungguhnya buat keluargaku. Tak hanya memasak, malah selama puasa ini aku juga belanja ke tukang sayur sendiri. Pagi-pagi selepas mengaji. Itu bisa kulakukan karena sekolah masuk jam setengah delapan pada bulan Ramadhan.

Rasanya seperti keluar dari penjara. Entah berapa lama aku tak keluar dari rumah pagi-pagi lalu menggerakkan kakiku ke tukang sayur, menyapa ibu-ibu sekompleks yang barengan belanja, dan memilah-milah sayur, daging atau ikan di tukang sayur. Ternyata udara pagi di kompleks perumahanku sangat segar.

Hari ini ternyata nasibku kurang bagus. Tak ada ikan mujaer pesanan anak-anakku. Ruapanya aku datang agak kesiangan. Para pembeli sebelum aku datang, lebih dulu membeli dan mengusung barang-barang yang kucari itu ke rumahnya sendiri-sendiri. Ya sudah kuangkat beberapa sayur dan setengah kilogram daging ayam potong. Kuputuskan untuk berbuka puasa nanti cukup buat nasi goreng campur ayam dan telur, sedang minumnya jus melon kesukaan anak-anakku. Untuk makan sahur, buat soto ayam.

Sesampainya di rumah kusampaikan perburuanku pada suami.

“Mas, gak dapat mujaer pesanan anak-anak. Untuk sahur nanti belum ada. Aku juga belum beli melon buat jus,” kataku seperti biasa selalu melaporkan hasil buruanku belanja pada suamiku.

“Ya sudah nanti aku belikan pulang kantor,”kata suamiku.

Selalu begitu. Setiap kali aku tak menemukan belanjaan di tukang sayur perumahanku, suamiku akan membelikannya sepulang dari kantor. Kebetulan, untuk berangkat dan pulang ke kantornya, suamiku melewati sebuah mall paling besar di kota kami, beberapa supermarket,  pasar, dan beberapa toko buah. Sebaliknya, arah kantorku berlawananan.

Jadilah, setiap kali belanja bulanan, dari mulai sabun, minyak goreng, beras, sampai sendok dan gelas pun suamiku yang belanja. Ia melakukannya dengan ikhlas. Tak pernah mengeluh. Itu baru satu di antara kelebihan-kelebihan suamiku yang penyabar ini. Alhamdulillah, Allah memberikan pasangan terbaik untukku.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Aku baru saja selsai salat ashar dan bersiap untuk memasak untuk buka puasa sore nanti. Tiba-tiba nada panggil HP-ku menjerit-jerit. Kulihat, nomor suamiku di layar.

“Assalamu alaikum,” sapa suamiku.

Seperti biasa aku menjawab salamnya dan menanyainya, pulang jam berapa hari ini. Biasanya ia akan menjawab jam lima, habis maghrib, atau malah izin lembur. Ternyata kali ini berbeda. Ia hendak minta maaf.

“Mi, barusan pimpinan memintaku meninjau lokasi proyek ke Kota B. Mala mini sedang dilakukan pengecoran di sana. Umi bisa kan belanja buah sendiri? Mumpung belum terlalu sory. Maafkan, Aby ya!” pintanya lembut.

Hm… tugas luar kota mendadak. Bulan pusa lagi. Kasihan suamiku. Mana nanti malam seharusnya adalah jadual dia jadi imam dan penceramah di masjid kompleks perumahan kami.

“My…,” suara suamiku menyadarkanku.

“Iya. Gak papa. Gampang, nanti aku beli di bazaar aja es buahnya,” kataku akhirnya.

Kebetulan selama bulan puasa, ibu-ibu PKK mengadakan bazaar di dekat lapangan di dekat gapura perumahan. Meski demikian, sejak aku bertekad untuk memasak buat anak-anak dan suamiku, selama bulan puasa ini aku belum sekalipun berbelanja di sana. Tak apalah kali ini aku akan mmbeli es buah di sana. Kalau harus beli melon atau blewah ke toko buah berarti aku harus naik motor dan mengajak si bungsu. Malah ribet, pikirku.

Aku mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng istimewa. Sambil menjerang air, pikiranku selalu tertuju pada suamiku. Kasihan sekali, puasa-puasa harus melakukan perjalanan jauh. Nanti bukanya bagaimana, belum lagi aku teringat harus member tahu takmir masjid bahwa suamiku tak bisa menjadi imam dan penceramah dalam salat tarawih nanti malam.

Kutuang air panas dalam magic com agar proses memasak nasi lebih cepat dan nasinya lebih enak. Kuarahkan kenop berlampu kuning itu ke tanda cooking. Aneh, kenapa mati? Paahal semalam saat kupakai memasak persiapan makan sahur tak apa-apa. Tak enak hatiku, kubuka penutup magic com.

