Menulis Itu Menyembuhkan


Apes deh. Gara-gara saya membacakan postingan di grup IGI soal pembayaran tunjangan pensiun, aku kena siraman kata-kata panas. ya wes lah, apes saja. Gak mau berpanjang-panjang kata apalagi memperpanjang rasa nelangsa.

Masa iya gara-gara saya bacain tunjangan pensiun dibayar sekali, saya harus bertanggung jawab menjawab pertanyaan, “Mengapa Pemerintah melakukan itu? Uang dari mana. Misalnya soal pembayaran sertifikasi saja kayak gini?”

haduuuuh, saya mana tahu jawabannya. kalau saya njawab bisa-bisa salah. Lagian, orang-orang di atas mah pasti lebih pandai dari saya. Saya nggak ngerti apa-apa soal politik, apalagi berkaitan dengan masalah keuangan. Otak dan ilmu saya ndak nututi buat njawab itu.

Yang pasti antara sertifikasi dan tunjangan pensiun urusannya beda.

Wis lah, kalau dilanjutin malah ngakak. Itu hanya background saja. Yang pasti, bete dan panas lah. Masak iya gara-gara bawa berita sesuatu, aku harus menawab pertanyaan sesulit itu. Aku kan bukan tersangka apalagi terdakwa yang harus menjawab pertanyaan; aku juga bukan mahasiswa S-2 lagi yang harus menjawab ujian tesis.

Daripada sakit hati aku mengobatinya dengan menulis puisi yang kupublish di status FB. Nah, inilah puisi tanpa judul itu.

Kau salah bila mengira tamparan dan kata-kata keji itu akan membuatku hancur berkeping.
Aku memang menangis, aku memang meringis. Mungkin juga hatiku teriiris.
Bukan karena aku peremnpuan, tapi karena aku bener-bener manusia.
Tapi air mataku hanyalah caraku membuang yang lemah.
Setelahnya aku kan melangkah dengan gagah.
Hidup mengajarkan padaku, bahwa rintangan hanyalah cara Tuhan
untuk membuatku tambah dewasa dan tambah perkasa.
Pantang bagiku berlutut pada sesiapa
Sebab bagiku kini adalah saat belajar, memegang kebenaran
meski itu sepanas bara
dan hanya pada Kekasihku aku kan berlutut, bahkan bersujud.

Ada seorang teman FB yang kemudian berkomentar, “Bisakah aku sekuat itu?”

Sumprit, aku juga gak menjamin diriku bisa sekuat itu. Tapi mari kita renungkan betapa besar kerugian kita kalau kita sakit hati akibat kata-kata atau perlakuan orang pada kita. Itu artinya sama saja kita membiarkan nasib kita dikendalikan oleh orang lain. Kalau hanya gara-gara perlakuan atau kata-kata orang lain yang kita anggap sangat menyakitkan atau merugikan, kemudian kita hancur, putus asa, atau lebih parah lagi kita berhenti melangkah untuk mencapai cita-cita, oooh alangkah ruginya kita.

Bayangkan, saat kita masih sakit hati atau menangis, mungkin saja orang itu sudah lupa bahkan sama sekali nggak merasa bersalah telah menyakiti kita. Atau yang lebih parah, dia akan bersurak dan berteriak merayakan kemenangan karena telah mampu menghancurkan kita. So, apa untungnya kita sakit hati, menangis, atau meringis terus-menerus apalagi memelihara rasa sakit hati itu hingga beranak pinak jadi dendam?

Percayalah, bila itu terjadi, kita bakal hancur. Pyaaar! Bukan berkeping-keping, tapi beneran seperti piring kaca yang dibanting ke lantai keramik. Blas gak bisa ditolong. Jadi, kesedihan, amarah, dendam itu gak produktif banget. Bahkan, dendam itu akan menggiring kita pada kehancuran paling bawah, hingga mungkin kita akan kehilangan derajat kemanusiaan kita. Bayangkan, perasaan dendam kita pada orang yang telah menyakiti kita akan membuat kita selalu ingin mencari kesempatan untuk membalas orang tiu dengan tindakan yang lebih keji agar orang itu juga hancur seperti kita.

Pada saat “pencarian” itulah kita akan menjadi orang yang benar-benar berhati busuk. Kita menjadi manusia dengan hati yang dulu sangat kita benci. Dendam membuat kita mencari-cari kejelekan lawan kita sekecil apa pun (hiks… busuk banget kan hati kita jadinya?). Setelah kita temukan, kita akan dengan semangat menyebarkan kejelekan orang itu pada orang lain (supaya lawan kita malu, jatuh kehormatannya). Kalau pun kemudian orang itu bener-bener “jatuh” seperti yang kita harapkan, apa yang kita dapatkan? Tropi? Hadiah? Duit? Gelar juara? Halaaah gak ada! Barangkali kepuasan sesaat. Karena yang pasti, kelak di akhirat kita akan jadi orang yang merugi.  Karena kita telah jadi ahli ghibah (na’udzubillahi min dzalik).

Untuk menghindarkan diri dari terjerumus ke kubangan lumpur untuk yang kedua kalinya (Allah semoga hamba kuat dan tidak mengalami untuk ketiga dan kesekian kalinya), maka aku menulis. Dengan menulis, aku bisa menumpahkan kesedihan dan amarah saya, bahkan memotivasi diri sendiri. Terkadang memang sedikit terlihat pongah. Tapi biarlah, aku sekali lagi tidak mau orang lain menjadi penentu hati saya mau bahagia atau menderita. Sekali lagi, aku sendirilah yang berhak menentukan mau bahagia atau menderita. Sama halnya, mau masuk neraka atau surga.

Kalau masih ragu, coba sajalah menulis. Tulis apa saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s