MARI JADI GURU YANG BENAR-BENAR GURU


Pagi ini seperti biasa saya sempatkan untuk membaca Yahoo.com seperti biasanya. Tak seperti biasanya, begitu membaca judul headlinenya, batin saya langsung bergidik dan usai membacanya, air mata saya mengalir deras. Kengerian, keprihatinan, kesedihan dan keinginan untuk bisa berbuat “sesuatu” yang lebih besar bagi bangsa ini semakin kuat mendesak dalam dada saya.

Berita yang cukup menggetarkan hati saya itu bertajuk ” Ucapan Mengejutkan Penikam Siswa”. Ya, berita itu mengupas bagaimana jawaban pelajar yang menikam Deny dalam kasus tawuran pelajar di Jakarta beberapa hari lalu saat ditanya Mohammad Nuh, Mendikbud. Nuh mengaku syok ketika mendengar jawaban si penikam, “Pua, Pak, tetapi agak menyesal.” (http://id.berita.yahoo.com)

Puas? Hati manusia macam apakah yang puas setelah melakukan sebuah kekejian? Ya Allah, saya gemetar membacanya. Bagaimana pun sebagai seorang guru, saya juga seorang ibu. Membayangkan bagaimana anak-anak seusia murid-murid saya (kebetulan saya mengajar SMA) dan juga seusia anak saya itu memiliki benak kekerasan yang cukup kuat menutupi mata batinnya.

Salah Siapa? 

Seringkali kita menjustifikasi anak-anak atau murid kita dengan kata “nakal”, “kurang ajar”, “bandel”, “kriminal”, bahkan “autis”. Pernahkah kita membayangkan bahwa setiap kata dan ucapan yang kita sampaikan pada anak-anak kita itu akan sangat berbekas pada benak mereka. Bila pun mereka memang benar-benar sesuai dengan cap yang kita berikan, tepatkah kita memberikan cap itu pada mereka?

Sesekali, mari kita renungkan betapa beratnya beban hidup yang harus dihadapi oleh anak-anak kita saat ini. Mereka dibesarkan pada zaman yang serba “tidak pasti”. Zaman dimana masa depan tidak bisa dipersiapkan dengan hanya belajar, bekerja keras, berusaha di jalan yang lurus, dan berdoa. Apa yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari membuat mereka mengalami kebingungan psikologis. Bagaimana tidak? Di sekolah dan di rumah mereka dicekoki dengan nilai agam dan moral yang menjunjung tinggi kebenaran dan kebajikan, sementara masyarakat, terutama para pejabat dan publik figure memberikan teladan “yang aneh” dan sangat berbeda dengan teori di buku-buku dan nasihat para guru.

Lihat saja, untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses menjadi kepala daerah atau anggota dewan atau pejabat publik lainnya, seseorang boleh saja “mencuri uang rakyat”, boleh saja mengintimidasi dan melakukan banyak aksi kerusuhan dan kekerasan. Tak jarang, mereka dihadapkan pada kenyataan, seorang calon pemimpin yang baik dan jujur harus kalah ketika bersaing dengan orang yang kualitasnya jauh di bawahnya hanya karena ia “sendiri” dan tidak mengikuti arus zaman. Pembelajaran ini secara gratis dan sangat mudah dapat mereka peroleh hampir setiap saat dari televisi dan internet.

Seandainya kita mau berempathy dan berbuat nyata untuk anak-anak kita itu, tentu kita akan hidup tenang di masa tua dan saat meninggalkan dunia. Tapi kini kita berada dalam ketakutan. Kita menyimpan “bom waktu” yang kadang sudah meletup kecil-kecil, bahkan sangaaaat kecil dari ledakan bom itu nantinya.

Menjadi Guru Bebenar-benarnya Guru 

Suatu kali, ketika mengikuti upacara hari kemerdekaan RI di Kedutaan Singapura, air mata saya tak berhenti berderai. Di sana, saya bertemu dengan banyak TKI, terutama TKW yang bahkan di sana pun digaung-gaungkan sebagai pahlawan devisa. Ada sekitar 200 orang yang bernasib malang seperti tidak digaji, diperlakukan kasar oleh majikan, dan sebagainya. Mereka harus berjuang keras tidak hanya secara fisik, tetapi secara batin harus terpisah dari keluarganya dan bekerja di bawah tekanan.

Sementara saya yang saat itu tengah belajar atas biaya negara, apa yang sudah saya berikan pada bangsa dan tanah air saya? Hari itu, di antara deras air mata yang terpaksa saya bawa ke kamar kecil, saya bersumpah. “Kelak, bila saya sudah kembali ke tanah air dan kembali menjalankan tugas sebagai seorang guru, saya akan berusaha menjadi guru sebaik-baiknya. Semampu yang saya bisa.”

