MEMBACA HUJAN


(Ini adalah salah satu cerpenku, bisa dikatakan cerpen unggulan, dalam kumcerku “Membaca Hujan” yang menang dalam lomba Kumcerku di Leutikaprio. hanya dijual online)

Aku menyukai hujan sejak kecil hingga kini saat usiaku mulai merambat senja. Saat hujan, aku selalu suka duduk diam-diam di balik jendela kamarku yang buram, untuk membaca cerita apa yang ditulis hujan hari ini. Bagiku hujan selalu membawa cerita baru. Tak pernah ada yang tahu mengapa aku mencintai hujan, bahkan lelakiku dan anakku. Tapi kini, sebelum genangan hujan merembes ke kuburku dan menghanyutkan remah-remah tulangku kelak, biarlah kuceritakan pada Kalian, mengapa aku begitu mencintai hujan. Pun, aku ingin Kalian tahu cerita apa saja yang telah kudapat dari hujan. Aku sadar, tak semua orang mampu membaca hujan.

Dulu, waktu kecil nenekku selalu bilang bahwa hujan adalah tangis langit dan malaikat. Langit menangis ketika setan-setan berhasil mendobrak pintunya lalu lepas. Setan-setan itu berteriak-teriak sambil memukul genderang berbunyi tak beraturan. Kita mendengarnya sebagai guntur atau geledek yang memekakan telinga bahkan menegakkan bulu roma. Wajar bukan jika Kalian sering merinding atau meringkuk ketakutan saat geledek atau guntur menggelegar. Suara-suara itu adalah genderang yang dipukul para setan untuk merayakan kebebasan. Langit menangis merasa bersalah tak bisa mencegah setan lepas dari penjaranya. Ia menangis saat membayangkan betapa manusia terancam godaan setan. Tapi apa daya, ia tak punya kaki atau sayap untuk mengejar dan menangkap setan kembali dalam penjara langitnya. Jadi, langit membiarkan matahari, bintang, dan bulan meminjam wajahnya untuk menerangi manusia agar dapat membedakan hitam dan putih dalam terang. Namun, langit masih meneteskan air matanya.

Melihat langit menangis, para malaikat pun ikut berduka. Seperti kapas diterbangkan angin, mereka berhamburan mengejar setan. Para malaikat yang tercipta dari cahaya itu memendarkan cahaya-cahaya indah di antara rinai tangis langit. Bayangan mereka sering terlukis pada pelangi yang berwarna-warni. Dengan cambuk dan cemeti yang terbuat dari api neraka, mereka memburu setan. Selain Tuhan, hanya malaikat yang bisa melihat dan menyentuh setan. Malaikat dan setan sama-sama mahluk ghaib yang tak kasat mata. Saat air mata langit tertumpah, kilat menyambar-nyambar bahkan tak jarang ada satu dua anak manusia terkena kilatannya hingga terbakar, gosong, sampai meninggal. Kilat yang menyambar itu adalah kilatan cambuk dan cemeti malaikat yang dilemparkan pada setan.

“Berdoalah,” begitu nasihat nenekku dulu, “agar kilatan itu tak menyambar tubuhmu, dan setan dapat tertangkap malaikat”.

Hingga kini, aku suka merapal alfatihah, surat pembuka Al-Quran saat kulihat kilat menyambar dan kudengar guntur menggelegar. Doaku semoga malaikat memenangkan pertempuran yang berlangsung sepanjang jaman itu.

Guru mengajiku mengatakan hal yang beda tentang hujan. Hujan itu berkah Allah dari langit, katanya suatu kali ketika kuminta doa padanya. Sore itu usai mengaji di mushalla samping rumah,, hujan tak kunjung reda. Guruh menggelegar dan kilat menyambar-nyambar.

“Ajari aku doa mustajab,”pintaku pada guru ngajiku. Aku ingin sekali mendoakan para malaikat hingga mereka dapat menangkap setan dan iblis yang menabuh genderang perang. Kuingat betul bagaimana mata ustadzku yang mulai renta itu hampir lepas saat mendengar kata-kataku. Dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran ia menjelaskan padaku tentang hujan. Ia juga mengajarkan padaku doa yang harus dibaca saat hujan. Aku selalu percaya pada semua yang ia ajarkan. Matanya yang teduh dan suaranya yang lembut, membuatku yakin ia tak pernah berdusta. Namun, karena malas, jarang-jarang saja kuamalkan doa yang ia ajarkan.

