MEMAHAT LELAKI


MEMAHAT LELAKI

 

Selalu sesak nafasku bila lewat jalan ini. Jalan menuju rumah ibuku. Seperti sekarang dan tiap lebaran, setiap aku mudik harus melewati SMA-ku dulu. Jalan raya di depan SMA ku ini menyimpan kenangan indah yang begitu sulit kuhapus. Begitu lekat pahatan kenangan itu, terlalu dalam… dan lama aku menyimpannnya.

 

Kulirik lelakiku yang sedari jam delapan pagi tadi serius memegang kemudi. Wajah lelahnya membuatku iba.

“Minum, ya Mas… biar nggak ngantuk!”kataku.

 

Tak menjawab, ia menyesap beberapa teguk minuman itu.

“Masih tetep panas saja kotamu ini, Sayang!”katanya usai menelan tenggakan terakhirnya.

“Ya… beginilah, Mas…. namanya kota lahar. Kau lihat di seberang jalan ini … kanan tuh mas tanahnya kan berpasir-pasir. Tahun 66 menjadi jalan lahar Kelud.”

“Hm… ya Kau pernah cerita soal itu.”

 

Jalanan macet karena di depan ada lampu merah. Heran sekali aku. Sejak kapan kota kecilku mengalami kemacetan luar biasa seperti lebaran tahun ini. Kendaraan terutama mobil-mobil mewah keluaran tahun 2005 ke atas berplat nomor B, H, atau L bersliweran di kotaku. Adakah mereka para perantau yang mudik untuk menunjukkan suksesnya pada kampung halaman atau semacam demonstrasi untuk menolak anggapan bahwa rakyat di negeri ini hidup di bawah garis kemiskinan?

 

 

Ah…. nafasku semakin sesak. Gedung SMA ku semakin dekat sekarang.

 

Di sini…. ya di sini, detak nafasku semakin kencang, nafasku memburu. Oh…. betapa riuhnya kenangan itu. Sosok lelaki muda, berseragam SMA, bertubuh jangkung, hidung mancung, bibir manis berucap, seperti masih tegak di situ. Melambai padaku.

 

“Adiiis, tunggu aku! Aku ambil motor dulu. Kuantar kau!”

 

Ah… tawaran itu seperti lagu lama selalu terputar tiap kali aku melewati jalan ini. Kalau boleh sungguh ingin aku tak melewati jalan ini. Tapi bagaimana mungkin, ini adalah jalan satu-satunya menuju rumah ibuku.

Aku selalu senang menunggumu mengambil motor. Rumahmu hanya berjarak 400 meter saja dari sekolah. Tak butuh waktu lama untukmu mengambil motor dan segera enemuiku lalu mengantarku hingga jalan ujung desaku. Aku tak pernah berani meski kau paksa, untuk menerima tawaranmu mengantarku sampai ke rumah.

 

“Jangan! Aku takut! Bapakku bisa marah!” selalu itu alasanku.

 

“Tak apa. Aku tak takut! Penasaran aku, seperti apa sich Bapakmu! ” tanyamu penuh rasa percaya diri.

Untung kau selalu mengalah dan tak pernah memaksa. Sungguh…. aku gemetar andai kau nekad. Kau tak tahu bapakku adalah seorang ayah yang protektif. Dia mengajarkan pada kami hadist Nabi yang menyatakan bahwa Allah menyediakan syurga bagi seorang ayah yang berhasil mengantarkan anak gadisnya ke gerbang pernikahan dalam kondisi masih suci: masih perawan. Tapi bagaimana menjelaskan padamu soal itu. Kau pasti sulit mengerti. Bapak selalu mengantar dan menjemputku. Kadang aku pun merasa jengah ketika ada yang mengatakan aku manja dan tak kasihan pada orang tua yang sudah renta. Ketika rasan-rasan itu kusampaikan pada Bapak, bapak justru marah dan mengatakan.

 

“Nduk…. inilah bentuk sayang dan tanggung jawab bapak pada anak gadisnya! Bapak tak ingin ada satu pun orang  yang akan menodai kehormatanmu!”

“Ma… besok kita jadi mampir ke bukit? Anak-anak pengin beli es campur di bawah bukit itu. Siapa tahu lagi musim nanas kita bisa beli banyak buat oleh-oleh,” kata lelakiku membuyarkan lamunanku.

“Boleh, Mas…. sekalian kita nanti mampir ke rumah bulik di sana. Bukankah dua lebaran ini kita tak mampir?” jawabku sambil bertanya balik.

“Iya. Begitu juga baik. Anak-anak masih tidur, ya Ma?”

“Hm… ya. Mungkin lelah Mas. Tiga hari ini kita seperti manusia di atas roda. Silaturrahim ke keluarga kemana-mana. Hah… aku juga capek, Mas,”keluhku.

