NAYLA (Salah satu cerpen dalam kumcer Membaca Hujan)


NAYLA
Faradina Izdhihary)*

Nayla sakit, sementara Mas Bram, suamiku,  sedang ke luar kota. Aku kalut sendiri. Sudah beberapa hari ini Nayla tak kuat bangun. Kata dokter ia tak sakit, hanya lelah dan perlu istirahat. Rasa rasa was-was begitu kuat mengusik hati.

Biasanya Nayla selalu ceria, penuh tawa, dan cerita. Mirip sekali dengan aku. Nayla mewarisi kecantikanku, hidung bangir, kulit putih, bibir penuh dan sensual, mata yang menyiratkan kecerdasan. Ia mewakili postur tubuh papanya, cukup tinggi untuk ukuran wanita Indonesia. Di usia SMA kelas XI saja tingginya sudah 172 cam, kurang 8 cm saja ia bisa menyamai papanya.

Sejak kecil aku mendidiknya mandiri. Di rumah memang ada pembantu. Tapi Nayla terbiasa mencuci piring dan bajunya sendiri. Bahkan di hari Minggu ia terbiasa menyetrika bajuku dan baju papanya. Siapa yang tak bangga? Ia juga tak malu mengepel lantai rumah atau mencabut rumput di halaman. Ia benar-benar anak impian. Aku menyayanginya sepenuh hati. Aku selalu mendoakannya semoga ia menjadi perempuan solihah yang mandiri.

Betapa bangganya aku setiap orang memujinya. Aduh Jeng, putrinya cantik sekali! Wah…. putrinya itu lho Jeng sudah cantik, pinter, rajin pula. Atau, Jeng… Jeng aku bener-bener kepincut lho mau ngambil Nayla sebagai menantu. Siapa yang tak bangga? Aku tak bisa munafik di hatiku sering muncul kebanggaan karena aku merasa berhasil menjadi ibu yang baik bagi putri semata wayangku. Meski aku bekerja dari jam tujuh pagi hingga jam setengah lima sore, tapi putriku tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.

***

“Nayla lelah…. Nayla cuma mau istirahat,” terdengar suara Nayla seperti mengigau.

Seperti terbang aku berlari ke kamar Nayla.

“Nayla Sayang, ini mama, Nak…. Ini mama,”kataku sambil merengkuh kepalanya ke dalam pelukanku.

Kuhapus keringat dinginnya yang sebiji jagung memenuhi dahinya. Nayla menangis tertahan. Aku tak tahu mengapa rasanya aku seperti melihat beban yang berat di dadanya yang naik turun itu.

“Ma…. Nayla… pingin nangis, Ma…. Nayla nggak kuat,” keluhnya masih sambil menahan tangisnya.

Ya Tuhan, Nayla anakku….. Mengapa untuk menangis saja engkau mesti meminta izin pada mama, Nak?

Aku mengangguk lesu. Meledaklah tangis Nayla dalam pelukanku. Air matanya membanjiri bajuku. Ia tenggelam dalam tangisnya, dan aku tenggelam dalam penyesalanku.

Ya Tuhan, ibu macam apa aku ini, hingga untuk menangis saja anakku harus meminta izin padaku? Ya Tuhan…. aku gemetar memeluk Nayla yang juga menggigil dalam pelukanku. Aku selalu menanamkan padanya untuk tak menjadi perempuan cengeng. Aku ingat selalu memarahinya bahkan akan menamparnya jika ia menangis.

“Memalukan! Apa kata tetangga kalau sampai mereka mendengar engkau menangis? Hem… bisa-bisa mereka mengira papa dan mamamu ini nggak bisa mendidik anak! Diam! Atau tangan papa akan menampar mulutmu!” selalu begitu kalimat yang meluncur deras dari mulut suamiku bila Nayla menangis.

Aku pun setuju dengan sikap suamiku. Aku merasa terganggu manakala Nayla menangis. Kalau sudah begitu tanganku akan dengan ringan membekap atau menampar mulutnya, bahkan mencubit pantatnya. Sejak kelas I SD Nayla tak pernah menangis. Aku bersyukur, Nayla tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak cengeng.

Nayla pun meraih prestasi akademis yang luar biasa. Sejak TK, kecerdasannya sudah terlihat. Kelas I sampai kelas VI SD dia selalu meraih rangking pertama. Sering sekali kudengar bagaimana teman-teman wali murid memuji Nayla.Hasil Tes IQ Nayla ternyata memang benar-benar luar biasa: 149.

Menyadari kecerdasan Nayla, aku selalu menuntut prestasi terbaik harus diraih Nayla.

“Kamu harus bisa, Nay. Ingat Tuhan memberimu karunia IQ 149. Berarti kamu sangat cerdas. Kamu lebih hebat dari teman-temanmu.”

Kalimat itu selalu kuulang-ulang padanya meski dengan pilihan kata dan nada yang berbeda.

Beberapa minggu yang lalu, Nayla mengikuti Ujian nasional (UN) SMA meski usianya baru 15 tahun. Ia masuk kelas akselerasi di SMP dan di SMA.