Lain nenek dan guru ngajiku, ibuku mengatakan padaku bahwa hujan datang menulis cerita lewat tetes-tetes air. Ibu mengatakannya padaku suatu sore ketika lampu listrik di kampung kami padam hingga malam. Aku ingat sepanjang sore hingga malam dan tertidur aku tak mau lepas dari pelukan ibu. Aku takut gelap. Aku takut saat terang kilat menerobos masuk lewat lubang ventilasi rumah mungil kami. Kubayangkan setan-setan dapat melihatku dengan cahaya kilat itu, lalu mereka akan menangkap dan memangsaku ramai-ramai. Awalnya berkali-kali ibu mengatakan padaku agar duduk sendiri di sampingnya.

“Kau sudah besar, masak masih minta dipeluk-peluk,” katanya padaku sambil mencubit pipiku.

Aku tahu ibu sangat sayang padaku karenanya semakin kueratkan pelukanku padanya. Apalagi saat kilat kembali menyambar dan guruh menggelegar. Tubuhku menggigil, gigiku bergemeretak, kaki dan tanganku bergetar. Kau sakit, kata ibu seperti tersadar. Tidak, Bu, aku takut setan akan menyambarku dan mengunyah tubuhku, jawabku sambil semakin dalam menyusupkan diri ke dada ibu yang hangat.

Ibu mengelus rambutku, meredam rasa takutku.

“Setan tak menculik anak baik dan pintar,” katanya.

Aku percaya kata-kata ibu seperti selama ini aku mempercayai ibu adalah bidadari yang dikirim Allah untukku.

Kata ibu hujan selalu menulis cerita yang berbeda untuk orang yang berbeda. Hanya orang-orang bermata dan berhati yang mampu membacanya.Aku tak mengerti.. Bukankah setiap orang  bermata, berhati?

Mengapa aku tak bisa membaca cerita yang dibawa hujan, tanyaku sambil menatap wajahnya yang tinggal bayang-bayang hitam.

“ Hanya orang-orang yang hatinya bersih yang dapat membaca cerita yang dibawa hujan dari Tuhan,” katanya lagi.

“Apakah ibu termasuk orang-orang yang bermata itu.”

“Kemarilah,”katanya sambil merengkuhku. “Suatu hari saat Kau besar nanti kau bisa membaca sendiri cerita yang ditulis hujan untukmu.”

Waktu ibu kecil nenek sering mengatakan bahwa hujan membawa kiriman berkah dari Tuhan. Saat hujan reda alangkah senang melihat ikan-ikan bandeng dan udang-udang bertebaran, menggelepar-gelepar di jalanan. Bersama teman-temannya, ibu mengumpulkan ikan dan udang. Air menjadi tangan hujan, mengirim bandeng dan udang dari tambak-tambak petani. Tapi, bukankah para petani menjadi rugi karena air membawa ikan dan udangnya untuk kita, tanya ibu pada nenek. Banyak petani tambak tak bermata, tak berhati. Mereka tak melihat orang-orang melarat hidup sekarat di sekitar tambaknya, hatinya mati. Mereka juga tak bisa membaca pesan yang dikirim hujan lewat rinai gerimis.

