PUISI TENTANG IBU SELALU MEMBUATKU TERSEDU


PUISI TENTANG IBU, SELALU MEMBUATKU TERSEDU

oleh Faradina Izdhihary pada 5 Oktober 2011 pukul 18:40 ·
 

PublikTemanTeman selain KenalanHanya SayaKhususTeman DekatTabloid KABAR LAINLihat semua daftar…SMA Negeri 1 BatuTEMAN SASTRAWANSastrawanteman ahliCerpenSastrawan besarTeman curhatahli cerpenTeman pilihanPakar PuisiAhli cerpen 2ahli 2Nita CasesipMasjid Raya Al Munawwarah Siteba, PadangSMA Negeri Srengat BlitarMarilah Sholat, STOP Fesbuk Saat AdzanTenaga lepasuniv negeri malang ppsKeluargaKenalanKembali

 

Hari ini, entah untuk bilangan ratusan ke berapa aku menangis tersedu setelah membaca puisi tentang ibu. Sungguh, saat membaca puisi IBU karya KH A Mustofa Bisri tadi siang, yang tertanam dalam benakku adalah membacakan puisi yang indah, yang menyentuh hati agar sebagian muridku (ada 14) orang di antara 32 orang di kelas itu yang mengaku tidak menyukai puisi, tidak bisa menikmati puisi; menjadi suka pada puisi. Jadi, kupilih puisi Ibu karya kiai yang penyair dan budayawan hebat itu menjadi salah satu contoh. 

 

Sungguh aku lupa bahwa setahun yang lalu, di semester ganjil juga, aku pernah menangis tersedu membaca puisi itu. Saat itu, ibu masih ada. Ibu masih menjadi sumber utama bagiku mencari barokah dan doa. Namun, selalu, dan selalu, aku tersedu tiap kali membaca puisi tentang ibu. Dan siang tadi, aku begitu ceroboh untuk menyadari betapa sesungguhnya aku sangat rapuh…. rapuh… dan rapuh. Kepergian ibu 8 bulan yang lalu, ternyata benar-benar membuatku kehilangan arah. kehilangan cahaya. Serasa aku kehilangan peta menuju surga yang dilukis di bawah telapak kakinya. 

 

Namun, tetap saja, puisi IBU itu kubacakan hingga selesai. Meski baru selarik yang kubaca aku sudah menangis tersedu. Air mata membanjir, suaraku serak. 

 

Memenuhi rasa penasaran Mbak Sukimah Yono, kubagi puisi itu. Puisi yang tak hanya membuatku teringat ibu, tetapi membuatku menambah doa-doaku untuk ibu. 

 

IBU 

karya KHA Mustofa Bisri dalam “Pahlawan dan Tikus” 

 

Ibu

Kaulah gua teduh

tempatku bertapa bersamamu 

sekian lama

Kaulah kawah

darimana aku meluncur dengan perkasa

Kaulah bumi

yang tergelar lembut bagiku 

melepas lelah dan nestapa

gunung yang menjaga mimpiku

siang dan malam

mata air yang tak brenti mengalir 

membasahi dahagaku 

telaga tempatku bermain

berenang dan menyelam

 

Kaulah, ibu, laut dan langit

yang menjaga lururs horisonku 

Kaulah, ibu, mentari dan rembulan

yang mengawal perjalananku 

mencari jejak sorga

di telapak kakimu 

 

(Tuhan, 

aku bersaksi

ibuku telah melaksanakan amanat-Mu

menyampaikan kasih sayangMu

maka kasihilah ibuku 

seperti Kau mengasihi 

kekasih-kekasihMu

Amin) 

 

Then, seusai kubaca puisi itu… aku benar-benar tersedu-sedu. Sungguh, dari hati terdalam, maafkanlah ibu guru kalian yang cengeng ini duhai murid-murid ibu. Maafkan sungguh. Bila pembacaan puisi ibu tadi membuat kalian terhanyut dan berurai aiir mata. Tak ada maksud ibu untuk curhat. Tak ada. Sungguh puisi itu benar-benar membuat ibu hanyut. Rasa kehilangan tadi benar-benar hadir kembali. Bayangan wajah ibu, kebaikannya, kehilangan yang sangat itu…. ya Allah, ya Robb Yang Maha Rahman dan rahim, da Maha Pengampun, ampunilah hamba-Mu ini. 

 

Puisi yang sangat inspiratif!

Begitulah saya menilai puisi Ibu karya Kiai Mustofa Bisri itu. Lihatlah, betapa indah penggambaran sosok ibu bagi seorang anak. Lihatlah…. ya kasih sayang ibu yang hingga kini, meski beliau sudah berpulang, terus mengalir, menyejukkan jiwa. Caranya berbicara, menatap, berjalan, hingga “keluarbiasaannya” menyembunyikan segala duka, beban, dan tangis yang harus ia tanggung untuk membesarkan ke 8 anak-anaknya sungguh sebuah kesaktian bagiku. 

 

Hingga kini, sesalan yang tak pernah sanggup kuhapus adalah “dahulu, betapa sering aku menyakiti hatinya, tak menuruti nasihatnya”. Sementara, dia telah berbuat segalanya untuk kami anak-anaknya. Ah… tak sanggup rasanya mengingat semua kebaikannya, hanya membuatku tenggelam dalam lautan air mata. (uh… ampuni aku ya Robb). 