“Lha…. lha…. kalo mama capek dan ngantuk, terus aku melekan sama siapa Ma?” suamiku mulai lagi.

Aku tersenyum. Selalu begitu, ia jengkel kalau harus terjaga dan menyetir sendirian.

“Tetaplah jadi radioku yang selalu on, Ma,” begitu pintanya selalu ketika kami bepergian jauh bersama.

Aku ketawa mendengarnya memanggilku, “Radioku”. Aku memang cerewet.

 

Pandangan mataku sampai juga ke bukit kecil yang terletak di balik stadion kecamatan. Bukit itu menyimpan kenangan indah bersama lelaki di masa remajaku. Adakah aku pernah menceritakan atau merahasiakan bahwa setiap kali ada tugas upacara hari besar seperti hari kemerdekaan, hari pahlawan, atau hari sumpah pemuda, seringkali aku dan banyak teman SMA-ku, juga lelaki masa remajaku justru ramai-ramai mendaki bukit ketimbang mengikuti upacara. Di bukit itu pula pertama kali engkau dengan kocak menyanyikan sebuah lagu dengan gitarmu. Dua puluh dua tahun lalu tak banyak anak SMA yang mampu memainkan gitar selincah dirimu.

 

“Kau … dengarkan saja laguku. Lalu ciptakan sebuah puisi tentang aku, tentang rinduku, juga mimpiku! “katamu sambil menarik tanganku.

 Aku tersipu. Teman-teman bersorak seru.

 

Aku tahu sudah lama kau naksir padaku. beberapa teman mengatakan padaku. Tak jarang kau titip salam pada Anam, teman sekelasku, yang kebetulan tetanggaku, anak buruh tani yang biasanya bekerja di sawah bapakku.

“Dis…. terima saja! Kau toh tak mungkin dapatkan Yudha! “teriak Ikram.

Sialan! Mengapa Ikram membuka hatiku di hadapan semua orang? Ya…. jujur aku memang naksir Yudha. Sayang dia lebih memilih Anneta.

“Dis…., Kau dengar?”tanya lelaki remajaku.

“Apa?” tanyaku malu.

“Mereka bilang kita cocok jadi pasangan. Bagaimana menurutmu?”

 

Lelaki remajaku menatapku tajam. Aku tertunduk.

“Aku…. aku tak tahu.”

Entah mengapa deburan di dadaku jauh lebih bergelombang dibanding ketika berdekatan dengan Yudha? Apakah aku sudah mulai suka pa….. Ah….. tak tahu!

“Dis….. Kau mau kan jadi pacarku? Semua teman-teman kita datang ke sini dengan pacarnya! Hanya kita yang belom berpacaran. mau ya Dis!” suara lelaki remajaku itu memohon.

Duh…. indahnya saat itu. Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

“Horeee!!!! Adis mau jadi pacarku!”teriakmu pada teman-teman kita.

“Selamat! Akhirnya Kau dapatkan juga hatinya!”kata Ikram sambil tersenyum dan mengedipkan matanya sebelah padamu.

Kau tertawa. Teman-teman cewek menggodaku.

 

Kenangan itu….. betapa selalu datang mengharu biru tiap tatap mataku terantuk pada bukit kecil di balik stadion dekat pasar kecamatan. Ah….

 

“Ma…. bangunkan anak-anak, bentar lagi sampai Nih!” kata-kata suamiku seperti membangunkanku dari mimpi panjang masa laluku.

 

Semoga saja suamiku tak mendengar putaran film kenangan masa lalu yang begitu nyaring beredar di otak dan hatiku.

@@@@@

 

Hampir semalaman aku tak bisa tidur. Entah kenapa bayangan lelaki masa remajaku seperti mencengkeram mataku hingga tak mampu terpicing sejenak pun. Beberapa kali suamiku bertanya mengapa aku gelisah dan tak segera tidur.

 

Di ruang tamu ketemui ibu sedang membaca majalah.

“Bu…. pohon jambu di halaman samping masih kerap berbuahkah?”tanyaku.

“Iya… syukurlah. Buahnya masih banyak dan tetep manis. Itu kenang-kenangan terakhir dari bapakmu. Sebelum meninggal bapak berpesan pada ibu agar merawatnya. “

 

Aku keluar halaman samping. Kupandangi pohon jambu air yang tadi kami bicarakan. Bulan seiris di langit memang tak terlalu cerah, tetapi bintang yang bertabur mencipta siluet indah pada bayang-bayang pohon jambu air, rambutan, duku, juga kelapa yang berbaris-baris di sepanajang kebun peninggalan bapak.

Di bawah jambu air itu dulu, lelaki remajaku pertama kali datang ke rumah ini, juga terakhir kalinya.

 

“Namamu siapa?”tanya bapak dengan suara dingin dan datar padamu.