Hujan pula yang menyelamatkan desa nenek dari kekeringan. Kata ibu di kampungnya dulu tumbuh-tumbuhan tumbuh subur, rimbun, dan berdiri menjulang. Namun, setelah tambang emas ditemukan di sana, pohon-pohon ditumbangkan satu-satu, tanpa pernah digantikan dengan tumbuhan baru. Kampung menjadi panas. Sumber-sumber air kering. Hampir sembilan bulan tak ada hujan. Satu-satunya sumber air ada di kebun Pak Lurah. Ratusan warga antri dari pagi hingga petang, untuk mendapat seember dua ember air untuk masak. Mandi tak lagi kami pikirkan. Sisa air di sungai pinggir desa yang keruh menjadi rebutan orang dan hewan peliharaan. Sering ibu melihat para ibu mencuci di sana, berbaur jadi satu dengan sapi dan kerbau yang berendam dan minum di sana. Tak ada rasa jijik lagi. Tak ada pilihan. Hingga upacara mohon hujan digelar dimana-mana. Seseorang bertelanjang dada dilecut dan dicambuk berkali-kali hingga dari tubuhnya mengalir darah. Mereka menyebutnya “tiban”. Katanya, darah yang mengucur itu persembahan pada tanah agar iba lalu kembali memancarkan air dari mata airnya. Darah itu juga menjadi persembahan pada langit. Langit juga bermata katanya. Ia takkan tega melihat manusia yang dipayunginya dari hujan meteor menjerit kesakitan dan berdarah-darah. Bila ia tak sanggup menahan sedihnya, ia akan menangis. Air matanya akan tumpah dan hujan akan tercurah.

Begitulah ibu bercerita padaku tentang cerita hujan yang ia baca. Tak sempat kutanyakan pada ibu apakah benar air mata langit tumpah saat melihat darah manusia dikucurkan? Menyesal aku kenapa dulu tak kutanyakan. Sering kudengar tentang hujan yang tumpah melimpah hingga banjir menggenang di negeriku setelah darah sesama saudara ditumpahkan. Ataukah langit menangis melihat keserakahan yang semakin merambah kemana-mana. Andai ibu tak pergi ke langit saat hujan gerimis, ia pasti bisa menjawab kegundahanku.

Untunglah, ibu telah mengajarkan padaku bagaimana membaca hujan.

“Buka hatimu, dengarkan rintiknya dengan hati, lihatlah derai-derainya dengan hati, dan rsakan dinginnya dengan hati,” kata ibu sehari sebelum menutup mata. “Kau akan dapat mengerti cerita apa yang ditulis hujan untukmu, kau akan paham pesan yang dikirim hujan dalam tanda-tanda.”

Ibu meyakinkan padaku bahwa hati juga punya mata, telinga, dan kulit untuk meraba. Ibu mengajarkan aku melihat, membaca, dan meraba dengan hati.

Hingga suatu hari saat usiaku genap 29 tahun, hujan gerimis mengirim tanda-tanda tentang seorang lelaki yang akan menguasai hatiku. Saat itu, kuingat benar, aku baru saja pulang kantor tepat jam lima sore. Seperti biasa aku menunggu bus di halte. Sayang hujan terlanjur turun. Tak deras memang, tetapi jarak sekitar dua puluh lima meter dari pagar kantor ke halte pasti akan membuatku basah kuyup. Tapi, menunggu hujan reda lebih tak mungkin. Bisa-bisa aku akan kemalaman sampai ke rumah. Jarak rumah sewaku dengan perusahaan hampir lima belas kilometer. Jalanan yang sering macet membuat jarak tempuh semakin jauh. Akhirnya, tanpa berpikir soal baju basah, aku berlari-lari tanpa payung atau penutup kepala ke halte bus terdekat. Dalam hati aku mengadu pada hujan, ah seandainya ada seorang lelaki yang memelukku saat hujan begini, tentu takjadi soal berbasah-basah. Takkan kuhiraukan dingin yang memeluk kulitku. Bukankah hingga usia sematang ini dingin dan sepi menjadi teman setia malam-malamku.

Aku memekik lirih, ketika tiba-tiba sepasang tangan memeluk bahuku kuat sekali. Kulihat sekilas, tangan kekar itu milik lelaki berwajah lembut dengan senyum menawan. Apakah hujan mendengar keluhku?

Hujan tak hanya mengirimkan lelakiku dalam hidupku. Ia juga menjemput paksa lelakiku dari pelukanku di pagi subuh. Subuh itu kuingat benar, seperti baru kemarin saja, lelakiku meminta dikerok punggungnya. Badannya remuk redam, katanya. Sesiangan ia mengawasi para kuli mengangkut pasir dan batu-batu. Tak hanya hari itu saja, tapi setiap hari, begitulah ia bekerja sebagai mandor pada proyek pembangunan sebuah vila.