“Ma… Nayla takut,” suara Nayla mengagetkanku

“Takut kenapa Nay?”, tanyaku lembut.

“Nayla takut gak lulus, Ma.”

“Hm… anak mama mana boleh ngomong seperti itu? Nayla anak mama yang paling hebat! Nayla pandai, Nayla pasti bisa,” jawabku sambil mengelus rambutnya.

Tiba-tiba aku ingat, baru minggu kemarin ia naik ke kelas XII. Ujian Nasional dimajukan satu bulan, jadi masa belajar di kelas XII tinggal tiga setengah bulan lagi. Berarti kelas XII hanya ditempuhnya selama tiga setengah bulan juga. Ya Tuhan….

“Mama………. Nayla gak sepandai yang mama kira! Nayla nyerah Ma….!” suara Nayla bergetar dan keras sekali.

Suara itu seperti menampar-nampar telingaku.

“Nayla…….! Ngomong apa kamu, Nak?” tak sadar aku pun meninggikan kalimatku.

“Mama nggak pernah mikirin Nayla! Mama cuma mikir Nayla harus membanggakan mama dan papa. Kapan mama mikir kebahagiaan buat Nayla, Ma?” Nayla melepaskan diri dari pelukanku.

Ia lari ke kamar mandi. Kukejar ia. Bukan, sungguh bukan untuk membekap atau menampar mulutnya sewaktu kecil. Aku takut terjadi apa-apa pada Nayla. Ia masih lemah. Ia masih sakit. Ya Tuhan, aku nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Nayla,anakku satu-satunya.

“Nayla…. buka pintu, Sayang! Buka pintu!,” aku berteriak-teriak sambil menggedor pintunya.

Nayla diam saja. Nayla tak mau membuka pintunya. Semenit, dua menit kugedor-gedor pintunya.Sudah lebih dari seperempat jam, tak ada suara apa-apa di kamar mandi. Aku berteriak-teriak memanggil Pak Karim, pembantuku. Kuminta ia membongkar paksa pintu kamar mandi itu.

Kutemukan Nayla tergeletak tak berdaya. Sebuah kaleng obat nyamuk dengan sedikit tumpahan isinya tergeletak persis di samping tangannya yang tak berdaya. Dari mulut Nayla keluar busa. Ia masih hidup…. Ia masih hidup! Tuhan… jangan ambil Naylaku, desisku berkali-kali.

Seperti kesetanan aku memerintahkan Pak Karim menyetir mobil.

“Lebih cepat lagi, Pak!”, teriakku panik.

Aku menangis, menciumi Nayla, menyebut-nyebut nama Tuhan sambil menelpon Mas Bram.

Semoga tak terlambat, ya Tuhan. Selamatkan anakku. Aku tak rela kehilangan dia.
***

Dua hari Nayla dirawat di rumah sakit. Ia masih lelah. Teman-teman dan gurunya telah menjenguk semua. Kesempatan itu kugunakan untuk mencari apa sebenarnya yang dialami Nayla. Guru BP yang kutanya mengatakan tak terjadi apa-apa. Nayla anak yang baik, tekun, dan tidak pernah melanggar aturan sekolah. Nilai-nilai pelajarannya pun bagus. Nilainya masih tetap berada di atas rata-rata kelasnya.

Jadi apa yang kau susahkan, Nayla? Mama tidak tahu, Sayang, keluhku.

“Nayla jarang berteman akrab dengan teman-temannya. Sepertinya ia kurang pandai bergaul, Bu. Tapi… Ibu bisa coba tanya pada Ninit, teman sebangkunya,”urai guru BP-nya memberi secercah harapan padaku.

“Ninit sih cuma dekat saja Tante. Setahu Ninit, Nayla gak pernah cerita punya problem apa. Biasa-biasa saja paling kami berdiskusi soal pelajaran. Lagian kan Nayla jarang main-main atau jalan-jalan sama kita. Kasihan dia Tante, gak banyak temannya, “jawab Ninil.

Nayla-ku  tidak punya banyak teman? Mana mungkin Naylaku yang ceria kurang bisa bergaul dan tak punya banyak teman. Ya Tuhan… ternyata hanya sedikit sekali yang kuketahui tentang Naylaku. Gemetar aku menyadari bahwa aku ternyata tidak mampu menjadi mama yang baik baginya.

Aku tahu… aku tahu dimana aku dapat mengetahui apa sebenarnya yang menjadi masalah Nayla.
***

Buku harian itu kutemukan setelah kubongkar meja belajar Nayla. Ia menyimpannya di antara album foto.

Mengapa selalu ia tulis dengan pensil merah soal aku dan papanya?

Mengapa selalu ia akhiri catatan hariannya dengan kalimat, “Ma… Pa… aku gak kuat lagi.”

Apa maksudnya Nay? Apa maksudnya Sayang?

Kutemukan juga halaman jawaban itu. Seperti sebuah surat ia menulis diarynya. Tulisan itu ia tujukan padaku, juga pada mas Bram.