Aku gemetar.

“Daniel, Pak!”katamu dengan suara tenang.

Hebat, pujiku dalam hati.

“Kau ngaji dimana? Kitab apa yang sekarang sedang kau pelajari?”

“Hm…. anu…. anu…. Pak….,”tiba-tiba suaramu menghilang.

“Abah…. anak-anak sudah siap,..”tiba-tiba seorang santri bapakku memanggil bapakku.

Hm… kudongakkan wajahku ke langit. Sekitar jam 4. Saatnya shalat ashar lalu mengaji kitab.

“Pulanglah! Belajarlah dan mengajilah!”bapak mengusirmu dengan halus.

Kau tak berani menatapku juga menatap bapakku.

“Aku pulang, katamu!”

 

Lalu kau melarikan motormu dengan cepat. Suara motormu meraung keras seperti kemarahanmu pada sikap bapakku.

@@@@@

 

“Mas…. kita mampir ke rumah temanku, ya? Ya kangen juga bertemu teman lama. Hampir 22 tahun aku tak bertemu dengannya. Rumahnya kan tinggal belok saja,”kataku pada suamiku dalam perjalanan balik ke kota.

“Ya… baik. Ide yang bagus Ma… Sambil menjalin tali silaturrahim.”

Syukurlah.

 

Rumah ini…. tak banyak perubahan. Pohon mangga di halaman rumah ini masih tetap ada meski lebih rimbun dan tua. Aku dulu suka diam-diam melewati rumah ini hanya sekedar ingin melihat wajah dan senyummu. Namun tak pernah ada keberanianku untuk mampir . Aku tak mau lebih menyakiti hatiku.

 

Untunglah kau sedang ke rumah ini. Ternyata kau tak lagi tinggal di rumah ini. kau tinggal di kota istrimu, Kediri.

“Hm…. hampir saja aku lupa padamu, Dis! Sekarang kau jadi gemuk!”katamu mengomentari penampilanku sambil menjabat tanganku.

“Kau bisa saja. Kenalkan ini suamiku, Ahmed…,”kataku.

 

Kau menjabat tangan suamiku.

 Seorang anak kecil berusia 3 tahun berlari ke arahmu.

“Papa…, papa….”

“Kenalkan…. Ini jagoanku,”katamu.

“Oh ya…. berapa? Aku empat… Ini yang pertama, …..”ceritaku panjang lebar sambil memperkenalkan satu-satu anakku.

“Hahaha aku selalu kalah darimu, Dis! Kau selalu menang! Kamu tahu Mas, istrimu ini dulu bintang pelajar di SMA kami. Dia hebat! Jago baca puisi dan pidato. Aku tak pernah menang melawannya,”ceritamu pada suamiku.

Suamiku seperti biasanya hanya tersenyum tipis.

“Oh iya…. mana istrimu?”tanyaku akhirnya.

“Rien….. ,” panggilnya.

 

Seorang perempuan berusia sekitar 45 tahunan muncul dari arah dapur.

“Ini istriku,”kata lelaki masa remajaku.

“Riena, Mbak…”, kata istrimu.

 

Ini istrimu? Perempuan tanpa style dan kecantikan ini istrimu? Ia tidak seksi dan tak lagi muda bukan? Mungkin usianya 7 tahun di atasmu. Perempuan tanpa keistimewaan apa-apa?

“Kami baru menikah empat tahun lalu. Kami bertemu di Malaysia. Ya…. aku kan cuma TKI dan istriku juga hanya TKW. Tak sepertimu yang sekarang sudah jadi orang di kota.” ceritamu dengan suara kalah.

“Alah…. sama saja. Kau lihatlah secara materi kau lebih hebat!”

Bukankah tadi kau sempat bercerita betapa menjelang lebaran seperti ini harga mobil merangkak naik. Terpaksa kau beli juga meski harganya selisih hampir 15 juta dibanding sebelum puasa.  Honda CRV hitam mengkilat bertahun 2010 akhir bertengger di halaman rumahmu.

 

Diam-diam bergantian kupandangi suamiku dan lelaki masa remajaku. Hati-hati sekali ingin kupahatkan ketetapan batinku bahwa suamiku adalah segalanya bagiku. Dia lebih baik  dari pada engkau.Ia jauh lebih tampan dan bersih. Suamiku juga jauh lebih berpendidikan, dan memiliki kedudukan yang lebih bagus dari pada kau. Dia juga jauh lebih sabar dan penuh kasih padaku.

 

“Kita pamit. Nanti kita kemalaman di jalan,” ajak suamiku tiba-tiba.

Kami pun pamit pulang.

Aku pulang dengan kemenangan di tangan. Di hatiku kini telah permanen kupahatkan bahwa lelakiku kini, suamiku adalah pilihan yang tepat. Lelaki masa remajaku tak ada apa-apanya dibanding suamiku.

