Puisi dan Isyarat yang Terlambat Kumengerti


Iseng-iseng kubaca catatan-catatanku yang lalu. Kutemukan puisiku “MENGANTAR IBU”. Tepatnya 2 hari setelah ibu berangkat Umrah, 2 Maret 2011. Ibu kembali ke rumah tanggal 14 saat maghrib, dan pulang kepada Sang Khaliq  16 Maret. 

 

Ternyata, di bait terakhir puisi ini…. tak sadar jemariku menulis isyarat kepergian itu.

 

: Kenangan hati mengantar Bunda berangkat Umrah

 

Hari ini,

entah berapa kali air mataku mengalir

gemetar tulang-tulangku menggigil

menatap wajah bapak dan ibu.

Hari ini, kupersaksikan pada-Mu

menjadi anak bapak dan ibu adalah nikmat terbesar dalam hidupku.

Syukurku karenanya takkan berujung.

cinta mereka mengenalkanku pada cinta-Mu.

 

Cintanya, cinta-Mu adalah cahaya yang nyala dalam dadaku.

sampai kering air mataku 

takkan sanggup kubendung sesal yang membuat jiwaku menggelepar.

“Adakah yang bisa kupersembahkan pada bapak dan ibu,

pengganti peluh bapak yang diperas sampai wajahnya demikian kuyu,

 

pengganti segar air susu ibu yang kuperas sepanjang waktu?”

suara-suara nuraniku seperti sembilu.

Tuhan, beri aku waktu dan kesanggupan

membalas kebaikan mereka meski sedikit saja dengan menjadi anak kebanggan,

setidaknya membuat senyum mereka selalu mekar

bahkan saat harus menghadap-Mu.

 

Bila esok, ibuku sampai ke rumah-Mu.

satu saja pintaku:

sambutlah ia sebagaimana Engkau menyambut para kekasih-Mu.

 

Ternyata… ya Allah… di bait terakhir itu aku menuliskan permohonan itu. Ya Allah, seandainya aku tahu, puisi ini semacam isyarat untuk mengangtar ibu kembali ke pangkuan-mu, takkan kutulis.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s