Untuk Papa dan Mama

Ah Ma, Pa…sesekali aku ingin mendengar Kalian bertanya padaku, “Nayla ingin apa?” Dan aku akan menjawab sambil memeluk Kalian berdua, “Ma, Pa… aku hanya ingin Papa dan Mama menganggapku seperti anak lainnya. Bukan anak luar biasa.”

Tapi, Ma… kemampuanku pun ada batasnya. Apakah Mama dan Papa pernah tahu bagaimana aku takut pulang jika nilaiku kurang? Aku tahu mama bangga nilaiku selalu menjadi yang terbaik, aku juga bangga bisa membuat Mama bahagia. Aku tahu bahwa mama merasa tenang dan bahagia karena aku tak pernah pergi-pergi tanpa izin. Pernahkah mama tahu, aku lelah menjadi yang terbaik? Aku juga ingin pergi jalan-jalan ke mall atau ke plaza bersama teman-teman sekedar lihat-lihat atau makan bakso kota.

Pernahkah mama berpikir bagaimana aku bisa bangga dan bahagia?Aku pun ingin menangis dan mengeluh, Ma.

Aku menangis tersedu membacanya. Inikah sebabnya kemarin Nayla meminta izin hanya untuk menangis?

Ma… bagaimana mengatakan pada Mama? Aku tak sanggup menanggung sendiri derita ini, ma. Aku gak sanggup! Aku butuh teman untuk curhat dan bermanja. Lalu aku kenal Pras, Ma. ia pacar pertama Nayla Ma.

Pacar???? Aku bergidik, putri kecilku yang cantik dan pandai sudah berpacaran!!!

Jangan marah ya Ma! Sungguh. Ini belum seberapa. Tiga bulan aku pacaran sama Pras, kami putus Ma. Gara-garanya aku gak mau dicium sama Pras, Ma. Aku gak mau. Aku tahu itu dosa.

Hm… aku tersenyum bangga membacanya, Nayla anakku yang pintar.

Tapi, Ma… Nayla kembali merasa sedih. Tak ada lagi tempat curhat dan bermanja. Papa dan mama semakin sibuk bekerja. Lalu aku pacaran sama Deni, Ma. Tak lama tiga bulan saja. Kemudian Rudi, dan terakhir adalah Boy, Ma.

Mama tahu, sejak putus dengan Pras, ada satu hal yang kuketahui agar tetap dicintai pacar. Aku harus mau dicium atau memberikan apa saja yang pacarku minta. Dan aku telah menyerahkan kegadisanku pada Deni, Ma. Aku menyukainya. Dia pandai, tampan, dan anak orang kaya. Tapi Deni meninggalkanku, Ma. Ia tertarik pada adik kelasku yang lebih cantik. Untunglah, saat itu tak sampai seminggu datang Rudi. dengan Rudi pun aku melakukan semuanya, Ma. Entah aku tak lagi berpikir tentang dosa, Ma. Yang kupikir saat itu aku merasa bahagia karena dengan melakukan dan memberikan semua yang mereka minta, mereka akan mendengar keluhanku dan mau memanjakanku.Mereka pun merelakan dadanya kujadikan tempat aku menangis. Sesuatu yang tak mungkin kulakukan di hadapan papa atau mama.
Begitu pun ketika Rudi memutuskanku, Ma. Aku melakukan semuanya dengan Boy, Ma.

Ya Tuhan….rasanya seperti tertimpa segunung batu, tertampar petir, … aku hampir tak kuat melanjutkan membacanya. Gemetar aku. Aku… Aku yang salah…. Aku yang menyebabkan putriku salah jalan. Betapa memilukannya, karena anakku sudah begitu jauh terjerumus.

Ma…. jangan berhenti dulu membacanya. Nayla tahu suatu hari, mungkin ketika Nayla telah mati, hiks… Nayla gak tahu Ma, Nayla masuk surga apa neraka, ya?, Mama pasti akan menemukan diary ini. Mama harus tahu, mengapa aku bunuh diri? Ma… aku gak mau Boy memutuskanku. Boy cowok yang hebat, Ma. Di samping tampan, kaya, dan jago basket, ia juga luar biasa. Rudi dan Deni tak ada apa-apanya dibanding Boy soal ranjang Ma….

Gelap. Tuhan… semoga aku bisa bangun dan hidup lagi. Aku tak mau kehilangan putriku.
***

Hari ini Nayla diperbolehkan pulang. Aku dan Mas Bram berangkat menjempunya pagi- pagi.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit kubaca ulang semua yang telah kutanamkan pada Nayla. Sungguh tak adil baginya. Aku selalu memintanya menjadi yang terbaik agar kami bangga. Aku selalu menjaganya agar sehat karena aku tak ingin kehilangan dia.

Tak pernah sekali pun kami berpikir agar Nayla bahagia.

“Maafkan mama, Sayang,” aku masih tersedu.

Rumah sakit semakin dekat. Janjiku semakin mantap. Akan kuberikan hak Nayla menikmati kebahagiaan, sesuai pilihan hatinya.

Mas Bram menggenggam tanganku. Hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s