Saya telah berhutang pada bangsa saya. Betapa tidak adilnya saya yang telah memperoleh perlakuan dan menikmati hak lebih besar dari saudara-saudara sebangsa saya. Mereka yang terpaksa jadi TKI, mereka yang terpaksa hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan seberuntung saya, bukankah seharusnya mereka memiliki hak yang sama? Mereka lahir, dibesarkan di tanah yang sama, makan dan minum dari tanah dan air yang sama dengan saya, bukankah mereka juga berhak mendapat hak yang sama? ya, saya berhutang pada mereka.

Sumpah saya itu memang sangat berat untuk bisa saya lakukan. Terus terang, sertifikasi saat ini, tuntutan mengajar 24 jam per minggu, pada satu sisi membuat waktu untuk dekat secara hati nurani kepada murid-murid saya menjadi terkebiri.

Dahulu, ada banyak waktu untuk berbincang dengan siswa di tengah jam kosong. Sekarang, saat jam kosong adalah waktu untuk menyelesaikan tugas administrasi yang seakan tiada habis-habisnya. Mulai dari RPP yang selalu berganti bentuk setiap tahun sampai tuntutan harus membuat bahan ajar dan LKS sendiri. Belum lagi tumpukan koreksian tugas siswa yang tak pernah sepi hadir di meja saya (itu belum termasuk tugas yang dikirim melalui grup FB siswa).  Belum lagi keharusan untuk terus meningkatkan profesionalitas guru yang tampak semakin diperketat. Banyak guru yang terpaksa harus rajin mengikuti banyak seminar dan pribadi, pelatihan. Saya yakin ini dialami oleh banyak guru, bahkan hampir oleh semua guru.

Di sisi lain, standar ketuntasan belajar dan kelulusan dituntut semakin tinggi. Para siswa ditekan dengan banyak tugas agar mampu mencapai standar nilai akademis yang tinggi. Pada beberapa sekolah bahkan tampak seperti menafikkan sisi psikologi siswa. Pernahkah para guru mencoba berhitung, berapa waktu yang dibutuhkan siswa untuk menyelesaikan tugas dan PR yang kita berikan? taruhlah satu guru memberi tugas individu yang bisa dikerjakan dalam 45 menit. Dalam sehari untuk anak SMA itu ada 4 pelajaran. Kalau 3 saja yang memberi tugas baik individu atau kelompok maka dalam sehari, di luar belajar efektif di kelas dan belajar sendiri untuk menghadapi ulangan atau kuis, mereka membutuhkan waktu 3 X 45 menit  atau hampir 2.5 jam. Padahal kenyataannya, bila tugas itu berupa tugas kelompok atau proyek bisa jadi satu tugas menyita lebih dari 2 jam.

Bisakah kita membayangkan alangkah berat beban yang harus mereka hadapi?

Sesampai di rumah, mereka dihadapkan pada banyak beban. Orang tua yang seringkali bertengkar karena beban ekonomi atau perselingkuhan; lingkungan yang keras dan banyak memajankan kemerosotan moral; dan gaya hidup hedonis yang membuat anak tergoda untuk ikut masuk di dalamnya meski untuk itu mereka harus melakukan apa saja.

Hal inilah yang kadang-kadang kita lupakan. Betapa berat sebenarnya beban yang harus dihadapi anak-anak kita pada zaman sekarang.

Soal ini, saya pernah memiliki pengalaman batin. Suatu kali anak didik saya berulah. Dia membawa HP ke sekolah dan terpaksa berurusan dengan tatib karena memang dilarang membawa HP ke sekolah. Ia juga “sedikit bermasalah” dengan temannya. Saya lihat nilai-nilai ulangannya pun kurang. Dari berbagai informasi, saya akhirnya mengetahui bahwa anak ini memantg bersikap eksklusif dan cenderung menyendiri. Setelah saya ajak da bicara, saya peroleh informasi bahwa kedua orang tuanya sering bertengkar. Ibunya sering pergi beberapa hari tanpa alasan yang jelas, bapaknya sering pulang malam dalam keadaan mabuk.

Kondisi ini membuat dia terpaksa harus bertanggung jawab terhadap adiknya. Saat UTS, pagi-pagi dia harus menyiapkan sarapan buat adiknya. Dia juga harus selalu memantau adiknya melalui HP karena memang sang adik sendirian di rumah. Pada kondisi seperti ini, saya benar-benar tidak tahu, apa yang harus saya nasihatkan pada anak itu. Dalam batin saya berkata, bagaiimana dia mampu menyelesaikan permasalahan itu, sedang kedua orang tuanya pun tak mampu. Syukurlah kini dia sudah lulus. (Semoga hidupnya kini lebih baik, Amiin).