@@@@@

 

Sepanjang jalan pulang ke rumah ada dua pertanyaan besar yang masih menggantung di hatiku.

 

Pertama soal kata-katamu pada Ikranm di kamar mandi sekolah kita sore itu.

“Oke aku kalah! Aku tak bisa mengajak Adis ke bioskop. Tapi kan aku telah berhasil memacarinya! Jadi kalian harus tetap bayar aku!”katamu.

Ya Tuhan, sakit sekali hatiku mendengar percakapan itu.

“Ya…. berarti bayarannya tinggal separoh, tinggal 25 ribu saja. Nih ambil uangnya!”kata Ikram padamu.

Aku tahan-tahan tangisku waktu itu. Hampir saja aku berlari padamu lalu menghantam wajahmu dengan kerikil, dengan batu, atau palu besi sekalian agar aku dapat menghancurkan wajahmu yang tampan.

“Ikraaaaaaaaaaaaaaaaam! Katakan padaku! Apa arti taruhan itu?” kataku.

Pias sekali wajah Ikram saat itu.

“Sory Dis.,…. aku tak bermaksud menyakitimu….” suara Ikram bergetar.

“Ceritakan padaku! Ceritakan! “suaraku menggigil tapi tegas.

“Kami…. kami taruhan akan membayar Daniel 50 ribu jika ia dapat memacarimu dan bisa mengajakmu nonton bioskop. Karena…. karena …”

“Karena apa?” tanyaku ngotot.

“Karena Kau sok alim! Karena Kau bilang tak mau pacaran! Karena bapakmu kolot! Kami tertantang!” ujar Ikram mengakhiri ceritanya.

 

Tak perlu kuceritakan betapa sakit hatiku. Betapa berdarah-darah perasaanku. Rasa cinta pada lelaki masa remajaku yang berlainan keyakinan yang kusadari sebagai sebuah kesalahan itu ternyata terbukti adalah : SEBUAH KESALAHAN BESAR!!!!

 

Sejak itu aku membencimu. Menjauhimu. Meski Kau sempat minta maaf dan berkirim surat padaku. Kau bilang di awal memang hanya tertarik untuk memenangkan taruhan itu, tapi pada akhirnya kau benar-benar mencintaiku. Jangankan mengajakku nonton, untuk apel ke rumahku saja Kau bilang tak bisa karena bapakku.

 

“Aku lelah harus senantiasa memendam keinginan untuk jalan berdua denganmu. Sesekali ingin juga aku menciummu,” begitu tulismu pada surat terakhirmu yang kubakar langsung dengan lilin sisa kue ulang tahun yang kaukirimkan dua bulan sebelum pertengkaran itu.

 

: Aneh…. tak lagi sesak dadaku mengingat luka itu. Aku tersenyum bahagia menatap wajah teduh lelaki masa kiniku, suamiku, yang masih tetap serius memegang kemudi di sampingku.

 

Kedua, tentang istrimu. Sungguh tak hanya karena tampilan fisiknya dan perbedaan usia kalian saja yang membuatku kaget, tapi dia bukan Hanni, siswa kelas III IPS yang kau pacari tiga bulan setelah kita putus dulu itu. Kudengar pada hari perpisahan kita kalian menikah sebab Hanni telah dua bulan mengandung anakmu. Kemana Hanni, kemana anakmu itu dulu?

 

“Kita mampir makan dulu, Ma…. sambil istirahat. Aku lelah!” ajak suamiku.

Wajahnya yang basah oleh keringat tak membuatnya mengeluh untuk menggendong anak terkecilku. Selalu begitu. Ia tak mengizinkan aku menggendong anak-anakku, takut aku akan keberatan dan jatuh sakit karenanya.

Aku tersenyum bahagia menatap wajahnya. Aku tahu Tuhan telah memberi lelaki yang terbaik untukku.

 

Kami turun di rumah makan di perbatasan kota. Sambil menunggu sajian yang kami pesan, kupijat punggung nya dengan penuh kasih dan mesra. Kuhapus keringatnya.

“Aku tahu…. Kaulah lelaki terbaik yang dianugerahkan Tuhan padaku,” akhirnya terbaca juga pahatan kalimat itu di hatiku.

 

(Yang lain silakan baca….. freee koment dan diminta meninggalkan jejak)

2 thoughts on “MEMAHAT LELAKI

  1. lelakimu hebat, dan insyaallah lelakiku kini juga hebat pula,,,,memang indah kenangan masa lalu itu cyn…tapi itu ya cm masa lalu, seindah apapun itu ya cm masa lalu…akan tetap lebih indah masa sekarang krn nyata dan utk selamanya….salam buat lelakimu kini ya cyn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s