THANK YOU MOM (Cerpen Si Cantik Faradina Izdhihary Azzahra, putriku)


THANK YOU MOM
“Laras, kamu nggak sekolah? Kok gak bangun sih sayang…?”tanya mama membangunkanku. “Sayang, ayo bangun!” kata mama lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Ah… mama. Aku kan masih ngantuk. Masa harus bangun pagi-pagi begini. Lagian kalo berangkat jam enam pasti nggak ada temen di sekolah. Laras sendirian dong…! Ah…!” kataku sambil memejamkan mata lagi.
Mama menghela nafas panjang. “ Sayang, sekarang sudah jam enam. Nanti kamu telat. Ayo bangun!” Kata mama sambil menggoyang-goyangkan badanku lagi.
“Ah… masa sih sudah jam enam.” Kataku sambil melirik jam dinding. Hah… jam enam. Aduh… aku harus mandi langsung kataku dalam hati sambil bangkit dari tempat tidurku. Kuambil handuk lalu aku berlari menuju kamar mandi yang berada di dekat kamarku. Tetapi, ada yang memakai.
“Ah…” Keluhku sambil turun ke kamar mandi bawah. Tiba.tiba …
“Aduh, mama aku jatuh. Aduh sakit sekali kakiku. Aduh. Huhuhu…” Tangisku saat aku terjatuh. “Mama sakit.” Teriakku. Aku menangis tak henti-henti.
Mama berlari menuju tempatku jatuh.
“Sayang, aduh… kakimu berdarah. Ayo sekarang berdirilah!” Perintah mama.
“Au… sakit mama. Kakiku sakit sekali. Huhuhu… Kalau aku jalan, kakiku sakit sekali ma… Hua…” tangisku Lagi. “Mama, aku gak bisa jalan, kakiku sakit sekali. Mama, aku pingin sekolah. Sekarang ada pelajaran matematika. Aku suka sekali pelajaran itu.”
“Apa…? Kamu mau sekolah? Mana mungkin kamu bisa berjalan kalau keadaan kakimu seperti ini? Mama tidak akan mengijinkan kamu untuk sekolah. Sekarang kamu masuk kamar! Mama ambilkan obat merah untukmu agar luka di kakimu semakin membaik.”
“Tapi, Ma…”
Belum sempat aku berbicara, kata-kataku sudah terpotong oleh mama.
“Mama tahu kalau kamu suka sekali pelajaran itu. Tetapi, mama tidak mau kalau kakimu kenapa-napa,” kata mama.
“Tapi…”
Lagi-lagi kata-kataku terpotong oleh mama.
“Sekarang kamu ke kamarmu dulu untuk beristirahat. Mama mau ambil obatmu dulu,” kata mama.
Ah… lebih baik aku tak berbicara dari pada kata-kataku terpotong lagi.
Aku berjalan menuju kamar sambil mengangkat kaki kiriku. Aku terkejut sekali. Saat aku masuk ke kamar, kamarku kotor sekali. Padahal saat aku bangun tadi, kamarku tidak sekotor itu. Aku tidak suka bersih-bersih. Tapi, dari pada aku pingsan karena aku tidak membersihkan kamarku itu, akhirnya aku mengalah. Aku membersihkan kamar tidurku itu serta merapikan buku ceritaku yang berserakan di lantai-lantai.
“Wah… anak mama pintar. Ternyata sudah bisa membersihkan kamarnya. Aduh mama sayang sekali padamu.”
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh mama yang masuk sambil membawa sebungkus obat. Aku hampir saja jatuh karena kaki kiriku masih terangkat.
“Mama, siapa ya… yang mengubah kamarku yang bersih ini menjadi kamar kotor?” tanyaku. Mama hanya mengangkat bahunya lalu menyuruhku minum obat.
***
“Assalamualaikum,” teriak seseorang.
Aku seperti mengenal suara ini. Suara siapa ya…?,tanyaku dalam hati. Tak lama kemudian suara itu terdengar lagi. Mama keluar dan membukakan pintu. Ah…! Aku tahu pasti itu suara Selly, tebakku dalam hati.
“ Eh, Selly, Ocha, Icha, Bunga, Tania. Ada apa… cari Laras ya…?” tanya mama sambil menyuruh mereka duduk.
“Larasnya ada…? Kita kesini mau menjenguk Laras. Ini kita membawa buah-buahan untuk Laras. Ini adalah hasil patungan sekelas. Kita berempat diminta oleh Bu Dini untuk menjenguk Laras,” jelas Selly.
“Oh, Larasnya ada. Mari masuk aja ke kamarnya. Tante buatin minuman ya…?” kata mamaku.
Tok…tok…tok…
Suara ketukan pintu kamarku terdengar sangat keras.
“Buka aja pintunya. Nggak dikunci kok. Silahkan masuk,” kataku sambil memejamkan mata.
Kriek… Suara pintu kamarku terbuka. Aku terkejut sekali karena ternyata Selly,Ocha, Icha, Bunga, dan Tania yang mengetuk pintu kamarku.
“Se..Se…Selly. A…a…ada apa kamu ke…ke…kesini ? Kalian tidak akan menyakitiku lagi seperti kemarinkan? A…aku ta…takut kalau kalian menyakitiku lagi,” tanyaku sambil terbata-bata.
Memang di sekolah biasanya aku sering disakiti oleh kelima anak itu. Tetapi, aku diam saja. Aku tak menghiraukannya.