Rasanya, itu hanya masalah kecil di antara banyak masalah lainnya.

Dalam kondisi perkembangan psikologi yang belum mapan, keteladanan yang tidak layak, kehidupan yang tak pasti dan berat, masa depan yang hanya cerah bagi yang berduit, kebenaran dan kebatilan yang bertukar tempat, tak heran bila mereka akhirnya ingin lari, ingin memuntahkan beban  hidupnya. Free seks, tawuran, obat-obatan terlarang, dugem, dan tindakan negatif lainnya akan menjadi alternatif untuk menuntaskan kegalauan itu.

Ya, saya yakin bahwa hampir semua guru telah berupaya mengajar dengan baik. tanpa ada tuntutan untuk memasukkan nilai-nilai karakter bangsa seperti yang saat ini digaungkan pun, saya haqqul yaqin bahwa para guru telah mengajarkan dan mendidik para muridnya untuk berakhlak dan berperilaku baik dan terpuji. Pendidikan yang tidak hanya melalui teori atau disuratkan secara nyata, seringkali nilai-nnilai itu ditanamkan secara implisist, tetapi lebih mengena pada para siswa.

Namun, alangkah ironisnya, mirisnya, dan beratnya beban para guru. Betapa tidak? Di saat para guru berusaha maksimal untuk menjalankan tugas itu, kenyataan kehidupan sosial memberikan pajanan yang bertolak belakang. Kemudian, ketika ada tawuran, para guru dipersalahkan.

Penutup

Akhir-akhir ini saya sering berpikir bahwa komoditas “pahala dan dosa”, “sorga dan neraka” sekarang ini sudah tidak laku lagi dijual pada anak-anak didik kita. Misalnya, soal dosa free seks. Takkah Anda pernah membayangkan kalau dalam benak mereka tumbuh sebuah generalisasi yang mengerikan dari hasil membaca dan menyimpulkan pembelajaran dari berbagaimedia yang dipajankan pada mereka setiap hari. Misalnya, ini sungguh semuah perumpamaan yang merupakan hasil renungan saya.

“Ah… kenapa free seks diributkan? Toh banyak artis dan pejabat yang tetap sukses dan dihormati meski tindakan mereka terungkap di banyak media bahkan ada videonya. Lagi pula, siapa yang dirugikan? Gak ada. Asal suka sama suka.”

Buktinya, mereka tetap hidup enjoy, dihormati, jabatannya aman, tetap dipuja sebagai selebritis, dan bla …bla…

Barangkali tak akan ada habisnya tulisan saya. Karena sudah jam 07.00 WIB lebih, saya harus mengajar. Jadi terpaksa saya stop dulu.

 

7 thoughts on “MARI JADI GURU YANG BENAR-BENAR GURU

  1. mungkin pemerintah jangan membankan masalah sertifikasi….. akhirnya gurunya konsen ke situ aja buk sehingga muridnya agak “terlupakan” mungkin.. jadi kalau pemerintah emang berniat baik memberikan lebih kepada guru yaaa jangan sampai membuat guru terfokus pada itu aja… berikan saja kalau emang sudah haknya🙂 heheheheheh

  2. ya…perlu format ulang pemahaman perlunya pndkatan yg lebih manusiawi kpd siswa.sy lbih tergugah stlh bc buku pak Munif Chatib (sekolahnya manusia, gurunya manusia, ortunya manusia,sekolah para juara) dg pendekatan multiple intelligences (MI)nya.kita ingin bersikap dmikian tapi…tmn2 qt yg blm menyadarinya lbih bnyk lagi.tp lbh baik qt mulai drpd trlmbt.ok bu inspiratif bgt tuliasn ibu.trims

  3. waaah…. kontras dengan tulisanku: https://www.facebook.com/notes/catatan-ade-anita/catatan-tentang-jangan-main-main-dengan-keluguan/265986456837384?notif_t=note_comment yang ini ya mbak farad.

    Hmm… jadi bingung mau komen apa. tapi… segala sesuatunya menurutku harus dimulai dari rumah sih. LIngkungan terdekat dan terkecil yang dimiliki oleh seorang anak. Entahlah. tapi aku selalu merasa, bahwa sebelum guru, seharusnya orang tualah yang harus menyadari amanah menjaga moral anak-anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s