TOLONG, MENGERTILAH…. AKU TAKUT (Diary Seorang Guru)


Catatan harian, 3 Oktober 2012

Menjadi guru selalu membuatku banyak belajar tiap hari. Sejujurnya, dengan menjadi guru, aku tidak hanya menjadi fasilitator yang mentransfer ilmu pada siswaku. Seringkali, aku mendapat banyak ilmu dari apa yang dikatakan atau dilakukan oleh murid-muridku. Terutama ilmu mendidik.

Hari ini misalnya, salah seorang siswaku, sebut saja namanya Bella. Dia pingsan jam pertama sebelum aku masuk kelasnya. Kebetulan aku adalah Pendamping Akademik (di sekolah kami istilah wali kelas diganti dengan Pendamping Akademik/PA, dan PA sebuah kelas bisa dua atau tiga orang guru).

Saat jam ketiga, aku masuk kelas Bella. Teman-temannya memberitahuku bahwa Bella di UKS karena pingsan jam pertama tadi. Apesnya, hari ini flu  masih menyerangku. Tubuhku masih setengah melayang, suaraku pun timbul tenggelam. Jadi sejak jam pertama di kelas akselerasi aku hanya memberi ulangan tulis, begitu pun di kelas Bella.

Saat istirahat tiba beberapa anak dari kelas Bella menemuiku dan mengatakan bahwa Bella belum sembuh, masih beberapa kali pingsan. Padahal saat itu aku baru saja minum obat. Dengan sangat terpaksa kukatakan pada mereka,

“Kamu cari Bu Tutut ya (Bu Tutut itu teman sama-sama PA di kelas Bella). Ibu sakit. Takutnya nanti malah nular pada Bella,” kataku setengah mengantuk. Efek obat sih.

Jadilah anak-anak mencari Bu Tutut dan aku asyik dengan flu beratku. Aku nyaris tidak memikirkan nasib Bella. (Maafkan, Ibu ya Nak). Hingga menjelang bel istirahat kedua, dua orang siswaku kembali menemuiku di ruang guru.

“Bu, Bella itu lho Bu, masih pingsan berkali-kali.”

“Kalau gitu diantar pulang saja,” kataku yang langsung tersadar bahwa keadaan Bella ternyata tidak main-main. Ya Allah, dalam hati aku menyesal. Mengapa aku harus menyerah pada rasa lesu dan kesadaran yang seperti tinggal setengah karena efek obat flu yang kuminum.

“Sudah, Bu. Tapi Bella-nya yang nggak mau.”

“Lho kenapa?” tanyaku bingung.

“Dia nggak mau mama sama papanya tahu kalau dia sakit.”

Walah…. Dengan semangat yang tiba-tiba tumbuh merimbun (apa ini karena jiwa sang guru muncul ya?), aku bergegas menuju UKS.

Sesampai di UKS kulihat Bella terbaring lemah. Kudekati dia, dan kusapa.

“Opo o, Nduk?” tanyaku lembut sambil memegang tangannya.

Bella hanya menatapku sekilas. Air mata merebak memenuhi kelopak mata gadis cantik yang baru berusia 16 tahun itu. Tiba-tiba jari jemarinya yang dingin seperti es itu menegang dan dia pingsan lagi. Naluri sebagai seorang guru dan seorang ibu, membuatku yakin bahwa “ada sesuatu yang tak beres pada kondisi psikisnya”. Kupanggil salah seorang temannya ke sudut.

Terus terang aku merasa bahwa kehadiranku tidak membuat dia semakin kuat, malah tambah pingsan. Wah gawat. Jangan-jangan wajahku sudah menyerupai monster ya hari ini.

“Ya, Bu,” kata muridku memenuhi panggilanku.

“Bella patah hati, ya?”

“Patah hati apa, Bu. Kan baru jadian. Pacarnya …. bla … bla …bla…”

Tanpa kuminta muridku itu bercerita soal itu, lengkap. Intinya, Bella tidak sedang patah hati. Saat itu, dua orang siswa yang kuminta mencari no HP dan telepon rumah orang tuanya ke TU sudah tiba dan segera menyerahkan nomor HP yang kuminta. Bergegas kutelepon ibunya dan kusampaikan agar segera menjemput putrinya. Tapi kuwanti-wanti agar ibunya datang tanpa menunjkukkan kekhawatiran yang berlebih.