Di sekitar rumah kami tinggal kini bertebaran vila dan tempat hiburan bahkan hingga di tepian danau. Lingkungan yang dulu hijau, sejuk, dan rimbun perlahan manjadi panas. Meski jumlah pengunjung yang ingin berwisata di danau peninggalan Belanda itu semakin bertambah jumlahnya. Kotaku jadi ramai, namun sepi rindang pepohonan.

Subuh itu di antara deras hujan yangmengguyur semalaman, kudengar suara bergemuruh. Kukira itu suara setan. Bergegas kusurukkan kepalaku dalam hangat dada suamiku. Anakku yang masih berumur lima tahun meringkuk di sampingku. Wajahnya tenang, tanpa beban. Mungkin malaikat penjaga surga sedang menunjukkan padanya keindahan surga. Suara gemuruh itu semakin jelas terdengar, semakin dekat, dan semakin menakutkan. Kudengar suara orang-orang berteriak takut dan panik, banjir-banjir….. Bergegas kubangunkan lelakiku. Tanpa baju, hanya bersarung saja ia berlari menarik tanganku. Belum sampai pintu aku menjerit.

“Anak kita, anak kita!”

Tuhan, kami lupakan buah cinta kami.

“Larilah, biar kuambil Lanang dan kususul Engkau,”katanya sambil segera berlari ke dalam rumah.

Aku nurut saja sebab kutahu ia lelaki perkasa, tak mudah panik, dan cukup kuat berlari mengejar aku.

Sayang banjir lebih cepat datang. Ia menghantam dan menghanyutkan apa saja, juga rumahku, lelakiku, dan anak lelakiku. Entah berapa banyak jeritku memanggil mereka, yang kuingat hanya aku sampai tak mampu berkata-kata. Kesedihanku menelan semua kata dan suaraku. Bahkan, air mataku telah kering tak bersisa. Hujan mengirim air untuk menjemput lelakiku dan anak lelakiku. Ia membawa keduanya entah kemana.

Hingga sepekan petugas mencari, mengaduk-aduk tanah di bekas rumahku yang tinggal setengah, keduanya tak pernah ditemukan. Hingga kini. Kadang aku seperti mendengar suara hujan berbisik saat senja.

“Lelakimu kuambil karena ia membantu orang-orang merusak alamku, menebang rimbun pepohonan, membuat danau semakin dangkal,” katanya.

Aku tahu itu, aku tahu. Vila dan hotel yang seperti jamur tumbuh usai hujan, pelan-pelan mendangkalkan danau kami. Perahu-perahu wisata semakin jarang berlayar. Debit air minum yang berasal dari danau itu sering berkurang. Udara menjadi panas menyesakkan.

“Pernahkah kamu, juga suamimu, dan saudara manusiamu berpikir bahwa air di danaumu mengadu padaku tentang dukanya betapa Kalian sungguh aniaya padanya,” seperti mitraliyur titik-titik hujan itu memborbardirku dengan berbagai pertanyaan.

Aku tahu, aku tahu karena ulah kami juga langit manangis dan menderaskan hujan. Danau juga marah pada manusia. Tapi kenapa harus suamiku yang dibawa hujan? Bukankah ia hanya bekerja, demi kami keluarganya. Mengapa bukan para penguasa yang berkuasa atas segalanya.

“Uang bisa membeli semua, bahkan nyawa pun,” jawab hujan sambil meringis.

Kalau suatu hari kau melihat seorang perempuan, duduk diam di balik jendela kamar buram, sambil menatap hujan sedemikian kelam, ketahuilah, ia adalah aku. Perempuan yang setia membaca hujan. Aku percaya, suatu hari hujan pasti menulis cerita indah untukku. Ia pasti meminjam tangan air untuk mengirim lelakiku kembali. Mungkin juga, ia akan menjemputku untuk menemui anak lelakiku dan lelakiku di suatu tempat. Entah dimana. Tapi aku percaya, hujan telah menyiapkan satu cerita untukku.

 

 

6 thoughts on “MEMBACA HUJAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s