KAMBING UNTUK IBU


KAMBING UNTUK IBU

Faradina Izdhihary)

 

Tengah malam, Rukiah terbangun. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ini malam ke sepuluh ia mimpi yang sama. Mimpi melihat ibunya duduk lesu di pinggir sebuah jembatan yang melintasi sebuah sungai. Sebuah sungai panjang dan dalam. Dasarnya tidak berupa air, tetapi bara api yang nyalanya memerahkan langit. Dan jembatan itu, hanya seperti sebuah garis kecil yang tipis, nyaris tak terlihat bila tidak dengan konsentrasi tinggi menatapnya.

Ibunya tampak sangat muram. Bibirnya terkunci rapat. Namun, matanya yang redup seperti menyiratkan pesan, “Aku ingin menyeberang ke sana.”

Sesekali tampak orang-orang menyeberangi sungai besar itu dengan berkendara kambing, sapi, atau onta. Dilihatnya sang ibu berkali-kali menyapa para pengendara binatang ternak itu seakan-akan hendak ikut menumpang. Tapi selalu gagal. Binatang itu tak lagi mampu menampung penumpang baru.

Di seberang sungai terdengar pesta gempita. Orang-orang yang telah berhasil menyeberang berteriak, tertawa, dan bernyanyi kegirangan. Kebahagiaan itu sangat kontras dengan wajah ibu dan orang-orang yang sama-sama tak bias menyeberangi sungai.

Ibu dan orang-orang malang lainnya menunggu. Menunggu bila tiba-tiba ada kiriman kendaraan yang dapat mereka gunakan untuk menyeberang.

Terkadang, karena tak sabar ibunya mencoba meniti jembatan kecil itu. Tetapi kengerian tampak  jelas di wajahnya. Mustahil ia mampu menyeberangi jembatan  yang hanya berupa kilatan cahaya kecil yang terbentang dari sisi sungai tempat ibu terduduk ke ujung sungai lain. Tetapi sayang, baru sebelah kaki diinjakkan ke jembatan itu, tubuh ibu tergoncang hebat. Hingga kedua tangannya harus bergelantungan pada tali kecil yang tak terlihat itu. Susah payah ibu kemudian merangkak kembali ke sisi sungai.

Tangannya berdarah, matanya sendu. Menunggu.

Rukiah tahu. Ibunya menunggu kiriman darinya.

****

Kambing jantan itu tak terlalu gemuk, juga tak kurus. Ia biasa saja. Tapi, sorot matanya… Entahlah, Rukiah tak sanggup berlama-lama menatapnya. Seperti tatapan seorang ibu yang merindukan anak-anaknya. Mendadak Rukiah bergidik. Ia seperti melihat sinar mata ibu pada mata kambing itu.

Rukiah lalu beralih pada kambing-kambing lainnya. Banyak pilihan kambing powel[1] ditawarkan orang untuk dijadikan binatang korban. Rukiah, juga pembeli-pembeli lain, bebas memilih dan menawar sesuai dengan ketebalan isi kantungnya. Mungkin juga ketebalan niat untuk berkorban. Atau bisa juga kebesaran gengsi orangnya.

Rukiah meraba saku celananya. Ada dua belas lembar ratusan rupiah yang kemarin baru ia terima dari bendahara sekolah. Tabungan seratus ribu tiap bulan itu ia niatkan untuk membeli kambing, Bakal binatang korban tahun depan. Calon kendaraannya menyeberangi jembatan shiratal mustaqim, kelak.

Pandangan mata Rukiah terpaku pada seekor kambing jantan yang lumayan besar. Sejuta tiga ratus ribu, itu harga yang tertulis pada kertas yang dikalungkan di leher kambing. Rukiah mendesah.

Kambing jantan bermata ibu itu tiba-tiba mendekat ke arah Rukiah. Ia mendongakkan lehernya. Seakan hendak memperlihatkan pada Rukiah harga yang tertera di lehernya. Sejuta dua ratus ribu rupiah. Persis seperti jumlah uang yang ada di sakunya. Haruskah aku menyerah?

Rukiah nekad menawar.

“Yang ini boleh kurang seratus ya, Kang?”

“Tak bisa, Ibu. Harga kulaknya pun tak boleh,” jawab sang pedagang.

Rukiah mengangguk lesu. Pandangan matanya berpindah-pindah dari kambing sejuta tiga ratus rupiah ke kambing sejuta dua ratus rupiah. Sekali lagi, kambing sejuta dua ratus rupiah itu menatapnya penuh harap. Tatapan mata yang seolah berkata, pilih aku saja. Rukiah bergidik. Seperti ada yang memaksanya mengeluarkan  seluruh uang di saku celananya.

“Ya sudah, Pak. Saya pilih yang itu saja.”

Kambing sejuta dua ratus rupiah itu pun mengembik riang. Rukiah seperti melihat sayap malaikat tiba-tiba bertumbuh di punggung kambing itu. Entahlah…

***

Rukiah tergeragap bangun. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat.

Dalam mimpinya kali ini ia melihat ibunya menaiki punggung kambing yang bulu-bulunya bercahaya. Di punggung kambing itu tumbuh dua sayap besar yang membuatnya bisa terbang. Mata kambing itu serupa benar dengan mata kambing yang ia serahkan pada panitia iedul qurban di masjid perumahannya.

“Kambing ini untuk korban atas nama almarhumah ibu saya,” begitu akad yang disampaikan Rukiah tadi pagi.

Ketika menuntun kambing sejuta dua ratus rupiah tadi pagi ke masjid, tiba-tiba saja Rukiah ingat almarhumah ibunya. Perempuan yang menggadaikan seluruh hidupnya untuk membesarkan Rukiah. Perempuan yang rela bertahun menjadi pengasuh anak-anak Rukiyah setelah ditinggal minggat oleh lelakinya.

Tatapan mata kambing itu, suara embekannya yang lirih seperti mengingatkannya kembali pada ibunya. Ibunya yang tiap kali menerima daging kambing saat hari raya qurban datang, selalu mengucurkan air mata.

“Kenapa ibu menangis?” tanya Rukiah suatu kali.

“Ibu iri pada mereka yang berkorban, nduk. Entah kapan ibu menjadi orang yang memberi, bukan yang menerima,” kata ibu masih sambil bercucuran air mata.

Dan seperti biasanya, Rukiah hanya mampu menderaikan air matanya. Saat itu, gajinya sebagai guru honorer masih jauh dari cukup untuk hidup sekalipun sederhana apalagi untuk membeli binatang korban. Tapi ia bertekad, suatu hari, entah kapan, ia akan mewujudkan impian ibunya jadi nyata. Sayang hingga maut menjemput ibunya, Rukiah belum sanggup memenuhi impian ibunya.

Rukiah tersenyum bahagia. Ia masih ingat senyum ibu demikian bahagia saat tadi melambaikan tangan padanya. Ibu menyeberangi jembatan sepertujuh belahan rambut itu dengan mengendarai kambing sejuta dua ratus ribu rupiah.

 


[1] Powel: cukup umur untuk disembelih sebagai binatang korban

One thought on “KAMBING UNTUK IBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s