“Bu, saya takut,” ujar tiga orang muridku hampir bersamaan.

“Lha, takut apa?” Aku keheranan menatap ketiga muridku bergantian.

“Bella pasti marah karena kita ngasih no. HP orang tuanya.”

“Lho kok gitu? kalau Bella marah, bilang suruh marah sama Ibu karena Ibu yang minta, kalau gak berani marahi ibu suruh marahi Bu Titik (Ka TU di sekolah kami). Memangnya kenapa takut?”

“Bella nggak mau orang tuanya tahu soal penyakitnya.”

“Lha…. Kok bisa? Emangnya dia sakit apa?”

“Ya belum tahu Bu. Tapi kalau nanti diperiksakan ke dokter terus ada penyakit berbahaya kan dia takut Bu. Kasihan orang tuanya, katanya.”

Oh My God, Allah. Aku baru sadar ketakutan macam apa yang melanda murid cantikku itu. Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak akan mendekatinya dengan kelemahlembutan sebagai seorang ibu atau seorang guru. Aku harus jadi temannya. Tampil ngocol seperti biasanya.

Kulangkahkan kakiku masuk ke UKS lagi. Dari jauh, tak kupasang wajah khawatir atau tegang, tetapi senyum lebar seperti biasanya.

“Gimana, Nduk? Masih mau pingsan? Kenapa tho? Pengin rabi (nikah)?”

Hehehehe. Kali ini tak kulihat ketegangan di wajahnya. Wajah cantik itu tersipu.

“Lha gimana kalau cuma sakit-sakit gini kan mending tutup buku, buka terop. Enak.”

Hehehehe. teman-temannya ikut tertawa ketika melihat senyum Bella terbuka lebar. Alhamdulillah, ucapku dalam hati. Jadi bener anak ini sakit karena takut.

“Pulang ya Nduk, terus ke dokter.”

Dia menggeleng. Air mata mulai muncul dari sudut matanya yang masih sembab.

“Lho kenapa? Emangnya mau nginep di UKS? Sendiri lho. Gak ada temannya. Tapi gratis.”

Kali ini gak ada senyum lebar.

“Memangnya kenapa tho nggak mau pulang?”

“Takut diperiksakan ke dokter, Bu,” jawab temannya.

“Lha? Kok malah takut?” tanyaku nggak ngerti.

“Takut kalau ketemu penyakitnya, Bu?

“Emangnya kamu sakit apa?” tanyaku mulai lagi pasang wajah penuh senyum dan canda.

Bella menggeleng sambil berucap, “Nggak tahu.”

“Lha kalau gitu, itu namanya keminter. Sudah kadung takut luar biasa, begitu diperiksakan ternyata gak ada penyakitnya. Adanya cuma ketahuan bahwa Bella sakit kelaparan karena enggak sarapan. Tadi sarapan enggak?”

“Enggak, Bu. Tapi tadi sudah makan.”

“Yang bener? Itu ya?” tanyaku sambil menunjuk mangkok berisi setengah lebih nasi soto ayam.

Bella mengangguk. “Makan cuma separoh, Bu,” katanya lagi.

“Hedew…. separoh apa an? Wong sisanya lebih dari separo.”

“Yang banyak makan tadi Nita, Bu,” kata temannya yang lain.

Bella tersenyum tersipu malu.

“Tuh kan. Kamu itu sakit kelaparan. Lagipula, kalau pun ternyata kamu punya suatu penyakit, bukankah lebih baik segera diketahui agar bisa diobati. Apa pengin nunggu kapan-kapan ketika sudah parah dan telat untuk diobati?”

Bella menggeleng.

“Nah, kalau gitu Bella pulang ya. Bentar lagi mamamu menjemput. Jangan mogok gak mau ke dokter lho,” kataku sambil menggenggam tangannya.

Wajah Bella yang tadi pias, kini sudah mulai segar. Bibirnya yang indah sudah mulai memerah.

Tak berapa lama kemudian mamanya disertai Pak Dhe dan Bu Dhenya datang.

“Nih Bu, sudah ketahuan, Bella sakitnya karena nggak sarapan,” kataku menenangkan mamanya setelah sedikit berbasa-basi.