 

Bacalah lagi bait kedua. Apalagi bagian ini Kaulah, ibu, mentari dan rembulan// yang mengawal perjalanan// mencari jejak sorga di telapak kakinya//

 

Sejenak mari kita merenung. Setelah kita lahir ke dunia, sebelum kita mengenal Allah dan nabi-Nya, siapa yang kita kenal? Ibu jawabanannya. Siapa yang pertama kali mengenalkan kata “Allah” dan  “Muhammad” pada kita. Benar, ibu jawabnya. Bukan guru, bukan kiyai, juga bukan wali. Maka saya sangat memegang erat taushiyah alm. KH Zaenuddin, MZ yang pernah mengatakan bahwa ibu adalah sumber barokah  hidup. Mengapa harus bersusah payah mencari berkah, “ngalap berkah” ke makam-makam para wali, para kiyai, dan melupakan “ibu”. 

 

Itulah sebabnya, saya selalu menjadikan ibu sebagai pusat segala doa dan restu. Tiap kali punya hajat, besar atau kecil, tiap kali bahagia, sedih, selalu ibu yang menjadi orang yang pertama menjadi tempat berbagi. Selalu ibu. 

 

Layak ketika ibu pergi, aku kehilamngan setengah dari semangat hidupku. Tak ada lagi yang kutelp meski hanya sekedar untuk menyapa, “Ibu sehat?”  “Bu, doakan anak-anak ya. mau ujian.” “Ibu doakan ….” bla bla…. 

 

Ya Allah…. betapa aku telah menuliskan semua perasaan sedih dan impian-impian yang belum kuraih sebagai beban buat ibu. Tanpa pernah sedikit pun memikirkan bahwa ibu pun berhak punya mimpi dan meraihnya. Betapa egoisnya aku, selalu membebaninya dengan permohonanku. Doakan aku, ya Bu, tanpa dia pernah meminta kami anak-anaknya mendoakan agar dia pun dapat meraih impiannya. 

 

Betapa egoisnya kami anak-anaknya selalu meminta maaf untuk segala khilaf yang seringkali memang sengaja kami lakukan. Kekhilafan yang dengan sadar kami lakukan. 

 

Hanya karena kami percaya, di telapak kakinya Allah menulis surga kami, maka dengan sangat egois kami menuntut hak untuk dibahagiakan, didoakan, dan dimaafkan. Tanpa pernah kami mengimbanginya dengan memberikannya hadiah: doa. 

 

Sesal, rindu, dan tangis itu selalu berbaur jadi satu. Jika dahulu aku selalu berdoa, ” Allahumaghfirly dzunuby wa liwalidayya, warhamhumaa kama robbayani shoghiroo”, setelah membaca puisi “IBU” di atas, kutambahkan larik-larik akhirnya untuk doa indahku buat ibu. “Kasihilah ibuku sperti Kau mengasihi kekasih-kekasih-MU”. 

 

Namun, kini setelah ibu pergi, kutambahkan lagi doa untuk ibu. “Tempatkanlah ibu di tempat paling mulia di antara para kekasih-Mu. Amin”. 

 

Dan bila kubaca puisi itu lagi, dalam hati kutambahkan bait terakhir ini: 

 

Bila di hari perhitungan nanti 

Kau izinkan kuajukan satu permohonan

maka inilah kesaksianku

“Di setiap kebaikan yang kulakukan

adalah kebaikan ibu” 

setelah kesaksianku pada-Mu 

juga kekasih-Mu. 

 

Sudah adzan isya. Gak kuat lagi saya menulis. Menulis tentang ibu, selalu membuat saya terisak-isak.

 

@Yth. Simbah Kakung… matur nuwun untuk puisi indahnya yang inspiratif.

One thought on “PUISI TENTANG IBU SELALU MEMBUATKU TERSEDU

  1. Oh.. Mustofa Bisri..
    Hakekat dirimu kau tuangkan dalam puisi
    Semua yang kau debat adalah ajaran Nabi
    Tak ku sangka kau begitu berani
    Ajaran Nabi kau tertawakan hi hi hi

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Ketika dulu aku masih kuliah
    Aku selalu datang dimanapun kau ceramah
    Aku selalu menyimak perkataanmu yang penuh petuah
    Aku semakin yakin kau wali penuh karomah

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Kini aku terperanjat dan nelangsa
    membaca pusimu berjudul “lalu aku harus bagaimana..??”
    Kini kekagumanku padamu berangsur sirna
    Mustofa Bisri yang dulu dan sekarang sudah berbeda

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Seluruh Putra-Putri Nabi meninggal tidak di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Ketika Nabi wafat tidak di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Tak satupun sahabat yg gugur dan meninggal di SELAMATI
    Tapi malah kau debat dalam bentuk puisi
    Membaca puisimu aku sangat ngeri
    Ada apa denganmu Oh.. Mustofa Bisri

    Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
    Putra-Putrinya meninggal tidak diselamati..??
    Padahal beliau adalah seorang Nabi
    Apa pendapatmu Oh.. Mustofa Bisri..

    Apakah kira-kira Nabi tidak mengerti..??
    Ada amalan mulia yaitu “SELAMAN dan KENDURI”
    Padahal beliau adalah seorang Nabi
    Apa pendapatmu Oh.. Mustofa Bisri..

    Kau debat jenggot dan celana cingkrang..
    Padahal itu Sunnah Nabi yang sangat terang
    Seolah kau anggap kami yang mengarang..
    Ada apa denganmu wahai Budayawan yang sudah malang melintang

    Oh.. Mustofa Bisri..
    Kau dahulu adalah IDOLA ku
    Kini sikap dan tulisanmu membuatku pilu
    Tarik lah semua puisi yang melecehkan Nabi mu dan Nabi ku
    Semoga Alloh memberi hidayah padamu..

    ==dibuat oleh Dua Sahabat==
    pengagum Gus Mus yang dulu
    bukan gus mus yang sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s