Selly tidak menjawab apapun. Ia tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Kita nggak akan menyakiti kamu kok. Kita kesini mau menjenguk kamu. Ya kan…?” tanya Selly pada Ocha, Icha, Bunga, dan Tania.
Mereka mengangguk bersamaan.
“ Ini, kita membawakan kamu buah-buahan segar. Kita berempat, sudah tahu kalau kamu suka buah-buahan. Ini…!” sambung Bunga sambil menyodorkan buah-buahan segar yang terbungkus.
“Oh ya… terima kasih. Aku senang sekali bermain bersamamu. Ternyata aku nggak salah pilih kalian. Au… kakiku,” teriakku lagi.
“ Kakimu kenapa? Kamu kan sakit panas, kok kakimu sakit sih…?” tanya Bunga sambil minggir dari kakiku.
Aku diam lalu berkata.
“Aku baru jatuh dari dekat tangga itu. Luka kakiku sepertinya belum membaik,” kataku sambil mengganti posisiku agar Ocha, Icha, dan Tania bisa duduk di sebelahku.
Selly mengangguk mengerti.
“ Kapan kamu jatuh? Memangnya kamu jatuh di mana ? Di tangga situ?” tanya Ocha yang dari tadi diam bersama Icha.
“Aku jatuh di tangga di depan kamar mandi situ. Aku jatuh kemarin Rabu. Aku berlari-lari karena aku takut terlambat sekolah. Aku berlari ke kamar mandi depan situ. Lalu, aku terpeleset jadi kakiku terluka. Sepertinya memang kakiku belum membaik. Aku hampir saja tidak bisa jalan. Tetapi, ternyata kakiku yang sakit cuma yang sebelah kiri. Aduh… sakit sekali,” ceritaku panjang lebar.
“ Halo anak-anak. Ini tante bawakan minuman untuk kalian. Laras, sekarang kamu minum obat dulu ya,” kata mama.
Aku hampir tersedak karena aku baru saja menggigit satu potong apel. Aku mengangguk.
“ Aduh, Ras. Gimana sih? Tutupin dong kalau lagi batuk. Kita kena ludahmu tahu,” kata Icha sambil minggir dari dekatku.
“Maaf,” kataku sambil mengambil obat yang disediakan oleh mama.
Icha hanya diam. Icha memang terkenal jahat di kelas IV ini. Aduh… kapan ya… Icha bisa baik hati padaku? tanyaku dalam hati. Tak beberapa lama kemudian Selly, Ocha, Icha, Bunga, dan Tania pulang.
“ Ma, kapan sih Icha bisa baik hati padaku? Dari kelas 2 dulu Icha selalu jahat padaku. Apa mama bisa bantu Laras agar Icha bisa baik hati padaku ? Mama bantu Laras ya…?” Pintaku pada mama. Mama menghela nafas panjang lalu mengangguk sambil tersenyum.
***
“ Larasati Amalia!” panggil Bu Chikma mengabsen kami sebelum pulang.
Aku mengacungkan jari. Anak-anak melirik padaku.
Teng… teng… teng…
Bel pulang sekolahpun berbunyi. Anak-anak merapikan bukunya lalu bersiap-siap untuk berdo’a.
Icha mana ya…? Padahal aku kan mau minta maaf atas kejadian yang kemarin. Seharusnya aku cari dia saat istirahat kedua tadi, tanyaku dalam hati.
“Laras! Kupu-kupu termasuk jenis metamorfosis sempurna atau tidak sempurna ?” tanya Bu Rika sebelum pulang.
Biasanya Bu Rika akan mengizinkan kami pulang lebih dulu bila dapat menjawab pertanyaanya.
“ Metamorfosis sempurna Bu…!” jawabku sambil keluar dari bangku. Aku mengangkat bangkuku. Lalu aku berjalan ke depan untuk salaman pada Bu Rika.
“ Hai Ras…! Bareng yuk…!” ajak Icha tiba-tiba. Aku heran padanya. Padahalkan aku belum minta maaf padanya. Tetapi, ia sudah lebih akrab dibandingkan kemarin. Aku hanya heran saja lalu, aku melanjutkan perjalananku pulang bersama Icha.
“Bye Ras…! Aku duluan ya…? Eh nggak mau mampir dulu? Bundaku buat kue lho…!” ajak Icha saat sudah berada di depan rumah Icha. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“ Terima kasih. Aku harus pulang dulu. Mama nanti nyari aku. Ya sudah Cha, aku pulang dulu ya…? Assalamualaikum,” pamitku. Icha hanya mengangguk sambil melambaikan tangannya.
“ Waalaikumsalam. Besok barengan lagi ya…,” ajak Icha. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah aku bertanya pada Mama.
“ Ma, kok Icha jadi baik hati padaku sih…? Kan aku mau minta maaf sama Icha. Eh… dia ternyata udah akrab sama aku. Kenapa Ma…?”
Mama tersenyum lalu mengajakku duduk di ruang tamu. “Sayang, mama sudah meminta pada Icha untuk baik hati padamu. Memang Icha sudah baik hati padamu?” jawab mama balik bertanya. Aku mengangguk.
“ Berarti sekarang kamu boleh bermain bersamanya. Sekarang sudah gembira kan…?” tanya mama lagi. Aku tersenyum bahagia lalu mengangguk senang.
“ Thank you, Mom!” kataku. Mama hanya memberiku senyuman.
Berkat mama Icha sekarang jadi baik padaku. Aku bahagia sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s