Bella tersenyum lebar. Ibunya mencium pipinya. Alhamdulillah batinku, saat mamanya datang kondisi Bella sudah sedikit membaik dan mamanya pun datang tanpa kehebohan seperti yang biasanya dilakukan banyak ibu kalau menjemput anaknya sakit di sekolah.

“Tuh kan, mamamu nggak marah kamu sakit,” godaku pada Bella.

“Iya, Bu. Memang kalau disuruh sarapan itu sulitnya minta ampun. Tapi kalau gini (ia mempraktikkan jemari tangan yang disibukkan memencet keyboard HP) sangat rajin,” keluh ibunya.

Begitulah kemudian kami berdialog di depan Bella dan teman-temannya soal pentingnya sarapan. Dan sebagai guru yang kebetulan juga ibu, aku mengamini cerita beliau bagaimana ribetnya pagi-pagi menyiapkan sarapan anak-anaknya tetapi seringkali dikecewakan karena anak-anak malas sarapan dan tidak mau membawa bekal.

“Dia juga ngeluh, Bu. Katanya pelajarannya sulit. Nilai ulangannya jelek, Bu. Ya saya nasihati, kalau teman-temanmu bisa, mestinya kamu bisa. Kamu harus rajin belajar.” Ibunya bercerita seperti menumpahkan beban berat di dadanya.

“Yaaah, bagaimana mau dapat nilai bagus. Orang asupan buat tubuhmu saja kurang, apalagi buat otakmu. Itu kan pilihan kamu. Jadi, besok, kalau Bella memang memilih nilai tetep jelek, terus pingsan, dan ketinggalan pelajaran, ya nggak usah sarapan. Lagipula, kamu kan gak pernah minta dibuatin sarapan. Iya kan, Bel?” tanyaku sambil tetap berwajah menggoda.

Bella dan teman-temannya tersipu.

“Kalian itu lho jahat banget sama Ibu. Sudah dimasakkan capek-capek, tinggal makan, gak perlu cari duit, belanja, dan masak aja kok gak mau. Tegaa,” kataku pura-pura sewot.

Bella dan teman-temannya terdiam.

“Nah, jadi gimana? Bella pulang bareng mama atau nginap di sini?” tanyaku lagi.

“Pulang,” katanya sambil memegang tangan mamanya.

“Ditandu, digendong, atau dituntun?”

“Jalan sendiri, Bu. Kuat kok.”

Bella kemudian bangun dari tidurnya kemudian langsung berdiri. Alhamdulillah tidak sempoyongan.

Sambil menuju halaman parkir, ibunya bercerita tentang ketakutan-ketakutan Bella terhadap pelajaran yang ia hadapi.

“Pelajarannya sulit-sulit, Bu, katanya giitu lho Bu Is.”

“Bener, Bell?” tanyaku pada Bella yang berjalan didampingi kedua temannya.

Bella mengangguk.

“Yeeee… Tahu enggak kamu, ketakutanmu itu membuatmu telah menggenggam 50% kegagalan. Ingat, Innallah ‘inda dhonny abdy, Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Kalau kamu menganggap sulit, ya itu yang akan terjadi. Oke, kapan-kapan ibu akan bercerita soal ini di kelas, ya. Sekarang ke dokter dulu sama mama,” kataku akhirnya berpesan pada Bella.

Aku melepaskan anak dan mamanya itu hingga mereka meninggalkan halaman sekolah.

Hari ini, sekali lagi, aku dapat pelajaran bahwa sebagai orang tua, sebagai guru, kita harus mau mengerti perasaan anak-anak kita. Ketakutan yang berlebihan akan sesuatu yang belum pasti ternyata bisa membuat anak-anak kita jatuh pingsan berkali-kali. Semoga benar dugaanku bahwa Bella hanya takut mengidap suatu penyakit dan ketakutannya itu semoga tak terbukti. Sesuatu yang berlebihan memang kalau dilihat dari cara berpikir orang dewasa. tetapi mereka masih anak-anak, masih butuh bimbingan.

Yang kuat ya, Nduk. Makasih ilmunya hari ini.

2 thoughts on “TOLONG, MENGERTILAH…. AKU TAKUT (Diary Seorang Guru)

  1. Ping-balik: TOLONG, MENGERTILAH…. AKU TAKUT (Diary Seorang Guru) | faradinaizdhihary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s