Astaghfirullahal adhiem! Ya Allah…. Aku teledor sekali! Aku lupa. Wadah tempat beras dan air itu masih ada di luar. Magic com itu trouble gara-gara aku teledor. Gemetar segera kucabut kabel listrik dari colokannya. Aku takut akan terjadi konsletting atau kebakaran.

Akhirnya sore itu aku memasak nasi dengan cara lama. Pakai panci dan kompor gas. Pikiranku semakin tak terfokus. Ingin sekali rasanya naik motor dan ngabur ke toko elektronik, membeli magic com yang baru. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 16.45 menit. Tak akan cukup sampai di rumah dan memasak nasi. Jarak rumah ke toko elektronik sekitar 7 KM, belum terhitung macetnya. Mau telepon suami takut merepotkan. Pasti ia lelah dan akan pulang larut malam, seperti biasanya bila ia tugas luar kota.

Karena melamun saat mengangkat panci, jempol kananku menyentuh kulit panci yang panas itu. Duh…. Panas. Sebentar saja jempolku langsung melepuh. Aku tak boleh mengeluh, putusku. Fight, fight, semangat, mom! Aku terus memotivasi diriku.

Jempolku masih terasa panas dan perih, tapi jarum jam terus bergerak mendekati adzan maghrib. Setelah kupindahkan karu (beras yang sudah direbus sampai airnya habis) kutuangkan ke dandang (panci untuk menanak nasi), aku bersegera ke tempat bazaar ramadhan.

Gerimis kecil di luar tak kuhiraukan. Bila kuturuti rasa malas dan dingin yang menggigit, kasihan anak-anakku. Mereka hanya mau minum es buah atau jus buah sebagai pembatal puasanya saat berbuka.

Alhamdulillah, saat adzan maghrib bergema, nasi goreng istimewa bercampur ayam, telur, kacang polong, plus kerupuk siap tersaji. Ada juga tempe goring hangat sebagai pelengkap.

Jempol tangan kananku yang melepuh terlupakan saat anak-anakku berbuka puasa dengan lahap.

***

Aku terbangun tepat jam 2.45 WIB. Aku bergegas mencuci muka. Kulihat suamiku tidur di kamar bawah. Entah jam berapa dia pulang. Yang jelas dengkurnya menjadi bukti betapa lelah dia hari ini. Mungkin saat pulang tadi ia melihatku sudah tertidur pulas jadi dibiarkannya aku tetap tertidur.

Bila biasanya aku langsung tak perlu memasak atau  menghangatkan nasi, khusus mala mini aku harus memasak nasi. Kurebus air di panci hingga setengah mendidih lalu kumasukkan beras ke dalamnya. Ya Allah….. rebusan beras itu berbuih. Buihnya banyak sekali hingga tumpah-tumpah ke kompor hingga mengalir ke lantai. Selama ini karena selalu memasak di magic com, aku sama sekali tak tahu bahwa beras yang selama ini kami masak berbuih seperti ini. Mungkin ini yang dimaksud beras diberi pemutih. Aku ingat pernah diberitahu soal ini sama kakak sepupuku yang kebetulan bekerja di bidang pertanian.

Tak berapa lama beras aru itu pun masak dan siap dipindahkan dalam panci pengukus. Kuangkat panci berisi beras aru itu.

Ya Alla….. aku terpeleset tumpahan buihnya. Beras aru itu pun tumpah seluruhnya mengani betis kaki kiriku. Aku menjerti tertahan. Rasanya panas, perih, tak tertahankan. Kubiarkan beras aru itu berceceran di lantai. Aku harus segera meredam rasa sakit ini supaya bisa melanjutkan tugasku menyiapkan makan sahur.

Sebenarnya ingin sekali aku membangunkan suamiku dan menangis tersedu-sedu seperti biasanya. Tetapi rasa iba ingat betapa pulas dia tidur tadi membuatku menahan diiri. Aku memilih lari ke kamar mandi.

Kututup closet dan aku duduk di atasnya. Kunyalakan kran air dan kusiramkan terus menerus ke betisku yang tersiram beras aru tadi. Ya Allah…. Panas sekali. Ini baru panas bers aru, bukan panas apai, dan bukan pula panas api nerakamu. Aku gemetar menahan sakit, gemetar menahan rasa takut saat ingat dosa-dosaku. Ya Allah… betapa selama ini aku kurang bersyukur padamu tiap kali memasak dengan magic com. Aku tak pernah mensyukurinya sebagai nikmat yang luar biasa. Bukankah di luar sana masih banyak orang yang memasak dengan cara ini? Mereka tak pernah mengeluh, tak pernah tersiram beras aru. Sedang aku, baru tadi sore saja jempol tanganku melepuh, dan mala mini betis kiriku tersiram beras aru.

