RENUNGAN AHAD PAGI (29 Januari 2012)


Seperti adatnya, tiap hari Minggu, aku memberi jatah libur bagi pembantuku. Meski sejatinya, seharusnya, hari Minggu adalah saat bagiku dan suamiku untuk istitrah, refreshing dari beban kerja sehari-hari. namun, pembantuku juga kan punya keluarga, suami dan anak cucu. Tentu ia pun ingin berkumpul dengan mereka pada hari libur.

Bila biasanya, aku hanya masak ala kadarnya seusai shalat subuh, untuk sarapan pagi, dan hanya sempat menyapu rumah, dan mencuci piring dan gelas bekas sarapan pagi, maka semua pekerjaan yang biasanya dikerjakan pembantuku, pada hari Minggu kulakukan sendiri, terkadang dibantu suami. Mulai dari berbelanja, memasak, mencuci, bersih-bersih, dan lain-lainnya. Kesibukan ini kujalani dengan ringan hati, sembari bersyukur masih punya kesempatan menikmati rutinitas sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anakku sepenuhnya meski hanya seminggu sekali.

Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, hari ini, seperti kurencanakan sebelumnya, aku menambah jadual pekerjaanku dengan membersihkan 3 KM, 2 WC, dan 1 bathup. Olalala… rasanya remuk redam. Untunglah, bath up air hangat mampu mengurangi sedikit kepenatanku. tentu saja dengan segala etek dan bengeknya seperti masker, luluran, dan creambath yang kulakukan sendirian. jadi, seusai berkeringat, tubuh bisa balik harum dan fresh lagi.

Namun, seusai memberi hak tubuh untuk istirahat, aku kembali tertegun. Cucian piring dan gelas di dapursudah numpuk. Maklum, keempat anakku sama-sama libur. Jadi seusai si sulung futsal, yang kedua sepak bola, mereka langsung makan dan lupa mencuci piring. Dengan niatan mengajarkan tanggung jawab dan berbagi tugas, kuminta mereka mencuci piring dan gelas yang dipakainya.

Saat itulah, kesadaran diam-diam merambat di hatiku.
“Alangkah beratnya beban Bu Dhe setiap hari mengerjakan semua ini tanpa pernah berani minta bantuan pada anak-anakku, apalagi padaku. Iya, kalau aku, sebagai PNS kelak ketika tua akan mendapat pensiun dan hidupku secara material insyaallah terjamin. Lha Bu Dhe? Bagaimana dengan nasibnya di masa tua? Sekarang aku memanfaatkan tenaganya supaya aku dan suamiku bisa mendapat penghasilan, terjamin kehidupan duniawi kami sampai pensiun nanti. ya Allah…. alangkah tidak adilnya.”

Aku gemetar. Air mataku hampir saja menetes. Segera kuambil wudlu dan salat dhuhur. Seusai dhuhur kembali kulanjutkan merenung. Saat itulah aku kembali terkenang pada alm. Mbah lah, pembantu eyangku, yang dulu mengasuh ayahu sejak kecil. Kini ayahku sudah berusia 74 tahun. Kuingat ketika kecil, Mbah lah tidak hanya membantu eyangku di sawah atau kebun. ia juga membantu eyang di dapur, terutama memasak untuk pekerja eyang di sawah. Tak hanya itu, ia masih juga menyembpatkan membantu ibuku menumbuk kopi (buat bubuk) atau mencarikan kayu bakar. Seperti umumnya perempuan desa pekerja lainnya, tenaganya begitu kuat.

Mbah Lah sangat sayang pada bapak, juga ibu, bahkan padaku dan saudara-saudaraku. Ketika ia tak lagi sanggup bekerja, sudah pikun dan renta, ibuku sering menjenguknya, memberikan sedikit bantuan yang mampu ia berikan. Ibu juga selalu memintaku dan saudara-saudaraku untuk menjenguknya bila kami mudik ke rumah bapak. Saat itu, aku tidak berpikir jauh. Kupikir, apa yang dianjurkan ibu adalah perluasan dari amanah beliau agar kami menjadi orang yang suka menolong.

Tapi hari ini… Ya Allah, aku gemetar. Aku melihat pelajaran lain yang belum sempat kupahami saat ibu mengajarkan kami untuk terus menyayangi Mbah Lah dan keluarganya, bahkan salah seorang cucunya yang yatim.

hari ini, ketika tubuhku terasa penat seusai mengerjakan pekerjaan rumah tanpa bantuan pembantu, aku sadar bahwa Bu Dhe, pembantuku, memiliki jasa yang besar yang tak seharusnya hanya terbayar ketika ia masih bersama kami. kelak, ketika usianya semakin tua dan tubuhnya mulai renta, selayaknyalah kami harus memikirkannya. Bukankah kini, ketika ia masih bertenaga dan kuasa bekerja, kami telah memanfaatkan tenaganya?

Ya Allah… semoga renungan Ahad pagi ini akan tetap kuingat dan kujalankan ketika Bu Dhe tua nanti. Ampuni aku atas segala kelalaian dan kelemahanku. Dengan kuasa-Mu, dengan petunjuk-Mu, dan bimbingan-Mu, kumohon, bimbinglah aku menjadi hamba-Mu yang selalu berjalan pada syariat-Mu. Amiin ya Robbal Alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s