Aku menangis. Tersedu-sedu. Kututup pintu kamar mandi agar anak dan suamiku tak mendengar isakku. Tangisku tak hanya karena rasa perih di betisku. Ingatanku akan dosa-dosaku serta azab Allah di neraka nanti membuat hatiku terasa seperti ditusuk ribuan duri. Aku gemetar. Sakit lahir dan batin.

Setengah jam aku memangisi betis dan hidupku yang dipenuhi dosa. Selama itu pula air kran terus kualirkan ke kakiku. Alhamdulillah panasnya mulai reda.

Jam dinding menunjukkan pukul 4 kurang sepuluh menit. Berarti tak cukup waktu bila aku harus menanak nasi. Kuputar otakku sambil menahan rasa perih di betis kiriku.

Alhamdulillah, di kotak bawah rak piring ada beberapa bungkus mie instan. Terpaksa menu melas.com harus kusajikan malam ini. Secepat kilat kumasak 4 buah mie soto dan kubuat dadar telor.  Lebih bersyukur lagi, masih ada sisa sekitar dua piring nasi goreng sisa buka puasa tadi sore. Kupanaskan segera.

Kubangunkan suami dan anak-anakku. Di meja makan hidangan makan sahur masih mengepul.

“Hanya ini, Mi?”tanya Nauval, anak keduaku.

Umi mengangguk.

“Aku gak sahur dech,”katanya terlihat ogah-ogahan.

Memang di antara ke empat anakku, dia yang paling cerewet soal makanan.

“Nauval… gak boleh gitu. Ayo sahur. Kasihan Umi sudah capek-capek memasak. Kita masih harus bersyukur bisa makan sahur seperti ini. Di luar sana masih jauh lebih banyak orang yang tak mampu membeli makanan,” nasihat suamiku.

Nauval terdiam dan bersegera mengambil mie kuah ke dalam piringnya.

Kami makan sahur tanpa banyak bicara.

Usai menghabiskan jeruk hangat di gelasnya masing-masing anak-anakku bersegera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menjalankan salat lail. Kubereskan piring kotor dan hendak kucuci.

“Mi… Umi capek?”kata suamiku sambil meraih tangan kiriku.

Aku terisak.

Suamiku memelukku.

“Maafkan Aby, tugas kantor tadi memang mendadk,”katanya masih lembut.

Ia memelukku semakin erat. Aku semakin tersedu. Tangisku kini tak dapat kutahan.

“Mi…..kenapa?”tanya suamiku semakin kuatir.

Kutunjukkan betis kiriku yang melepuh dan tersentuh kain sarungnya.

Suamiku memekik kaget. Ia membimbingku ke kamar dan kemudian membiarkanku menangis dalam pelukannya. Kuceritakan semuanya dari mulai magic com yang trouble gara-gra aku teledor, jempol tangan kananku yang melepuh menyentuh panci panas, hingga incident tumpahnya beras aru di kakiku.

Suamiku memelukku lembut. Dikecupnya keningku.

“Besok kita beli yang baru.”

Aku mengangguk.

***

Esoknya suamiku pulang lebih awal, sekitar setengah empat sore sambil menenteng magic com baru.

Sambil duduk-duduk, suamiku berkata.

“Mi… kenapa sih kalau kutinggal pergi semalam saja pasti ada sesuatu yang terjadi padamu?”

Aku tertegun. Ingatanku melayang. Beberapa minggu yang lalu saat ia ditugaskan ke Probolinggo aku jatuh dari motor saat menjemput anakku dari sekolah. Sekitar dua minggu sebelumnya aku memecahkan tremos air panas saat suamiku ditugaskan ke Bojonegoro. Benar kata suamiku, aku selalu teledor, selalu terkena musibah kecil saat ditinggal suamiku.

“Kenapa?” tanyanya ingin tahu.

Aku tersenyum dan menunduk. Lirih kujawab pertanyaannya sambil menahan malu.

“Setiap kali berjauhan dneganmu, rasanya hilang separuh jiwaku.”

Tak ada jawaban suamiku. Ia meraih tanganku dan membelainya lembut. Andaikata bukan bulan puasa, pasti ia akan memeluk dan menggendongku.

Ah…ternyata perasaan cintaku bukan semakin padam, malah semakin bergelora. Kami bertatapan hangat dan mesra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s